Senin, 11 April 2016

Download Drama Korea Descendants of The Sun

Drama Korea Descendants of the Sun Subtitle Indonesia

Descendants of the Sun (subtitle indonesia) adalah drama tv korea yang bergenre melodrama dan romance, yang disutradarai oleh Lee Eung-Bok dan dibintangi salah satu mantan member running man yaitu Song Joong Ki sekaligus menjadi pemeran utama dalam drama ini, dan beberapa lagi aktris pemerannya adalah Song Hye Kyo, Jin Goo, Kim Ji Won, Kang Shin Il. Descendants of the Sun tayang di KBS2 sebenayk 16 episode dan akan mulai tayang dari tanggal 24 februari. Descendants of the Sun tayang setiap hari rabu dan kamis pada pukul 22:00 (KST).
Pasukan penjagan perdamaian dunia atau PBB mengirimkan pasukannya ke negara yang dilanda perang bekepanjangan, Kapten Yoo Shi Jin (Song Jong Ki) merupakan salah satunya yang betugas memimpin tim unit Special Warfare Command, Dia bertemu dengan Kang Mo Yun (Song Hye Kyo) merupakan seorang dokter relawan, saat mereka bekerja sama pada daerah yang dilanda penyakit, Sho Yoh dan Mo Yun sering terlibat pertengkaran.

Descendants of the Sun

Drama: Descendants of the Sun (English & literal title)
Revised romanization: Taeyangui Hooye
Bahasa Korea: 태양의 후예
Sutradara: Lee Eung-Bok
Pemain Utama: Song Jong Ki, Song Hye Kyo, Jin Goo, Kim Ji Won, Kang Shin Il
Jumlah Episode: 16
Jaringan Broadcast: KBS2
Periode Tayang: 12 Februari – 14 April 2016
Tayang Setiap Hari Rabu dan Kamis Pukul 22:00 (KST)

Daftar Pemeran

Pemeran Utama
Song Joong Ki sebagai Kapten. Yoo Shi Jin
Song Hye Kyo sebagai Prof. Kang Mo Yun
Jin Goo sebagai Senior Seo Dae Young
Kim Ji Won sebagai Surgeon Yoon Myung Joo
Kang Shin Il sebagai Letnan Jenderal Yoon (ayah Myung Joo)
Tae Baek Army
Kim Byung Chul sebagai Letnan Kolonel Park Byung Soo
Taman Hoon sebagai Sersan Choi Woo Geun
Choi Woong sebagai Staf Sersan Gong Chul Ho
Ahn Bo Hyun sebagai Sersan Im Kwang Nam
Kim Min Suk sebagai Kim Ki Bum
Rumah Sakit Haesung Tim Pelayanan Kesehatan
Lee Seung Joon sebagai Song Sang Hyun (Bedah Umum)
Seo Jung Yun sebagai Ha Ja Ae (Tim Keperawatan ER)
Onew sebagai Lee Chi Hoon (1 tahun Resident Bedah Toraks)
Park Hwan Hee sebagai Choi Min Ji (Suster ER)

Rabu, 25 Februari 2015

Self Publish Gramediana

Mau Jadi Penulis Gramedia??
Ayo Jadi Penulis Sekarang!!
Tayangkan Karya Ciptaan Mu Di Sini gramediana.COM

Silakan Klik gramediana.COM GRATIS!!!

Caranya????

1. Daftar Jadi Member Gramediana.
   
2. Tunggu Email Dari Gramediana dan Verify Email Mu.
3. Log-in Ke Gramediana
4. Klik Self-Publishing dan Mulailah dengan Project Mu.
    Kamu Bisa Langsung Upload Naskah Mu atau Tulis Dari Web Langsung.
   
5. Tunggu Sampai Kamu Dapat Email Konfirmasi Dari Gramediana.
6. Ok! Buku Kamu Dipublish Deh Di Gramediana.
   
Kamu Juga Bisa Membeli Dan Membaca Cuplikan Buku-buku yang Sama Kayak Di Toko Buku Gramedia Loh?!
Dengan Kamu Membeli Buku Dalam Bentuk Ebook, Berarti Kamu Menambah Poin-poin Mengurangi Global Warming. :)



Cara Mendapatkan Kartu Debit MasterCard Gratis Dari Payoneer 2015

Berikut Cara Memesan dan Membuat Kartu Debit Payoneer :

Catatan : Semuanya GRATIS !!!!

1. Klik Daftra 

     Akan  Muncul Beranda Berikut
    
2. Klik Sing Up Now
    Isi Data-data Diri Anda.
 
3. Kemudian Klik Next
    Isi Data-data Selanjutnya
   
4. Klik Next
    Isi Data-data Untuk Keamanan Account Mu.
   
5. Klik Next
   Ok, Langkah Terakhir Adalah Pilih dan Isi No Identitas Diri Bisa Berupa No KTP, Passpord, atau SIM
  
6. Langkah Berikutnya Kamu Akan Mendapatkan Email Dari Payoneer Untuk Menunggu Kartu Debit 
    Kamu Dikirim. 
    Mereka akan memberitahu estimasi kapan kartu kamu akan sampai.
    Estimasi mereka sih biasanya 1-3 minggu.
    Tapi tenang biasanya 1 minggu juga sudah sampai.
    Pengiriman Kartunya FREE!!!...
    Enakkan?

TERUS GEMANA ISINYA???
OK, Next Time Kita Bahas.
Kita Juga Bisa Dapat Uang Kok Dari Sini.
SERIUS!!..  




Rabu, 23 Oktober 2013

KAWAI

Ku persembahkan cerpen ini untuk orang-orang yang gak punya uang atau malas membeli cerpen saya. Dan untuk publisher yang gak mau terima cerpen saya yang sangat panjang ini. wkwkwkwkw.. :D

       Puluhan kaki menanti isyarat si besi abu berkepala lampu, menunggu kencana bermesin berhenti di belakang jajaran noda putih bersusun diatas tanah keras hitam padat. Isyarat merah menyala, kencana terhentikan langkah kaki tergesahkan melewati tanpa ragu di hadapan susunan kencana bermesin. Langkah tak tersurutkan melaju dengan pasti, membawa tubuh menabrak setiap jilatan angin usil menggoda rajutan benang.  Kesejukan masuk menusuk tulang memerangi kehangatan. Melangkah tanpa henti melewati aroma terigu panggang, jejeran pernak-pernik menghiasi toko memanggil mata, hingga melewati jejeran kursi meja berhadapan diduduki para penikmat kopi hangat berkulit putih kemerahan dibatasi gelas putih besar dibawah atap genteng merah tua. Duduk diantaranya seorang gadis bermantel coklat muda,berkulit sawo matang, rambut coklat pirang teruraikan, bibir tipis merah muda memperindah pipinya. Bola mata coklat kehitaman yang penuh melingkar didalam kelopak pelindung, menatap kosong cangkir putih kecil berisi larutan coklat hangat. Tangan halus menopang dagu, satunya memainkan potongan besi kecil dalam cangkir. Gadis tersebut tampak lelah, beberapa kali ia menghembuskan napas dari mulutnya, melihat jam tangannnya, dan menengokkan kepala ke arah kaca besar di mana orang berlalu-lalang di belakang kaca tersebut.Tak jarang suatu suara keluar dari mulutnya yang mungil, “Hah, mereka lama sekali.”

         Jekrek..Jekrek..Jekrek.. Tanpa di sadari oleh gadis itu ada sesosok pria dari kejauhan memperhatikan tingkahlakunya, dan memotretnya. Tempat duduk pria tersebut menyerong dari arah tempat duduk gadis itu, mengenakan mantel berwarna hitam, kulit putih, berambut hitam pendek lurus dan tertatarapih, mata sipit tajam berwarna hitam melukiskan wajahnya yang khas, berhidung mancung, berbibir tipis , bertubuh tegap,  dengan sebuah kamera SLR di tangan dan tali kamera tersebut melilit lehernya. Pandangannya terus tertuju pada gadis itu, tak jarang jari jemarinya memainkan kamera yang digenggamnya untuk memotret gadis itu. Setiap gerakan perubahan dari tubuh gadis itu ia amati dan ia potret.

         Dua orang gadis masuk ke dalam kafe memecahkan keheningan gadis yang sedang termenung menunggu. Sewaktu gadis itu mengalihkan perhatiaannya dari cangkir putih di mejanya , dua orang gadis tersebut  datang menghampirinya,

“Hey, Kiran.” Sapa salah satugadis yang berambut pendek sebahu kriting berwarna coklat, bermata sipit, kulit putih, mengenakan mantel merah marun, dengan sebuah tas kecil digenggamannya dan tanggannya yang lain melambai.

“Hey, Tomoko.”  Jawab Kiran sambil membalas lambaian tangan Tomoko tadi. Ke dua gadis tersebut pun mengarahkan langkahnya menuju Kiran.

“Hey, kenapa hanya Tomoko yang kamu sapa? Aku tidak?”  Tanya gadis yang lainnya dengan dandanan seperti pria. Gadis itu berambut pendek seperti potongan rambut pria dengan warna hitam, bermata sipit, berkulit coklat, dengan sebuah kalung berwarna putih menghiasi lehernya, tas kecil selempang di bahunya, dan bermantel abu-abu. Ke dua gadis tersebut duduk di samping Kiran.

“Ha.ha.ha. Maaf Yoshida. Aku tidak bermaksud untuk tidak menyapa mu.”

“Hah, awas jika lain kali kau tak sapa diri ku lagi.” Ancam Yoshida sambil mengulurkan jari telunjuknya ke arah Kiran

“Ok.” Jawab Kiran dengan tangan ke atas dan jari ibu serta jari telunjuk bersatu membentuk lingkaran.

          Pelayan mendekati tempat Kiran, Tomoko, dan Yoshida duduk. Setelah memberikan daftar menu dan memesannya pelayan pun pergi. Saat menunggu pesanan mereka datang, mereka berbincang-bincang dan bersendaugurau.

“Oya, minggu depan ada acara pameran fotografer loh?!” Ajak Yoshida.

“Hah, kau ini sudah ku duga kau akan berkata seperti itu. Bagi dirri mu tak ada yang lebih menarik dibandingkan dengan fotografer. Aku yakin di tas mu yang kecil itu pasti berisi kameran ya kan?” Sahut Tomoko.

“Tentu saja. Fotografer itu sangat keren, dan aku tidak ingin melewatkan moment indah bersama kalian oleh karena itu aku selalu membawa kamera.”

“Hey apa kau tak tau, teman mu yang satu ini kan tidak suka dan tidak tahu apa-apa mengenai fotografer.” Tomoko mengarahkan jari telunjuknya ke arah Kiran yang sedang meminum secangkir coklat hangat. Mendengar hal itu Kiran hanya menolehkan matanya ke arah Tomoko dan Yoshida, menganggukkan kepala dengan memegang cangkir yang masih berada di mulutnya. Ketika mereka masih berbincang-bincang datanglah pelayan membawakan pesanan mereka.

“Oya, bukan kah kau bilang kau tidak ingin melewatkan moment indah bersama kita? Bagaimana kalau kau mengambil kamera mu dan kita foto?” Ajak Tomoko.

“Ok.”  Yoshida pun mengeluarkan kamera dari tas kecilnya dan meminta pelayan untuk memotret mereka bertiga.

**************************************************************************************

       Matahari masih enggan memancarkan sinar tubuhnya, kabut menghiasi sudut kota, hembusan angin terasa sangat menusuk, burung-burung masih enggan keluar dari pernaungannya untuk bernyanyi. Deringan handphone di atas sebuah meja kecil dengan lampu tidur berbentuk lumba-lumba berwarna biru yang masih menyala berada di sampingnya membangunkan Kiran dari ranjangnya yang nyaman dan hangat. Rasa kantuk yang sangat kuat membuat tubuh Kiran enggan melakukan apa pun dari atas ranjangnya, namun karena deringan hendpone yang semakin keras Kiran terpaksa menggerakkan tangannya untuk menghampri handpone tersebut dengan posisi tidur yang tidak berubah.

       Brukk.... apa daya tangan Kiran tak sampai menggapai handphone tersebut , namun yang terjadi adalah handphone itu terjatuh dan Kiran pun ikut terjatuh karena berusaha menggapai handphone tersebut.  Mata bundar Kiran masih sulit untuk terbuka sehingga hanya segaris bentuk mata yang terbentuk dari mata Kiran. Kiran berusaha mencari tombol berwarna hijau dengan gambar telepon. Akhirnya Kiran menemukan tombol tersebut dan menekannya. Terdengarlah suara riang seorang gadis dari balik handphone tersebut .

“Kiran!! Apa kau sudah bangun?”

      Otak Kiran masih memproses data mengenai suara yang keluar dari handphone tersebut, berpikir siapa pemilik suara tersebut dengan posisi kaki di atas ranjang sedangkan kepalanya berada di lantai.

“Hm..Oh, Yoshida.” Kata Kiran sambil memperbaiki posisinya dan duduk di atas lantai

“Hah, jelas saja aku sudah terbangun. Aku terbangun itu juga karena suara mu yang begitu keras dan deringan dari telepon mu.” Lanjut Kiran dengan suara kesal karena mimpinya yang indah seketika berakhir oleh deringan telepon dari Yoshida.

“Ha.ha.ha. Ayo bangun. Kau harus cepat bersiap-siap.”

“Hah? Bersiap ke mana?” Tanya Kiran dengan muka bingung dan tangannya sebelah menggaruk kepalanya.

“Hey, kau lupa? Hari ini kita akan pergi ke pameran fotografi di Shibuya.”

       Tampaknya otak Kiran masih belum penuh saat ini, otaknya sedang berusaha menyambung memori-memori yang telah tersimpan dan menggali ulang.

“Hm....Oh, iya benar. Aku lupa.”

“Hah kau ini, meskipun kau tidak menyukai fotografi seharusnya kau tidak bersikap sseperti itu. Kau harus mendukung hoby teman mu ini.”

“Baiklah, maaf kan aku. Aku lupa.”

“Ok ku maaf kan. Cepat siap-siap. Kau tau dari apartement mu itu menuju Shibuya butuh waktu yang cukup lama.”

“Iya baik. Tapi kau terlalu pagi menelepon ku. Bahkan burung pun belum terbangun dari pernaungannya.” Kata Kiran membela diri dengan tubuh yang bangkit dari lantai menuju jendela besar dan membuka gorden berwarna putih bersih.

“Ha.ha.ha. Maaf maaf. Engkau tau kan bagaimana temanmu ini terhadap acara-acara berbau fotografi?”

“Iya, tak boleh satu pun ditinggalkan atau pun terlewatkan bukan?”

“Ya betul.”

“Baik lah, tunggu aku di sana.”

      Sang surya mulai memancarkan terang dan hangat tubuhnya, burung pun bernyanyi menyambut sinarnya, terpaan angin lembut tak membuat orang-orang enggan untuk beraktifitas. Gedung-gedung pencakar langit di sisi jalan mulai menunjukkan aktivitasnya, toko-toko bertuliskan sale mulai didatangi pengunjung, tak banyak mesin berroda empat maupun dua memadati jalan namun hanya pejalan kaki yang memadati tepi jalan terutama mereka yang di sebut kaum muda dengan mengenakan pakaian yang mungkin menurut banyak orang aneh dan seronok. Mereka mengatakan pakaian tersebut dengan nama gothic atau harajuku .

      Shibuya begitu lah nama kota ini, kota yang paling disukai kaum muda terutama mereka yang menyukai gothic atau harajuku. Di tengah-tengah kerumunan orang berjalan kaki terlihat seorang gadis mengenakan mantel coklat muda dengan rambut coklat terurai berjalan cukup cepat menuju sebuah tempat yang dipenuhi kaum muda pencinta fotografi. Gadis itu menghampiri dua orang gadis yang tampak sudah cukup lelah menantinya yang berada di samping pintu masuk menuju tempat karya-karya fotografer terbaik dipajang.

'' Haduh, Kiran kau lama sekali.'' Sahut Yoshida dengan muka kesal.

''Haah, maaf Yoshida.'' Pinta Kiran dengan muka melas, nafas yang masih tersendat-sendat karena lelah, dan telapak tangan kanan serta kirinya menyatu seperti memohon.

''Ya sudah ayo kita masuk.'' Sahut Tomoko untuk mencairkan suasana melihat muka Yoshida yang tampak tidak senang. Ia segera menarik tangan mereka berdua dan melangkah kaki masuk ke pameran.

     Begitu mereka tiba dalam ruangan pameran dan menitipkan mantel mereka masing-masing, Kiran, Yoshida, dan Tomoko memandang sekeliling. Ruang pameran itu terihat cukup ramai, banyak orang yang menikmati hasil karya dari beberapa fotografer terbaik yang berbeda-beda. Tampaknya pameran fotografi ini merupakan pameran resmi karena terlihat beberapa wartawan tabloid datang ke pameran tersebut. Tentu saja Yoshida pasti segera menikmati suasana pameran tersebut dan decakan kagum tak henti-hentinya keluar dari bibirnya. Tiba-tiba saat mereka bertiga sedang asik melihat karya seni fotografi tersebut dua orang pria dan wanita menghampri Yoshida.

     Yoshida memang memiliki banyak teman dan kenalan di tempat ini, karena mereka memiliki hoby yang sama dan berada dalam satu komunitas yang sama. Yoshida sudah lama tergabung dalam komunitas fotografi ini dan tak jarang Tomoko hadir menemani Yoshida di setiap acara fotografi yang berlangsung, hal ini lah yang menyebabkan Tomoko juga memngenal beberapa kenalan Yoshida dari komunitas fotografi ini. Kiran tidak begitu memahami hal apa yang sedang diperbincangkan oleh Yoshida, Tomoko dan ke dua orang kenalan Yoshida yang baru saja datang tadi oleh karena itu ia memutuskan untuk berjalan melihat-lihat sendiri karya seni – karya seni fotografi yang tergantung di dinding.

      Kiran terus berjalan dari satu foto ke foto lainnya dan berhenti disetiap foto untuk memandanginya namun tiba-tiba sebuah foto menarik perhatian Kiran. Tanpa Kiran sadari bahasa tubuhnya menyatakan kekagumannya dengan foto tersebut, ia mengerjapkan mata dan menahan napasnya. Foto yang terpajang di depan matanya tersebut adalah foto seorang gadis mengenakan mantel coklat muda yang duduk di sebuah kafe. Gadis yang menjadi objek utama dalam foto itu terdiam memandang cangkir di mejanya dengan raut muka lelah. Selain warna coklat muda dari mantel dan wajah gadis itu, segala sesuatu disekitarnya termasuk meja berserta orang-orang di kafe itu dibuat berwarna hitam-putih dan terlihat kabur, seolah-olah dunia di sekeliling gadis itu memudar di mata sang fotografer.

“Hey Kiran,” Suara Yoshida terdengar dari balik badan Kiran. Kiran segera berputar menuju arah suara.

“Iya.”

“Perkenalkan ini Hiro teman ku satu komunitas.” Yoshida mengenalkan Kiran dengan seorang pria berambut pendek lurus tertatarapih, mengenakan kemeja berwarna putih bergaris hitam, kulit putih, berhidung mancung, berbibir tipis , bertubuh tegap tinggi, dengan sebuah kamera SLR di tangan dan tali kamera tersebut melilit lehernya. Namun ada sesuatu dalam tubuh pria tersebut yang membuat Kiran tanpa tersadar begitu lama memandang pria itu. Mata pria itu, ya mata pria itu begitu indah di mata Kiran. Mata pria itu memang sipit tetapi bola mata pria itu bulat penuh sehingga mata pria itu terlihat tidak terlalu sipit. Mata pria itu berbeda dengan mata Yoshida dan mata Tomoko yang sipit melancip ke atas. Tanpa Kiran sadari pria itu telah menunduk menyampaikan salam perkenalan segera Kiran tersadar dari kekagumannya melihat mata pria tersebut dan langsung membalas salam perkenalan dari pria itu.

“Dia juga adalah fotografer Kiran, namun ia lebih suka memajangkan hasil karyanya di galeri rumahnya sendiri Kiran atau mungkin di blognya.” Yoshida memberikan keterangan lebih lanjut mengenai diri pria tersebut.

“Oh..” Hanya kata-kata itu yang dapat muncul dari bibir Kiran.

     Akibat dari perkenalan tersebut Kiran, Yoshida, Tomoko, dan Hiro akhirnya berjalan menikmati hasil karya fotografer tersebut bersama-sama dihiasi dengan perbincangan dan sedikit sendagurau.

******************************************************************************************

      Musim berganti, masa pun ikut berlalu bersamanya, hubungan Kiran dengan Hiro menjadi akrab. Hiro sering mengajak Kiran bersama dengan Yoshida dan Tomoko untuk memotret beberapa gambar pemandangan alam yang indah di tempat-tempat yang tampaknya biasa saja namun tempat itu menjadi berubah sangat indah setelah Hiro memotretnya. Hiro tampak begitu ahli dalam bidang fotografer namun mengapa ia tidak memamerkan hasil karyanya untuk diperjual belikan? Mengapa ia hanya menikmati karya seninya sendirian? Pertanyaan seperti itulah tampaknya yang sedang ada dibenak Kiran ke pada pria tersebut.

      Hari cukup cerah, orang-orang pun melakukan aktivitas mereka di pagi hari namun tidak demikian halnya dengan Kiran. Kiran begitu malas untuk melakukan aktivitasnya di pagi hari yang cerah ini, ia hanya terus menutupi tubuhnya dengan selimut dan menikmati nyamannya ranjang. Alasan Kiran begitu malas melakukan apa pun hari ini adalah hari libur, ia merasa bahwa pantas bagi tubuhnya untuk menerima istirahat panjang dari kelelahan aktivitasnya selama ini. Namun rencana Kiran untuk bermalas-malasan pagi hari ini gagal, deringan handphone membangunkannya. Mata Kiran masih enggan untuk terbuka, tubuhnya masih terasa berat untuk melakukan apa pun. Kiran tetap membiarkan deringan handphonenya semakin keras dan dengan sendirinya deringan handphone itu berhenti.

''Kiran aku sekarang ada di depan kamar apartementmu.'' Suara itu berasal dari balik pintu kamar apartement Kiran melalui sebuah kotak kecil di dekat pintu yang bernama interphone. Kiran terkaget mendengar suara pria lah yang keluar dari interphone tersebut, karena tidak pernah ada satu pria pun mengetahui apartementnya kecuali ayahnya sendiri, hanya Yoshida dan Tomoko lah yang sering datang ke apartementnya. Kiran segera bangkit dari ranjangnya yang nyaman dan melangkahkan kaki menuju pintu kamar apartementnya.

Hiro? Pria itulah yang terlihat dari interphone tersebut. Pikiran Kiran bertanya-tanya bagaimana pria itu dapat mengetahui kamar apartementnya? Pertanyaan itu pun segera terjawab sewaktu Kiran membuka pintu kamar apartementnya.

''Hey Kiran, kau pasti baru bangun.'' Yoshida segera masuk ke kamar apartement Kiran menuju ruang televisi yang berada di depan pintu masuk. Apartement Kiran memang tidak terlalu besar, pintu masuk berhadapan langsung dengan ruang televisi, ruang televisi berhadapan dengan ruang dapur beserta ruang makan, jika mengarahkan langkah ke sebelah kanan dari ruang televisi tersebut terdapat kamar tamu sedangkan jika mengarahkan langkah ke sebelah kiri dari ruang televisi mengarah ke kamar mandi, semua ruangan itu terhubung tanpa sekat atau pun tembok. Disusul oleh Tomoko dan Hiro masuk ke ruang televisi tersebut.

''Ini beberapa makanan kecil untuk mu. Ku yakin kau belum sarapan pagi hari ini.'' Hiro memberikan sebuah kantung plastik berwarna putih ke pada Kiran yang berisi sandwich, susu, dan buah apel. Dalam hati Kiran berkata, Hah yang benar saja aku memang baru bangun tidur pantas lah jika belum ada makanan apa pun yang masuk dalam tubuhku tapi benar juga tubuhku mulai menunjukkan gejolak-gejolak kelaparan. Raut muka Kiran terlihat bingung sewaktu ia datang menghampiri ke tiga orang itu yang sudah berada di ruang tamu dan duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan televisi. Seulas senyuman dan tertawa kecil terlihat dari raut muka Hiro melihat kebingungan dalam raut muka Kiran.

''Kiran cepat makan dan ganti pakaianmu sekarang. Kita hari ini akan pergi ke Hayama.”Perintah Yoshida ke pada Kiran yang semakin bingung. Mendengar perintah itu Kiran mengerjapkan matanya dan mengerutkan keningnya.

      Melihat raut muka Kiran yang semakin bingung seolah-olah berkata, untuk apa pergi ke sana? Tomoko memberikan penjelasan lebih lanjut sambil berdiri menghampiri Kiran yang berada di samping televisi.

“Ha.ha.ha. Haduh Kiran kau tidak mengerti juga? Jika Yoshida sudah mengetakan hal itu berati hari ini kita akan melalukan pemotretan di sekitar sana.” Tomoko segera memegang pundak Kiran dan mendorongnya ke ruang makan, menarik sebuah bangku lalu menyuruh Kiran untuk duduk dan mengeluarkan semua isi kantung plastik dari Hiro ke atas meja makan seakan-akan memaksa Kiran untuk cepat makan dan bersiap-siap.

      Hayama merupakan sebuah kota kecil di tepi Selat Miura, sebelah selatan Tokyo dan merupakan kota yang indah. Udara di Hayama sangat segar, semilir angin pantai yang khas, hijaunya perbukitan, dan keindahan panorama alam di sana seolah-olah menyambut kedatangan Kiran, Hiro, Yoshida, dan Tomoko. Kota ini memang sangat cocok bagi orang-orang yang senang memotret pemandangan alam. Dari Kota ini dapat terlihat dengan jelas gunung fuji yang berwarna biru muda di balut salju putih di atasnya.

      Hiro memarkirkan mobilnya di sebuah jalan yang langsung mengarah ke laut dan dari tempat mobil itu diparkir dapat terlihat dengan jelas laut yang biru, torii *, menara suar, tebing-tebing batu dekat pantai dan beberapa rumah nelayan. Angin semilir hangat menerpa tubuh mereka bertiga begitu mereka keluar dari mobil. Hiro pun segera mengambil ancang-ancang, mengambil kamera SLRnya, mengalungkan tali kamera tersebut ke lehernya, melihat sekelilingnya mencari inspirasi dan sesekali ia membidik lalu memotret objek-objek yang dianggapnya menarik demikian pula halnya dengan Yoshida.

      Sesekali Yoshida memperlihatkan hasil pemotretannya ke pada Hiro demikian pula dengan Hiro. Ya, mereka berdua seperti tengelam dalam asiknya melakukan fotografi, sedangkan Kiran dan Tomoko segera mengambil posisi yang nyama duduk di jalan tak jauh dari mobil Hiro diparkirkan dengan air laut tepat berada di bawah kaki mereka. Mereka sangat merasa nyaman dengan terpaan angin hangat yang berhembus membelai tubuh mereka dan membuat rambut mereka yang terutai terbang. Tanpa Kiran sadari sewaktu ia sedang memejamkan mata menikmati angin yang berhebus dan seulas senyuman terpancar dari bibirnya Hiro memotretnya. Tak hanya saat itu saja Hiro memotretnya, ketika Kiran bersendaugurau dengan Tomoko dan terkadang Yoshida pun ikut dalam sendagurau tersebut  Hiro memotretnya pula, demikian pula saat rasa bosan mulai terpancar dalam raut muka Kiran yang sering menguap entah berapa banyak.

*torii adalah sebuah tiang berwarna merah yang menurut kepercayaan shinto sebagai pemisah antara daerah suci atau kuil dengan tempat tinggal manusia biasa.

     Matahari semakin terik, rasa lapar pun mulai terasa, Kiran, Hiro, Yoshida, dan Tomoko memutuskan untuk beristirahat sejenak dan pergi ke salah satu tempat makan sederhana di sekitar sana. Hiro dan Yoshida tampak seperti tidak ingin lepas dari kameranya masing-masing, mereka selalu membawanya dan menaruh kemera itu tepat di samping meja makan mereka, bahkan setelah mereka selesai tertebih dahulu makan dibandingkan dengan Kiran dan Tomoko mereka segera menaruh kamera itu kembali diposisi awal yaitu di dada mereka dengan mengalungkan tali kamera tersebut. Ketika Tomoko sibuk menghabiskan makanannya, Yoshida sibuk melihat hasil pemotretannya di kamera, Hiro kembali lagi mencuri foto Kiran yang juga sedang sibuk menghabiskan makannya.
Jekrek....

“Hey, kau memotret ku?” Tanya Kiran.

    Hiro terkaget menyadari bahwa gadis itu mengetahui apa yang baru saja ia lakukan. Segera Hiro mengelengkan kepalanya.

“Hey, jangan bohong. Tadi aku melihat sendiri kau memotret ku.” Mata Kiran menyipit dengan sumpit di tangannya mengarah ke pada Hiro. Ia tidak percaya ke pada pria itu.

“Ayo berikan ke pada ku kamera mu sini.” Kiran memaksa Hiro memberikan kamera SLRnya dengan telapak tangan sebelah kanan tempat sumpitnya dipegang mengarah ke atas dan sesekali digoyangkan ke atas.

“Ayo berikan ke pada ku.” Kiran semakin memaksa.

“Hah, kau ini tidak percaya sekali pada ku. Sini ku perlihatkan isi foto kamera ku.”

     Kiran pun mendekatkan dirinya ke Hiro dan melihat foto-foto di kamera Hiro hasil pemotretannya. Hembusan napas pendek keluar dari mulut Kiran setelah melihat foto-foto dikamera Hiro. Ternyata kamera tersebut memang tidak berisi foto Kiran.

''Ada?'' Tanya Hiro dengan alis matanya terangkat.

Kiran menjawab pertanyaan tersebut dengan menggelengkan kepalanya sambil menunduk.

''Jadi, apa yang perlu kau katakan setelah memfitnah ku?''

    Mendengarkan perkataan itu Kiran segera mengangkat kepalanya, menyipitkan matanya, membuat pipinya bergelembung lalu keluar kata-kata ini dari mulutnya,''Aku tidak memfitnah mu.''

''Tadi yang mengira ku memotret mu siapa?''

''Aku.'' Kiran menjawab sambil menunjuk dirinya sendiri dan rautnya muka polos.

''Jadi siapa yang memfitnah ku?'' Pandangan Hiro ke arah Kiran begitu tajam, muka mereka pun sangat dekat sekali sewaktu Hiro menanyakan hal itu.

''Tapi aku tidak memfitnah mu. Aku kan hanya bertanya.'' Kiran membenarkan dirinya, raut mukanya seperti anak kecil yang membenarkan dirinya sewaktu dikoreksi oleh orangtuanya.

''Tapi kau sudah salah mendugakan?''

Kiran hanya mengangukkan kepalanya.

''Lantas apa yang harus kau katakan karena sudah salah menduga?''

''Baik lah aku minta maaf. Tapi ingat, aku TIDAK MEMFITNAH MU.'' Kiran menandaskan perkataannya itu sambil mengayunkan sumpit di tangannya.

''Jadi tolong diralat perkataan mu itu sebelumnya.'' Kiran melanjutkan perkataannya.

     Hiro memalingkan mukanya ke samping dengan cepat sambil berkata,''He'h tak mau.'' Seperti anak kecil yang sedang mengambek ke pada orangtuanya.

     Melihat tingkah Hiro seperti itu Kiran hanya dapat menunjukkan ekspresi muka tidak terima. Kiran menyipitkan matanya sambil memandang Hiro dan menggelembungkan pipinya.

''Ha.ha.ha'' Hiro tertawa melihat raut muka Kiran tersebut lalu mengacak-acak rambut gadis itu. Diperlakukan seperti itu Kiran hanya bisa terdiam dengan mata menyipit dan mulut tertekuk seperti cemberut.

     Surya akan kembali ke pernaungannya di balik Gunung Fuji. Pemandangan yang begitu indah dan tak boleh terlewatkan bagi seorang fotografer. Hiro segera membidik pemandangan tersebut dari belakang tubuh Kiran yang sedang mengangkat ke dua tangannya seperti seseorang yang sedang terbebas melepaskan masalahnya. Bidikan-bidikan pemandangan yang indah terus Hiro dan Yoshida lakukan. Pemandangan sore hari memang begitu indah di tempat ini. Namun saat sedang membidik beberapa pemandangan-pemandangan indah Hiro beberapa kali mengucak-ucak matanya, dan mengutak-atik kamera SLRnya.

''Yoshida, coba tolong aku.'' Hiro meminta Yoshida yang sedang sibuk memotret untuk membantunya.

     Yoshida pun menghampiri Hiro dan segera memegang kamera Hiro untuk melihat apakah kamera itu sudah fokus atau belum sambil mencoba-coba membidik suatu pemandangan yang indah.

''Tampaknya tak ada yang salah Hiro.''

''Fokus kamera ini kau setel masih bagus. Masih terfokus dengan baik.''

''Oh aneh sekali, tadi ku rasa sangat kabur.'' Hiro berkata dengan muka menyamping dan terlihat bingung dan kedua tangannya memegang kamera SLRnya itu.

''Ayo kita pergi ke Yokohama sekarang.'' Yoshida mengajak sambil melangkahkan kaki menuju mobil Hiro.

''Hah? Untuk apa lagi kita ke sana?'' Tanya Kiran bingung dan ikut melangkahkan kaki pula menuju mobil Hiro.

''Kita akan mengambil suasana gemerlap di sana Kiran.'' Tomoko menjelaskan.

''Heh? Apa? Kalian tidak salah? Kenapa tidak lain hari saja kita ke sana lagi? Apakah kalian tidak lelah? Haduh, aku tak habis pikir dengan kalian.'' Kiran protes.

''Sudah ayo masuk.'' Hiro memegang pundak Kiran, membuka pintu mobil, dan memaksa Kiran duduk.

     Yokohama adalah kota yang paling indah dengan suasana malam. Gemerlap lampu dari gedung-gedung tinggi sangat indah terlihat di tempat ini ditambah dengan arsitektur gedung pencakar langit yang indah dan unik menambahkan keindahan kota Yokohama.

      Yoshida dan Hiro lagi-lagi seperti orang yang tidak sadar akan sekitarnya jika telah memang kamera dan melihat pemandangan yang indah. Lagi-lagi Hiro mengucak matanya dan minta Yoshida untuk membenarkan fokus kamera itu namun lagi-lagi Yoshida berkata bahwa fokus kamera itu sudah tepat. Hiro tampak lelah dan ia memutuskan untuk duduk berdekatan dengan Kiran.

''Wah, akhirnya kau bisa lelah juga ya.'' Kiran meledak Hiro.

Hiro tertawa kecil dan berkata,''Hey, kau kira seorang fotografer seperti ku tidak boleh lelah?''

''Ya mungkin saja kau punya kekuatan ekstra.''

''Memangnya aku seorang super Hiro.''

''Kau kan memang Hiro.''

''Oh, iya ya. Aku kan memang Hiro.'' Kata Hiro sambil memang dagunya seperti berfikir dan mengangukkan kepala.

     Tiba-tiba rasa ingin tahu Kiran muncul, ia pun mengambil kamera SLR yang Hiro letakkan di tengah-tengah tempat mereka duduk. Kiran mencoba-coba menggunakannya, melihat apa yang sedang Kiran lakukan Hiro berinisiatif untuk mengajarkan Kiran cara memotret dengan kamera tersebut. Sesekali Hiro memperagakan cara menggunakannya, mengatur fokusnya, dan mengajarkan cara melihat objek yang tampak biasa menjadi luar biasa indah. Kiran tampak menikmati pengajaran yang Hiro berikan.

''Ayo kita pulang sekarang. Tampaknya hari semakin larut.''

   Kata-kata Yoshida itu membuat acara ajar-mengajar Hiro berhenti dan Kiran segera memberikan kamera SLR ke pada Hiro, namun saat Kiran memberikannya tangan Hiro seperti kurang tanggap meraihnya.

     BRUK... Kamera itu pun terjatuh di depan mata Kiran dan Hiro. Kiran merasa sangat bersalah ia pun segera meminta maaf dengan mengemis-ngemis ke pada Hiro. Seperti sedang memikirkan sesuatu Hiro tidak langsung menjawab permohanan maaf Kiran.

''Ah? Iya tidak apa-apa Kiran. Jangan khawatir kameranya akan baik-baik saja. Ha.ha.ha''

Kiran masih merasa bersalah ke pada Hiro, ia terus memohon dan matanya pun mulai mendung.

''Sudah tidak papa.'' Hiro mencoba meredakan kepanikan dan rasa bersalah Kiran sambil mengusap kepala Kiran.

''Ayo kita pulang.'' Hiro pun meraih tangan Kiran mengajaknya masuk ke mobil.

     Dalam perjalanan pulang Hiro mematung, ia hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan kata-kata singkat atau mengangukkan kepala, atau mengulaskan senyum singkat, seperti ada sesuatu yang Hiro pikiran. Melihat tingkah laku Hiro seperti itu Kiran merasa semakin tidak enak dengan apa yang baru saja ia lakukan. Kiran mendapatkan urutan paling terakhir diantar ke rumah, sewaktu mobil yang dikendarai Hiro sampai tepat di gedung apartement Kiran meledak lah tangisan Kiran dari dalam mobil. Kiran yang duduk tepat di samping pengemudi tidak sanggup menahan air matanya yang terus mengalir karena perasaan bersalahnya ke pada Hiro. Hiro yang duduk di tempat duduk pengemudi membelokkan tubuhnya menatap Kiran.

''Sudah jangan dipikirkan lagi. Tidak papa.'' Hiro mengelus kepala Kiran.

''Tapi kau memikirkannya.'' Kiran berkata diiringi isakkan tangisnya.

''Aku tidak memikirkannya.''

''Lantas mengapa kau bersikap aneh dari tadi?''

''Karena ada hal lain yang sedang ku pikiran.''

''Apa?''

''Dirimu.''

Kiran segera mengangkat kepalanya, menatap Hiro dengan raut muka bingung.

''Ha.ha.ha. Sudah ayo turun, sudah malam.'' Hiro keluar dari dalam mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Kiran. Kiran pun menghapus air matanya dan segera keluar dari dalam mobil.

     Kiran melangkahkan kakinya menaiki anak-anak tangga yang menuju pintu masuk gedung apartementnya dan memutar tubuhnya ke belakang, ke arah Hiro yang tidak beranjak dari posisinya membuka pintu mobil untuk Kiran tadi. Kiran pun melambaikan tangannya, namun Hiro tidak beranjak untuk masuk ke dalam mobilnya. Kiran terbingung lalu Hiro mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Kiran masuk terlebih dahulu ke dalam gedung apartementnya. Kiran pun mengangukkan kepalanya dan melangkahkan kaki ke dalam gedung tersebut. Segera setelah tubuh Kiran menjauh dan menghilang, Hiro masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya.

''Hey Kiran!'' Yoshida membangunkan Kiran dari lamunannya. Kiran pun tersadar bahwa ia telah cukup lama terdiam memikirkan seseorang yang telah lama tak terlihat.

''Kau masih memikirkan kejadian waktu itu?'' Tomoko bertanya ke pada Kiran yang sedang mengaduk-aduk secangkir coklat hangat di meja tempat ia duduk, ia tampak lesu, mukanya selalu tertekuk akhir-akhir ini. Kiran hanya mengangukkan kepalanya menjawab pertanyaan Tomoko.

''Hah, sudah ku duga. Pria itu juga sudah jarang terlihat dalam acara-acara getring fotografi semenjak kejadian itu.'' Yoshida menambahkan informasi.

    Mendengarkan informasi yang Yoshida berikan Kiran semakin memikirkan pria itu. Ya, pria itu adalah Hiro. Hiro sudah tidak pernah terlihat semenjak kejadian itu sewaktu kamera SLR miliknya terjatuh dari tangan Kiran yang ingin mengembalikannya.

''Kau sudah pernah menghubunginya?'' Tanya Tomoko. Kiran mengangukkan kepalanya lagi.

''Ada balasan?'' Yoshida penasaran. Kiran hanya menggelengkan kepalanya.

     Serentak Yoshida dan Tomoko menghela napas panjang melihat Kiran yang dari tadi tidak berkata satu kata pun. Tiba-tiba keheningan Kiran pecah.

''Sepertinya aku ingin pulang ke apartement sekarang.''

''Baik lah biar kita yang mengantar mu Kiran.'' Kata Tomoko sambil mengajak Yoshida, Yoshida pun mengangukkan kepalanya.

Sambil senyum kecil Kiran berkata, ''Tidak perlu.''

''Sudah biar kita antar, nanti kau mencoba bunuh diri lagi. Ha.ha.ha'' Yoshida berkata. Kiran hanya membalas dengan tertawa kecil.

     Kiran menghempaskan dirinya ke sofa ruang televisi apartementnya dan menyalakan televisi. Mengontak-ganti chanel televisi di depannya namun sepertinya tidak ada satu pun dari acara televisi yang ia lihat dapat mengusir rasa sedihnya dan pikirannya tentang Hiro yang sudah tidak pernah terlihat. Sesat sedang terlamun dalam pikirannya tentang Hiro deringan handphone dalam tas Kiran membuatnya tersadar dan Kiran pun segera mengambil handphone tersebut. Kiran terkaget melihat siapa pengirim pesan dari handphonenya tersebut, Hiro.
''Kiran aku menunggu mu di depan gedung apartementmu sekarang. ''

     Melihat pesan itu Kiran segera terburu-buru mematikan televisi, mengambil tasnya di sofa, mengunci kamar apartementnya dan keluar dengan langkah cepat menuju pintu masuk gedung apartementnya tersebut.
Kiran tercengang, mata bulatnya memenuh melihat pria yang sedang berdiri dari samping mobil di depan pintu masuk gedung apartementnya.

''Hiro?'' Tanya Kiran ke pada dirinya sendiri.

''HIRO!!'' Kiran berteriak setelah menyadari bahwa pria yang di depannya memang benar Hiro dan segera menuruni anak tangga menghampiri pria itu lalu menarik ke dua pipi Hiro menggunakan ke dua tangannya.

     Hiro memegang telapak tangan Kiran yang berada di pipinya dengan ke dua tangannya lalu menariknya ke bawah tersenyum. Tanpa berkata apapun Hiro segera membukakan pintu mobilnya yang berada di samping pengemudi dengan tangan sebelahnya sedangkan tangannya sebelah lagi masih memegang tangan Kiran untuk menyuruh Kiran masuk dalam mobil. Kiran bingung melihat reaksi Hiro yang tiba-tiba menyuruhnya untuk masuk mobil. Hiro menyalakan mesin mobilnya dan siap-siap melaju.

''Kita akan ke mana?'' Dengan muka bingung Kiran bertanya. Mukanya memiring menghadap Hiro yang sedang menyetir dan mata belonya membesar.

Sambil menyetir Hiro tersenyum dan berkata,''Ke tempat yang indah.''

''Oh..'' Kiran mengangukkan kepala.

''Wah tempatnya indah sekali!'' Kiran berseru melihat tempat yang berada di depan matanya.

     Tempat itu begitu indah, terdapat pohon sakura berjejer rapih di sisi jalan aspal sebelah kanan dan kiri jalan aspal tersebut, di antara pohon sakura satu dan pohon sakura lainnya terdapat kursi panjang terbuat dari besi berwarna putih setiap selang tiga pohon sakura.

''Indah bukan?'' Tanya Hiro.

Kiran mengangukkan kepala berkata setuju.

''Ayo kita duduk di sana.'' Tunjuk Hiro ke suatu bangku panjang dengan sebelah tangan lainnya memegang sebuah kantong plastik berwarna putih dan sebuah tas gitar terdapat di bahunya.

''HUA...Bunga sakuranya indah sekali.'' Kiran menatap ke dahan-dahan pohon sakura yang dari sanalah bunga-bunga sakura berjatuhan. Ini adalah musim semi cukup banyak orang datang ke tempat ini, namun di sekitar tempat Hiro dan Kiran duduk tidak begitu banyak orang.

Hiro menaruh gitar di samping kursi itu, dan membuka kantong plastik putih yang di bawanya tadi sambil berkata,
''Ku tahu kau pasti belum makan siangan.''

     Ya, Hiro benar. Kiran belum sempat makan siang hari ini, ketika di kafe tadi bersama Yoshida dan Tomoko ia hanya meminum secangkir coklat panas.

''Ini masakan buatan mu sendiri?'' Tanya Kiran heran.

''Ya ini buatan ku. Coba lah.''

''Aku tak tahu kau bisa masak.''

Saat Kiran akan menyantapnya ia melihat salah satu makan yang bukan makan khas jepang dari dua buah tempat makan yang Hiro bawa.

''Ini bukankah bimbimbap*?''

''Iya. Kau tahu.''

''Kau bisa masakan korea?''

''Iya. Ibuku yang mengajarkannya.''

''Oh..''

''Bagaimana rasanya?''

''Hm..Enak Sekali..'' Kiran menjawab dengan mulut yang masih berisi penuh makan.

     Tempat makan pun dirapihkan, dan Kiran kemudian meminum segelas air putih dari tempat minum yang Hiro bawa berbentuk lensa kamra SLR. Saat Kiran sedang melakukan hal itu Hiro mengambil tas gitarnya, membukanya dan mengambil gitar yang berada di dalamnya.

*bimbimbap adalah masakan khas korea atau biasa disebut nasi campur yang terdiri dari beberapa warna.

''Kau bisa bermain gitar?''

''Iya.''

''Ku kira kau tak bisa. Selama ini yang ku tahu kau hanya seorang pria yang berkutat pada kamera.. saja, ternyata ada banyak hal dalam dirimu yang tidak ku ketahui. Apa lagi yang ku tak tahu dari dirimu?''

Hiro tertawa dan berkata, ''Nanti juga kau mengetahuinya.''

     Hiro mulai memainkan gitar di tangannya, tangga-tangga melodi muncul dari gitar tersebut yang membentuk suatu irama dari sebuah lagu yang berjudul if tomorrow never comes dengan penyanyi aslinya adalah Ronan Keating. Hiro membawakan lagu itu dengan lembut dan indah, Kiran terpesona melihatnya. Kiran sangat menikmati dendangan lagu itu. Pada saat kata-kata terakhir dari lagu itu Hiro nyanyikan, tiba-tiba tubuh Hiro semakin mendekat ke Kiran. Kiran terdiam entah mengapa tubuhnya tiba-tiba terasa kaku. Semakin Hiro mendekat semakin cepat jantung Kiran berdetak. Kecupan hangat tiba-tiba terasa di kening Kiran. Ya, Hiro mencium kening Kiran. Sesat setelah Hiro melakukan itu Kiran masih terdiam dan saat ia tersadar ia mengerjapkan matanya dengan pandangan kosong dan bola hitam matanya terlihat penuh. Kiran kemudian mengalihkan mukanya ke Hiro, melihat muka Kiran yang polos Hiro tertawa kecil lalu mengelus kepala Kiran.

    Hiro segera membuat topik pembicaraan, di tengah-tengah pembicaraan dan sendagurau mereka Kiran bertanya,''Kau hari ini tampak berbeda?''

''Apa yang membuat ku berbeda?''

''Pacar mu tak ada di samping mu.''

''Siapa?''

''Kamera SLRmu. Bukan karena aku merusaknya kan sehingga dia tidak ada di sini?''

Hiro tertawa mendengarnya lalu berkata, ''Bukan. Tapi hari ini memang aku ingin berdua dengan dirimu saja.''

''Kenapa?'' Tanya Kiran dengan polosnya.

''Karena kau adalah gadis yang ku cintai.''

     Tanpa Kiran sadari sewaktu Hiro mengatakan hal itu jantungnya berhenti berdetak sejenak dan tubuhnya terdiam. Hiro tertawa dengan bahagianya melihat Kiran. Melihat Hiro yang begitu bahagia Kiran menyipitkan matanya menjulurkan mukanya ke depan Hiro dan berkata, ''Kau berbohong ya? Kau senang sekali mempermainkan orang lain. Hu..''

''Ha.ha.ha. Ayo kita pulang sudah terlalu sore.''

     Kiran sampai di apartementnya dan langsung membersihkan tubuhnya. Keluarnya ia dari kamar mandi suara keras dari handphonenya memaksanya harus segera mengangkat telepon tersebut.

''Halo Yoshida ada apa?''

''Kiran cepat ke rumah sakit. Hiro sedang di UGD.''

     Tanpa berlambat-lambat Kiran segera menuju rumah sakit dengan taxi. Dalam perjalanan yang ia pikiran hanya ada apa dengan Hiro? Tadi sore ia masih baik-baik saja. Ada apa dengannya?
Kiran berlari dengan cepatnya menuju UGD tempat Hiro dirawat. Sesampainya di sana ia melihat ke dua orangtua Hiro, paman Hiro, Tomoko dan Yoshida.

''Ada apa dengan Hiro? Ia baik-baik saja?'' Kiran yang sampai sangat panik dan segera dihampir oleh Yoshida dan Tomoko.

     Yoshida dan Tomoko menenangkan Kiran dari kepanikannya dan menyuruhnya untuk duduk di kursi rumah sakit yang panjang berwarna coklat tepat di depan ruang UGD. Yoshida dan Tomoko pun menjelaskan bahwa selama ini Hiro mengidap penyakit dan dia tidak pernah menceritakannya ke pada mereka bertiga penyakitnya kecuali keluarganya. Pada saat suasana hati Kiran puas dengan informasi yang di berikan oleh Yoshida dan Tomoko suasana anatara mereka pun hening dan terdengar percakapan anatara ibu Hiro dengan paman Hiro, bahasa yang digunakan terdengar asing.

     Mereka berbicara dengan dialek bukan jepang namun dari asia utara lain. Korea, Kiran langsung menduganya. Kiran sedikit mengetahui bahasa itu karena temen-temennya satu kosan dahulu di Indonesia suka sekali dengan Korean Pop atau biasa di sebut Kpop dan bahkan mereka dapat mengerti serta berbicara sedikit bahasa korea. Kiran teringat akan kata-kata pria itu bahwa ia dapat memasak masakan korea dari ibunya. Kiran menyadari bahwa Hiro adalah putra dari orangtua yang berlatarbelakang berbeda, ayahnya orang Jepang sedangkan ibunya orang Korea. Hal ini lah yang membuat mata Hiro terlihat berbeda dari mata orang Jepang lainnya dan indah di mata Kiran.

     Akhirnya setelah menunggu beberapa jam dokter keluar dari dalam ruang UGD dan langsung dihampri oleh keluarga Hiro. Raut muka dokter menunjukkan firasat buruk, seketika itu juga ledakan tangisan pecah dari depan kamar ruang UGD ketika tubuh Hiro dibawa keluar bertutupkan kain putih. Melihat hal itu tak ada satu pun keluarga Hiro, Kiran, Yoshida, dan Tomoko di tempat itu yang kuat menahan tangisnya. Dada Kiran begitu sesak melihatnya, sulit baginya untuk bernapas, air matanya terus mengalir, bahkan ia tidak sanggup untuk menopang tubuhnya sendiri. Kiran yang berada tepat di samping ranjang Hiro yang terbujur kaku tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya tepat di tubuh Hiro.

“Kenapa kau tidak pernah bercerita? Mengeapa kau baru mengatakan hal itu tadi? Kenapa kau mengambil keputusan dengan sepihak? Kau tau aku juga memiliki perasaan itu.”

      Kiran tidak sanggup untuk menopang tubuhnya lagi ia pun terjatuh ke lantai dengan posis terduduk dan air mata yang terus membanjiri pipinya. Perawat segera membawa tubuh Hiro ke ruang mayat dan keluarganya mengikuti dari belakang. Tomoko dan Yoshida tetap di sana bersama Kiran yang tak sanggup menahan tumpahan air matanya.

******************************************************************************************

     Seminggu telah berlalu semenjak meninggalnya Hiro, namun bagi Kiran rasanya baru kemari ia bertemu pria itu, mengenalnya, menyukainya, dan sampai akhirnya ia meninggal. Kiran mencoba menghibur dirinya dengan membuka situs jejaring sosial, mungkin ada beberapa status dari teman-temannya yang dapat membuatnya tertawa.

      Ia memencet-mencet tobol laptopnya yang berada di atas meja belajar kamar tidurnya. Tak beberapa lama setelah situs itu terbuka dan masuk ke dalam profil accoutnya Kiran melihat sesuatu di dinding profilnya, foto-foto indah dirinya dengan pose yang berbeda-beda dan tempat yang berbeda. Melihat siapa yang memberikannya membuat Kiran tercengang, Hiro. Ya, pria itu mengirimkan foto-foto Kiran yang selama ini ia ambil secara diam-diam ke dinding profil gadis itu. Kiran semakin terkaget melihat waktu pria itu mengirimkan ke dinding profilnya yaitu beberapa menit setelah Kiran sampai di rumah dan beberapa jam sebelum kematiannya.

     Kiran tak sanggup menahan luapan air matanya yang sudah berada di pelupuk mata dan siap mengalir dengan derasnya. Kiran pun tersadar akan apa yang pria itu katakan sewaktu mereka berada di bangku panjang berhiaskan pohon sakura yang berguguran, ''Ku kira kau tak bisa. Selama ini yang ku tahu kau hanya seorang pria yang berkutat pada kamera.. saja, ternyata ada banyak hal dalam dirimu yang tidak ku ketahui. Apa lagi yang ku tak tahu dari dirimu?'' Tanya Kiran saat itu ke pada Hiro yang akan memainkan gitar. Saat itu Hiro hanya tertawa dan berkata, ''Nanti juga kau mengetahuinya.'' Inilah jawaban dari pertannyaan Kiran, hal lain yang tidak ia ketahui dari pria itu adalah bahwa pria itu selama ini begitu memperhatikan Kiran bahkan sebelum awal perkenalannya dengan pria itu.

     Kiran tak sanggup mengetahui hal itu, pria itu begitu menyukai Kiran dari dahulu. Mengetahui hal itu membuat dada Kiran semakin sesak, air matanya terus menderas, tubuhnya menjadi bergetar, dan ledakan suara tangis pun keluar dari mulutnya. Kiran menyesali kepolosannya selama ini yang tidak mengetahui seberapa besarnya pria itu menyukainya, seberapa lamanya pria itu menanti berkenalan dengan dirinya, dan bahakan seberapa besar pria itu mencari tahu tentang dirinya. Pada foto paling terakhir dimasukkan ke dalam dinding Kiran terdapat tulisan di atas foto itu, tulisan itu adalah

'Coba lihat foto siapa ini? Ini adalah gadis yang paling ku cintai. Dia selalu terlihat bahagia dan dapat membuat ku bahagia. Senang rasanya jika dapat terus bersamanya. Andaikan penyakit kejam ini tidak muncul pasti hal itu bisa terjadi. Tapi apa daya kita tidak bisa semaunya bukan? Situasi tidak dapat kita ubah, namun pikiran kita lah yang dapat kita ubah. Kiran, engkau boleh terus memikirkan ku namun jangan hal itu membuat kebahagian mu hilang. Terus lanjutkan kehidupan mu dan tunggu aku di suatu hari nanti, ku akan menanti mu di sana. Di taman yang indah. Terus Semangat Kiran......Ku Sayang. ^^/..'

     Kelegaan sedikit terpancarkan setelah Kiran membaca kata-kata itu, namun air mata Kiran belum dapat terhenti.
Bulan-bulan telah berlalu semjak meninggalnya Hiro, Kiran terus melanjutkan hidupnya dengan bantuan sahabat-sahabatnya Yoshida dan Tomoko, namun pikiran akan pria itu masih terus melekat dalam pikiran Kiran, baginya belum ada pria satu pun yang dapat mengantikan posisi pria itu. Meskipun tetap memikirkan pria itu, Kiran tetap tertawa dan melakukan kegiatan lainnya seperti biasanya walaupun ia tetap merasa ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya namun kata-kata Hiro yang ia baca waktu itu membuatnya terus berjuang.

Lost Love, Never Mind



Seorang gadis muda berumur 19 tahun mengenakan celana jeans hitam, berjaskan warna putih, bertubuh tidak terlalu tinggi, warna kulit kuning langsat, rambutnya yang tidak terlalu panjang terkuncir kuda dengan wajah lelah dan letih menghempaskan dirinya ke lantai. Ia terlihat sangat lelah setelah keluar dari laboratorium yang terletak di lantai dua. Ia menghempaskan diri ke lantai untuk duduk beristirahat dari kelelahannya dan mulai membuka jas laboratorium yang ia kenakan. Setelah ia duduk, beberapa temannya menghampiri untuk beristirahat pula. Kampus tempatnya meraih ilmu dan mendapatkan peluang untuk dapat berkerja memang tidak terlalu besar, hanya berlantai dua dengan lorong yang cukup besar berada di antara beberapa kelas.
Di sekitar lorong kelas terdapat cukup banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas dengan laptop mereka, ada pula yang hanya mengunakan fasilitas wifi di kampus untuk hal-hal lain selain dari tugas, ada yang hanya duduk beristirahat atau menunggu untuk dapat masuk ke kelas yang masih diisi oleh kelas lain, hal ini lah yang membuat lorong tersebut semakin terlihat kecil, sempit, dan padat. aKetika sedang berbincang-bincang dan bersendagurau dengan teman-temannya untuk menunggu jam matakuliah berikutnya di mulai, handphone gadis muda tersebut berbunyi, ia segera merogoh tas gembloknya yang berwarna biru kehitaman untuk mengambil handphone, dan ternyata ada sebuah pesan singkat baru saja masuk ke handphonenya dari seseorang yang menempati posisi penting di hati nya.
“Siang dhek, hari ini ada acara makan-makan di rumah ku. Kamu bisa ikut?”
Ya, gadis muda ini bernama Kiran, ia mengambil jurusan kimia di sebuah perguruan tinggi negri yang terletak di sebuah kabupaten di jawa barat. Awalnya ia tidak terlalu memedulikan perkataan orang-orang yang mengkatakan bahwa tempat yang ia tinggali sementara tersebut kurang menarik sebagai tempat gaul, dan bahkan sekarang ketika ia mengenal pria itu, ia berani untuk mengatakan bahwa tempat yang ia tinggali sementara itu adalah tempat yang indah, dan cukup gaul meskipun tak segaul tempat rumahnya berdiri.  
Kiran mulai menggerakkan jari-jarinya untuk menjawab pesan itu,

 “jam berapa Mas?”
“Sore, sekitar jam 17.00. Bisa ikut?”
“Sepertinya bisa Mas.”
“Ok, sampai nanti ya.”

Mata kuliah yang cukup menguras otaknya akhirnya selesai sore ini, raut muka yang semakin lelah terpacar. Kiran dan beberapa temannya yang searah pulang, berjalan menuju kosan menelusuri jalan keluar dari kampus dan ke kosan mereka masing-masing. Dalam perjalanan pulang mereka selalu diiringi sendaugurau, tanpa terasa jalan akhirnya memisahkan mereka ke tempat kosan. Kiran kini berjalan sendiri menuju kosan. Berharap dapat beristirahat sejenak dari kelelahannya hari ini, Kiran memutuskan untuk tertidur sejenak di tempat tidur kamar kosannya yang kecil, lebarnya hanya dapat menampung tujuh buah keramik standar dan panjangnya menampung dua belas keramik standar meskipun terlihat tidak nyaman tetapi tidak masalah bagi Kiran, ia hanya membutuhkan tempat ini untuk istirahat dari kelelahan dan kepenatan. Saat ketika ia sedang tertidur selama beberapa menit suara handphone membangunkannya.

“Dhek, sudah dimana?” Demikian tulisan yang terbaca dari pesan tersebut.
“Wah, aku masih di kosan Mas. He.he.he. Sebentar lagi sepertinya aku akan berangkat ke sana.”
“Ok. Nanti kalo sudah sampai depan perumahan kasih tau Mas ya.”
“Ok.”

          Pesan ini membuat Kiran terpakasa terbangun dari istirahatnya dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah pria yang mengisi posisi yang penting dalam hatinya tersebut.
Dalam perjalanan menuju rumah pria tersebut, pikiran Kiran mulai melayang dan ia mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan pria tersebut dari ketidaksengajaan, pria itu dululah yang mengejarnya dan bagaimana ia akhirnya setuju untuk memiliki hubungan yang lebih akrab dengan pria itu. Pria tersebut mengawali pertemanannya dengan Kiran dengan mengirim pesan dari handphone seolah-olah sudah mengenal Kiran dari dulu tetapi Kiran tidak mengenal nama itu dengan menggunakan nama yang tidak ia kenal, Kiran sebenarnya sudah kenal pria ini dari perkenalannya di tempat makan bersama saudaranya, tapi menurutnya itu hanya perkenalan biasa, sampai akhirnya mereka sering bertatap muka dan bertemu di pertemuan-pertemuan.
Pria itu kemudian sering mengirimkan pesan berupa kata-kata lucu, atau bijak ke pada Kiran, Kiran sering menanggapi pesan tersebut karena jika tidak pria tersebut pasti mengirimkan pesan terus menerus ke padanya dan bertanya jika Kiran tidak membalas pesan-pesannya. Awal pendekatan pria itu hampir tiap saat mengirimkan pesan ke padanya, menanyakan sedang apa, di mana, atau bercerita tentang keadaannya. Pria tersebut selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian Kiran, mungkin hal itulah yang membuat Kiran akhirnya menerimanya meskipun pada saat itu ia masih memiliki perasaan suka dengan seorang pria yang tak pernah ia ketahui namanya ketika ia duduk di sekolah dasar. Ya, Kiran menyukai seorang yang suka berkerja keras. Kendaraan umum yang ditumpangi Kiran membawanya hampir sampai di perumahan menuju rumah pria itu, Kiran pun bersiap-siap untuk turun dari kendaraan umum tersebut.

 “Mas, aku sudah sampai di depan perumahan.”
“Sip. Tunggu di sana ya, aku akan jemput.”
“Baik, Mas. ^^..”

Kiran menyeberangi jalan yang cukup besar untuk sampai ke depan perumahan tempatnya ia akan menunggu pria tersebut. Berhenti sejenak dan berpikir sejenak di depan puri perumahan, Kiran berpikir mungkin lebih baik jika dirinya langsung saja jalan menuju rumah pria itu tanpa menunggu pria tersebut menjemputnya. Lampu-lampu jalan mulai bersinar menerangi jalan Kiran, matahari kembali ke pernaungannya, jalan perumahan yang sepi terasa sedikit mengerikan namun Kiran tetap berjalan menelusuri jalan perumahan menuju pria tersebut. Kiran berhenti sejenak di sebuah gang, berpikir sejenak, membelokkan kepalanya, memundurkan langkah kakinya, dan menghitung jumlah gang yang telah ia lewati. Kiran merasa sepertinya gang yang akan ia masuki berbeda bentuknya seperti biasanya ia datang ke rumah pria tersebut. Ya,
Kiran memang sudah sering mengunjungi rumah pria tersebut bahkan sampai menginap di rumahnya. Kiran tetap melanjutkan jalannya memasuki gang tersebut dengan asumsi dalam pikirannya bahwa banyak jalan menuju Roma, pasti jalan yang ia lalui ini akan membawanya pula menuju rumah pria tersebut. Semakin Kiran berjalan ke dalam gang tersebut sinar-sinar terang dari lampu-lampu jalan yang menemani Kiran semakin hilang. Hormon ardenalin Kiran tiba-tiba meninggi, ketakutan mulai menghampirinya, terpikir olehnya untuk mengirimkan pesan singkat ke pada pria tersebut namun Kiran tidak melakukannya karena ia tidak ingin membuat pria itu khawatir dengan dirinya. Tak dipungkiri dalam hati Kiran kini hanya berharap tiba-tiba pria tersebut datang dan menjemputnya di sini. Kepala menunduk, mata menatap jalan dengan tajam, Kira terus berjalan. Tiba-tiba terdengar olehnya bunyi motor, Kiran segera menaikkan kepalanya berharap pengendara motor itu adalah pria tersebut. Suara motor semakin mendekat, sesosok pria berbadan cukup besar, tidak memiliki rambut, menghampiri Kiran, Kiran terkaget.

“Mau kemana neng? Sini akang anterin.”

Kiran tidak mengenal pria tersebut. Ia terus berjalan menelusuri jalan dengan langkah yang mulai dipercepat tanpa menghiraukan perkataan pria itu. Langkah Kiran terhenti. Oh tidak, ternyata jalan itu buntu. Kiran semakin bingung, yang saat ini ada dipikirannya adalah keluar dari jalan itu dan segera bertemu dengan pria yang memiliki posisi penting di hatinya tersebut. Kiran mendengar suara motor itu kembali. Pesan dan menelepon, ya hanya itu yang dapat ia lakukan.

“Mas, aku tersesat. Bagaimana ini? Malah ada orang tak dikenal menghampiri tadi. Takut. :’( “
Tak beberapa lama balasan dari pria itu sampai di handphone Kiran.
“Kamu di mana dhek?”
“Aku tak tau di mana Mas.”
Handphone Kiran tiba-tiba berdering, pria tersebut meneleponnya.
“Kamu di mana dhek? Coba gambarin lokasi kamu sekarang dhek.”
“Aku gak tau Mas. Ada pohon pisang, terus jalannya buntu.”
“Coba kamu putar arah dhek.”
“Takut. Nanti orang itu datang lagi.”
“Tenang, bilang aja pacarnya Philip pasti dia takut. Ha.ha.ha.”

Perkataan pria tersebut menghibur jiwa Kiran yang sedang takut. Kiran menjadi tertawa mendengarnya.

“Aku jemput ke sana ya.”

Kiran pun berbalik arah dan kembali menuju gang awal ia masuk. Sewaktu ia hampir selangkah lagi menuju gang tersebut tiba-tiba sebuah motor menghampirinya, dengan seorang pria berambut hitam lurus pendek tertata rapih, berbaju kaos berwarna biru,

“Hey.” Sapa pria di atas motor tersebut.

Kepala Kiran segera mendonga ke arah pria tersebut. Melihat siapa yang datang menghampirinya rasa cemasnya Kiran hilang seketika berganti dengan senang dan matanya yang kering mulai sedikit berair. Ya, pria yang berada di atas motor tersebut adalah Philip.

“Ayo naik.” Pinta pria tersebut.

Kiran pun naik ke atas motor tersebut, dan berlajulah motor itu. Dalam perjalanan perkataan Philip memecah keheningan.

“Hayo bandelkan, disuruh nunggu tak mau menunggu.”
“He.he.he. Takut merepotkan.”
“Haduh, kamu ya sama pacar sendiri masa merepotkan. Itu memang sudah tugas ku sebagai pacar mu.”

Kiran hanya tersenyum malu mendengar perkataan pria itu. Perjalanan berlalu dengan cepat tanpa mereka sadari mereka telah berada di parkiran bawah apartmen. Philip memang tinggal di apartmen yang menjulang tinggi dan menyebut apartmen tersebut sebagai rumahnya. Ia tinggal bersama ke dua orang tuanya sedangkan kakaknya berada di pulau yang berbeda dengan tempat ia tinggal sekarang.

“Ayo kita naik.” Ajak Philip ke pada Kiran.

Sesampainya di depan apartmen Philip, Kiran sedikit engan untuk menginjakkan kaki ke dalam meskipun ia telah sering datang ke sana, oleh karena itu Kiran membuka sepatunya dengan sedikit lama.

“Ayo masuk.” Pinta Philip yang terlebih dahulu telah masuk ke dalam.

Sudah cukup banyak orang datang berada di rumah Philip, makanan kecil pun telah di hidangkan, bersama beberapa minuman rasa manis. Rasa enggan Kiran mulai surut karena beberapa teman yang ia kenal mulai menyapa dan mengajaknya berbicara demikian pula ke dua orang tua Philip yang berada di dalam menyambut Kiran. Acara yang berlangsung di sana tidak hanya acara makan-makan tetapi mereka juga melakukan games dan tak jarang disetiap kegiatan Philip mencuri pandangan Kiran. Bulan semakin menampakan sinarnya, mereka yang datang pun mulai berpamitan pulang demikian pula Kiran bersiap-siap untuk pulang.

“Kiran menginap saja.” Ajak ibu Philip.

Kiran yang sedang bersiap-siap untuk pulang tersentak kaget dan terpikir dalam benaknya ketidaknyamanan karena rasa canggung yang mungkin akan ia rasakan dalam dirinya.

“Hm..tidak usah taku merepotkan.” Dengan senyuman terpancar dari bibirnya.

Namun Philip dan Ayahnya juga memintanya untuk menginap sehingga Kiran tidak dapat berbuat apa-apa dan ia pun merelakan diri untuk melepaskan kembali sepatu yang telah ia kenakan. Malam pun larut, orang-orang di rumah itu mulai tidur demikian pula dengan Kiran yang cukup lelah dengan harinya. Dalam lelapnya malam dan pulasnya tidur Kiran merasakan sesuatu yang aneh namun ia tak tahu itu apa, mata Kiran mencoba terbuka untuk mengetahui apa yang aneh sesaat ia membuka mata ia melihat sosok pria di depannya, tersentak Kiran kaget namun dengan tubuh yang masih lelah sehingga ia hanya memberikan sedikit respon kaget.

“Hey, Mas. Belum tidur?” Tanya Kiran kepada Philip. Pria itu duduk di samping ranjang Kiran tidur.
“Ssstttt...” Pinta Philip untuk tidak terlalu keras berbicara dan ia hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertannyaan Kiran.
“Oh, kenapa? Tidak bisa tidur?” Tanya Kiran.

Tanpa menjawab pertanyaan Kiran tersebut Philip mencium kening Kiran dan tanpa Kiran sadari ia bibirnya mengulaskan senyuman lebar.

“Sudah bobo lagi. Mas mau ke kamar ya.”  

         Kata pria tersebut sambil mengangkat selimut yang sedang Kiran kenakan ke atas dada Kiran, lalu mengulas kepala Kiran dan melangkahkan kaki menuju pintu ke luar kamar tempat Kiran beristirahat sambil melambaikan tangan dan hilang dari balik pintu kamar yang mulai tertutup.
Sang Surya kembali bekerja memancarkan terangnya yang bercahaya hangat, burung-burung dengan riang menyambut bersama tiupan angin sejuk udara pagi. Suara kesibukan di dapur mulai terdengar dan Kiran pun terbangun dari mimpinya yang indah. Kiran menghampiri ibu Philip yang sedang sibuk dengan pekerjaan di dapurnya.

“Ada yang bisa saya bantu ibu?”
“Eh Kiran sudah bangun. Tidak perlu. Sudah siap-siap sana, hari ini kamu kuliah bukan?”

Kiran baru menyadari bahwa hari ini bukan hari libur dan kesibukakan kuliahnya akan tetap berjalan seperti biasanya. Tanpa disadarinya pemikirannya tentang kelelahan yang akan ia dapatkan hari ini membuatnya menghela napas panjang. Ibu Philip yang melihatnya hanya tersenyum dan berkata.

“Mau sarapan atau mandi dulu?”
“Sepertinya mandi dulu ibu.”
“Ya sudah ini handuknya.” Ibu Philip memberinya handuk berwarna putih bersih ke pada Kiran dari dalam lemari besar.
“Kiran ingin makan apa?” Tanya ibu Philip ke pada Kiran yang telah selesai mandi dan membereskan barang-barangnya.
“Hm, sepertinya ceplok telur saja bu.”
“Oh, ya sudah telurnya ada di dalam kulkas ya.”

Kiran segera mengambil sebuah telur dari dalam kulkas, mempersiapkan penggorengan, dan menaruh sedikit minyak di dalamnya.

“Sepertinya minyaknya terlalu sedikit Kiran.”
“Hm tidak terlalu suka banyak minyak ibu.”

Kiran mulai mengoreng telur tersebut dan mulai membaliknya, tanpa ia sadari Philip dan ibunya berada di belakangnya mengamati Kiran memasak.

“Yah.” Kata-kata itu meluncur dari mulut Kiran tanpa disadarinya sewaktu ia melihat telur yang di baliknya tidak membentuk telur mata sapi yang sempurna.
“Yah, penonton kecewa.” Celetuk Philip dari belakang.

Mereka bertiga pun tertawa melihat kesalahan Kiran dan hal ini lah yang tidak diinginkan Kiran. Ya, ia takut mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang tua Philip. Tanpa Kiran sadari mukanya memerah malu. Tanpa berharap akan di antara Kiran yang sudah bersiap-siap akan pulang sambil mengenakan sepatu terbingung melihat Philip yang sudah bersiap mengantarnya.

“Ayo.” Ajak Philip ke pada Kiran yang telah selesai mengenakan sepatu.

Kiran pun berpamitan pulang ke pada ke dua orang tua Philip dar dekat pintu keluar. Sewaktu mereka telah berada di motor yang melaju Kiran terheran dengan arah motor yang melaju mengelilingi apartmen tersebut sebanyak dua kali. Kiran yang bingung akhirnya bertanya kepada Philip yang sedang mengendarai motor yang berlaju.

“Kenapa kita mutar-mutar Mas?”
“Sengaja.”
“Loh kok  sengaja?”
“Iya, supaya bisa berlama-lama dengan kamu.”

Kiran yang mendengar hal itu tertawa, senyuman lebar pun keluar dari bibirnya, dan mukanya memerah malu.

Bulan-bulan berlalu masa dan musim pun berganti. Hubungan Kiran dan Philip terlihat baik-baik saja demikian pula dengan hubungan Kiran dengan sahabat-sahabatnya. Kiran merasa senang karena sahabat-sahabatnya tidak pernah merasa mengeluh ke padanya karena dirinya yang sedang berpacaran. Ya, sahabat-sahabat Kiran terkadang mengeluhkan jika ada salah satu sahabatnya yang lebih mementingkan bersama pacarnya sampai tidak mempedulikan sahabat-sahabatnya namun Kiran tidak pernaha mendapatkan keluhan tersebut. Mereka masih sering bersendagurau bersama, mengerjakan tugas bersama, makan bersama, dan berpergian ke suatu tempat bersama.
Pria itu memang tidak mengekang Kiran untuk melakukan apa yang Kiran suakai, demikian pula dengan Kiran namun karena Philip adalah pria pertama yang memiliki hubungan serius dengannya Kiran mungkin terlihat begitu mengekang pria itu. Tak jarang Kiran merasa iri jika pria itu lebih memilih bersama temannya dibandingkan dengan dirinya. Terkadang Kiran merasa kasihan dan sedih dengan pria itu karena ia memiliki gadis yang terlalu manja, terlalu mengekangnya, cepat marah, dan memiliki sikap yang cepat berubah. Ia terkadang berfikir mungkin lebih baik ia putus agar pria itu bahagia, tetapi hal itu tidak dapat ia lakukakan, hatinya masih sangat terpaut erat dengan hati pria tersebut. Ya, ia terlalu mencintai pria itu dan ia berharap agar pria itu juga selalu mencintainya sampai akhir hayatnya nanti, tetapi sepertinya keinginannya tersebut tidak dapat tercapai.
Senja begitu indah, angin berhembus dengan sejuk, mahasiswa-mahasiswi berlalu-lalang dari kampus menuju kosan, tempat makan, tempat fotokopi, warung, warnet, dan lainnya. Tampak di sisi jalan enam orang mahasiswi sambil bersendaugurau berjalan menuju sebuah rumah berpagar putih besar tinggi, bercat merah muda, dengan pintu kayu berwarna coklat kecil namun tinggi. Mereka masuk ke dalam rumah tersebut dan mengalarahkan langkah ke ruang televisi yang berbentuk lorong panjang dengan beberapa kamar berada di sebrang ruang televisi tersebut. Ruang itu memang terlihat sempit namun tidak gelap karena beratapkan genteng transparan meskipun hanya di salah satu sisi saja sehingga cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan itu terlihat sedikit padat di sisi dekat tembok karena terdapat televisi, mesin cuci, wastafel, rak piring berdekatan dengan wastafel, meja kecil beratapkan kaca, dan kulkas. Empat orang  dari mahasiswi tersebut membuka kamar-kamar yang berada di sebrang ruang televisi tersebut sedangkan dua orang lainnya duduk di lantai ruang televisi tersebut.

“Kiran aku pinjam piring ya?” Pinta Lia teman Kiran yang berbadan tinggi dan badan yang cukup berisi.
“Iya ambil saja Lia.” Kata Kiran dari balik kamarnya yang sedang meletakkan tasnya dan mengganti bajunya dengan pakaian rumah. 

          Kiran sudah cukup lama pindah di kosan tersebut karena memang sudah saatnya ia pindah ke kampus baru. Kamar kosan barunya tersebut lebih luas dibandingkan dengan kamar kosannya dahulu terlebih lagi di kamar kosannya sekarang ia tidak perlu keluar kamar untuk pergi menuju kamar mandi. Kamar kosan Kiran sekarang terdapat kamar mandi di dalamnya.
Nado, Dian, dan Chia teman satu kosan Kiran yang pulang bersamaan dengannya tadi datang menghampiri Kiran dari kamar kosan mereka masing-masing di mana Kiran yang telah keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah kantong pelastik yang berisi makan siang mereka, pada saat itu Kiran sedang duduk menonton televisi bersama Lia dan Cinta sambil menyantap makan siang yang telah mereka beli sebelumnya di salah satu tempat makan dekat kampus mereka. Sendagurau terus mengalir dari bibir mereka sambil menonton dan menyantap makan siang. Tiba-tiba sebuah deringan handphone  Kiran memecahkan sendagurau tersebut.

“Hey dhek, hari ini sibuk?”

       Raut muka Kiran berubah seketika melihat pesan yang tertera di handphonenya tersebut, sebuah senyuman pun mengembang dari bibirnya tanpa ia sadari.

“Hayo, pasti dari Philip.” Celetuk Cinta
“Cie..cie..cie..” Lia mengompori membuat muka Kiran semakin merah malu.
“Tidak Mas. Dhek-dhek sudah tidak ada matakuliah lagi, ini baru saja pulang dari kampus.” Balas Kiran ke pada pesan trsebut.
 “Ok. Mas ke sana sekarang ya.”

Membaca pesan tersebut Kiran menjadi sangat senang dan ledekan dari sahabat-sahabat Kiran pun semakin menjadi-jadi melihat raut muka gembira dari muka Kiran. Sendagurau mereka pun berlanjut dari celotehan mereka tentang tugas yang sulit, keanehan dari tingkah laku mereka masing-masing di kampus dan kelas, bercerita tentang matakuliah yang sulit bagi mereka masing-masing dan tak lepas pula dari celotehan tersebut ada mengenai dosen dan teman-teman lainnya di kelas mereka atau kampus mereka. Pembicaraan mereka begitu asik sampai-sampai waktu terlupakan oleh mereka dan Kiran lupa bahwa pria yang penting dalam hatinya itu akan datang.

“Dhek, Mas sudah di depan kosan kamu.” Pesan dari Philip kepada Kiran. Melihat pesan tersebut Kiran segera terburu-buru untuk berganti pakainan dan dadanan menyambut sang pujaan hati datang.
“Cie sang pangeran kuda datang.” Celetuk Cinta disusul dengan celetukan Lia, Dian dan Nado ke pada Kiran yang sedang sibuk bersiap-siap dari balik kamarnya. Mendengar hal itu Kiran hanya dapat tertawa dan tersenyum senang. Kiran terburu-buru menutup pintu kamarnya dan meningalkan sahabat-sahabatnya yang masih duduk di lantai menonton sambil bersendagurau lalu berkata ke pada mereka,
“Aku berangkat ya.”
“Iya.” Serempak sahabat-sahabat Kiran tersebut menjawab perkataan Kiran.

Kiran melewati pintu dan gerbang kosan tersebut dengan cepat, lalu ia menyebrangi jalan dan menghampiri seorang pria yang sedang menunggu sambil duduk di atas motor.  Setelah menyapa pria tersebut Kiran pun pergi bersama pria itu dengan mengendarai motor menuju sebuah taman yang penuh dengan pohon, beberapa tanaman kecil, dan ilalang. Kiran sangat menyukai tempat itu karena ia dapat melihat matahari yang kembali ke pernaungannya, dan menikmati udara sore yang cukup hangat. Kiran dan Philip duduk di taman tersebut ditemani rumput-rumput kecil dengan hembusan angin hangat menerpa tubuh mereka berdua.
Kiran sangat menikmati suasana tersebut namun tiba-tiba suasana yang Kiran sukai tersebut berubah menjadi suasana yang suram. Angin hangat yang berhembus dengan pelan menjadi terasa menusuk Kiran, matahari menjadi kelam, raut muka Kiran yang gembira berubah, dan dada Kiran menjadi terasa sangat sesak sampai-sampai sepertinya sulit baginya untuk mengambil napas saat pria yang penting dalam hatinya tersebut tiba-tiba berkata dengan nada serius dan hening.

“Dhek, kita putus saja ya.” Mata Kiran mendadak menjadi penuh bulat mendengar perkataan Philip tersebut sambil menatap muka pria itu dengan penuh tanya terlihat dalam raut mukanya.
“Mungkin ini yang terbaik terlebih lagi kamu harus fokus dengan kuliahmu.” Lanjut perkataan pria tersebut seolah-olah mengetahui bahwa Kiran meminta alasan atas keputusan pria tersebut.
“Tapi aku bisa mengatur jadwalku dengan baik kok Mas.” Mata Kiran mulai berair sambil mengatakan hal tersebut, dadanya terasa menjadi semakin sesak.
“Tidak. Mas tidak mau menyusahkan kamu untuk belajar karena hubungan kita, Mas juga mau fokus dengan pekerjaan Mas terlebih dahulu.”
“Oh, ya sudah.” Hanya perkataan itu yang dapat keluar dari mulut Kiran mendengar alasan ke dua dari mulut Philip tersebut bahwa hal itu juga bertujuan baik untuk Philip.

Kiran masih merasa pria itu adalah pria yang penting dalam hatinya, ia juga menyukainya, dan menyayanginya, ia tidak ingin membuat pria itu sulit oleh karena itu ia memutuskan untuk menyetujui keputusan tersebut. Air mata Kiran masih tertahan di kelopak matanya, entah mengapa air mata itu tidak dapat mengalir saat itu. Melihat raut muka Kiran yang sangat sedih Philip memeluk Kiran dan seketika itu juga tangisan Kiran meledak tanpa ia dapat kendalikan.

“Maaf aku gagal menepati janjiku. Aku tidak ingin menyakiti seorang gadis pun terutama gadis yang ku sukai. Maaf aku gagal.”

Mendengar perkataan itu dari mulut Philip, Kiran hanya dapat mengelengkan kepalanya sambil menangis.

Bulan berlalu demikian pula dengan tahun. Tak terasa sudah satu tahun lebih belalu semenjak Kiran berpisah dengan Philip namun perasaan dalam hati Kiran belum dapat berganti. Tak jarang pada saat ia telah berpisah dengan pria tersebut ia sering melamu, entah apa yang ia pikirkan ia pun bingung. Tempat ini yang tadinya Kiran rasa menjadi indah meskipun tidak terlalu gaul di bandingkan dengan tempat kelahirannya berubah menjadi kelam akibat perpisahannya dengan pria tersebut. Pada awal-awal perpisahannya dengan pria tersebut komunikasi yang baik masih terjalin, namun setelah pria itu mengatakan bahwa ia menyukai gadis lain dan bertujuan untuk menikahi gadis itu komunikasi yang baik dengan pria itu perlahan-lahan mulai sirna.
Awalnya Kiran bermaksud untuk tetap menjalin persahabatan yang baik dengan pria itu namun sepertinya tidak dapat, jika berkomunikasi dengan pria itu Kiran masih belum dapat menyadari bahwa dirinya bukan lagi gadis yang spesial di hati pria itu, posisi Kiran dalam hati pria itu telah tergantikan oleh gadis lain oleh karena itu Kiran memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengan pria itu dan mencoba mengikhlaskan pria itu dengan gadis lain dan Kiran yakin bahwa gadis yang pria itu sukai pasti lebih baik dibandingkan dirinya.
Tidak mudah bagi Kiran untuk melupakan pria itu meskipun ia sudah berusaha menjadi orang yang paling sibuk namun sasaat apabila ia sejenak saja melamun, pikirannya segera membawanya untuk memikirkan pria itu kembali dan air matanya pun terjatuh tanpa ia sadari. Saat-saat seperti itu lah dukungan sahabat-sahabatnya sangat berarti baginya. Meskipun terlihat sedikit kejam namun Kiran tahu bahwa sahabat-sahabatnya tersebut memiliki niat baik untuk membantu Kiran keluar dari kekelaman hidupnya yang terpuruk akibat perpisahannya dengan Philip. Jika tiba-tiba Kiran teringat dengan pria itu sahabat-sahabatnya segera memarahinya dengan berkata,

“Kiran jangan pikirkan pria itu terus! Dia juga tidak memikirkan mu.”
“Kiran lupakan dia! Move one!”
“Kiran sudah ah. Bosen kamu ngomongin pria itu terus. Move one!”
“Kiran masih banyak ikan di laut.”

Mengingat perkataan-perkataan tersebut membuat Kiran menjadi sedikit lega, dan memiliki semangat untuk melanjutkan kehidupannya. Memikirkan kebaikan yang telah mereka lakukan dan ia dapatkan Kiran sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka dan terutama ia bersyukur ke pada Tuhan yang Maha Esa karena masih memperhatikannya sampai saat ini dengan memberikan orang-orang baik di sekitarnya. Tidak ada kata-kata indah yang mungkin bisa ia ucapkan mengingat itu semua.
Agar sahabat-sahabatnya tidak menjadi terlalu dipusingkan oleh tingkah laku Kiran yang terus-menerus terlihat murung dan melamun Kiran memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan bekerja paruh waktu dan menyibukkan diri dengan aktifitas-aktifitas mengerjakan tugas lainnya. Kiran membuat target-target yang tampaknya tidak mungkin dan berusaha untuk terus hidup dengan sebaik mungkin tanpa memikirkan pria itu. Dalam hati Kiran yang terpikirkan saat ini adalah bahwa pria itu pasti akan bahagia dengan gadis itu dan ia harus terus melanjutkan hidupnya untuk mendapatkan target-target yang ia buat setelah ia pisah dengan pria itu.
Saat ini matahari memancarkan sinarnya dengan sangat hangat, angin yang dihembuskan terasa sedikit sejuk, dan suara burung bernyanyi terdengar dari gedung tempat wisuda. Tempat wisada itu di penuhi dengan mobil, mahasiswa-mahasiswi yang baru saja datang dengan ke dua orang tua mereka, dan beberapa penjual makanan kecil beserta penjual rangkaian bunga di lapangan parkirnya. Mahasiswa-mahasiswi ada yang telah mengenakan baju kebesaran mereka yaitu toga namun ada pula mahasiswi yang masih mengenakan pakaian kebaya sedangkan mahasiswa ada yang masih mengenakan jas dan mengenakan toga setelah sampai di gedung wisuda tersebut. Seorang gadis bersama ke dua orang tuanya keluar dari dalam mobil berwarna hitam besar mengenakan toga lalu berjalan menuju gedung wisuda di sambut oleh teman-temannya yang telah terlebih dahulu sampai di gedung tersebut.
Matahari semakin memancarkan sinar panasnya, para wisudawan keluar dari gedung wisuda menandakan acara wisuda itu telah selesai. Mahasiswa-mahasiswi yang telah memiliki gelar itu terlihat berfoto-foto dengan orang tua mereka atau pun teman-teman terdekat mereka dan juga dengan adik tingkat yang mereka kenal dan akrab. Senyuman lebar terpancar dengan sangat lebar pada muka setiap mahasiswa-mahasiswi yang telah diwisuda tersebut. Terlihat di dekat gedung wisuda tersebut terdapat sekumpulan mahasiswi yang telah di wisuda berfoto-foto dengan baju kebesaran mereka. Meraka adalah Kiran, Lia, Dian, Cinta, Nado, Manda, Shela, Chia dan Rahmi. Ya, mereka semua adalah sahabat-sahabat sekaligus teman satu kosan dengan Kiran sewaktu berada di tempat ini. Acara pemotretan bersama-sama pun selesai, mereka mulai bubar untuk pulang ke asal mereka masing-masing dan meninggalkan tempat mereka mencari ilmu ini. Pada saat berjalan ke kendaraan mereka masing-masing Cinta yang satu arah parkiran dengan Kiran bertanya,

“Kamu jadi meraih taget mu berikutnya Kiran?”
“Hm.. Sepertinya jadi.”
“Kapan akan berangkat?”
“Sepertinya bulan desember tahun ini.”
“Wi.. Keren-keren. Kalo pulang nanti bawa oleh-oleh ya dari negri sakura.”
“Hm..Sepertinya diri ku juga sudah menjadi oleh-oleh yang paling baik Cinta. Ha.ha.ha.”

Mendengar perkataan itu Cinta hanya bisa menyingungkan senyuman lebar dan tertawa melihat Kiran tertawa. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kendaraan mereka masing-masing dan kembali pulang ke tempat asal mereka nan jauh di sana. Dalam perjalanan pulang Kiran terbawa oleh pikirannya mengingat masa lalu apa saja yang telah ia lalui di tempat ini, tempat ia mencari ilmu dan dalam pikirannya ia tetap terus bertekad untuk berusaha meraih cita-cita, target yang telah ia buat setelah berpisah dengan pria itu, pria yang akan selalu ada dalam hatinya dan tidak ada yang dapat mengubah posisi pria itu dalam hatinya.

Mengenai Saya

Foto saya
https://twitter.com/Sukoine