Ku
persembahkan cerpen ini untuk orang-orang yang gak punya uang atau
malas membeli cerpen saya. Dan untuk publisher yang gak mau terima
cerpen saya yang sangat panjang ini. wkwkwkwkw.. :D
Puluhan kaki menanti isyarat si besi abu berkepala lampu, menunggu
kencana bermesin berhenti di belakang jajaran noda putih bersusun
diatas tanah keras hitam padat. Isyarat merah menyala, kencana
terhentikan langkah kaki tergesahkan melewati tanpa ragu di hadapan
susunan kencana bermesin. Langkah tak tersurutkan melaju dengan pasti,
membawa tubuh menabrak setiap jilatan angin usil menggoda rajutan
benang. Kesejukan masuk menusuk tulang memerangi kehangatan. Melangkah
tanpa henti melewati aroma terigu panggang, jejeran pernak-pernik
menghiasi toko memanggil mata, hingga melewati jejeran kursi meja
berhadapan diduduki para penikmat kopi hangat berkulit putih kemerahan
dibatasi gelas putih besar dibawah atap genteng merah tua. Duduk
diantaranya seorang gadis bermantel coklat muda,berkulit sawo matang,
rambut coklat pirang teruraikan, bibir tipis merah muda memperindah
pipinya. Bola mata coklat kehitaman yang penuh melingkar didalam kelopak
pelindung, menatap kosong cangkir putih kecil berisi larutan coklat
hangat. Tangan halus menopang dagu, satunya memainkan potongan besi
kecil dalam cangkir. Gadis tersebut tampak lelah, beberapa kali ia
menghembuskan napas dari mulutnya, melihat jam tangannnya, dan
menengokkan kepala ke arah kaca besar di mana orang berlalu-lalang di
belakang kaca tersebut.Tak jarang suatu suara keluar dari mulutnya yang
mungil, “Hah, mereka lama sekali.”
Jekrek..Jekrek..Jekrek.. Tanpa di sadari oleh gadis itu ada sesosok pria
dari kejauhan memperhatikan tingkahlakunya, dan memotretnya. Tempat
duduk pria tersebut menyerong dari arah tempat duduk gadis itu,
mengenakan mantel berwarna hitam, kulit putih, berambut hitam pendek
lurus dan tertatarapih, mata sipit tajam berwarna hitam melukiskan
wajahnya yang khas, berhidung mancung, berbibir tipis , bertubuh tegap,
dengan sebuah kamera
SLR di tangan dan tali kamera tersebut
melilit lehernya. Pandangannya terus tertuju pada gadis itu, tak jarang
jari jemarinya memainkan kamera yang digenggamnya untuk memotret gadis
itu. Setiap gerakan perubahan dari tubuh gadis itu ia amati dan ia
potret.
Dua orang gadis masuk ke dalam kafe
memecahkan keheningan gadis yang sedang termenung menunggu. Sewaktu
gadis itu mengalihkan perhatiaannya dari cangkir putih di mejanya , dua
orang gadis tersebut datang menghampirinya,
“Hey, Kiran.”
Sapa salah satugadis yang berambut pendek sebahu kriting berwarna
coklat, bermata sipit, kulit putih, mengenakan mantel merah marun,
dengan sebuah tas kecil digenggamannya dan tanggannya yang lain
melambai.
“Hey, Tomoko.” Jawab Kiran sambil membalas
lambaian tangan Tomoko tadi. Ke dua gadis tersebut pun mengarahkan
langkahnya menuju Kiran.
“Hey, kenapa hanya Tomoko yang
kamu sapa? Aku tidak?” Tanya gadis yang lainnya dengan dandanan seperti
pria. Gadis itu berambut pendek seperti potongan rambut pria dengan
warna hitam, bermata sipit, berkulit coklat, dengan sebuah kalung
berwarna putih menghiasi lehernya, tas kecil selempang di bahunya, dan
bermantel abu-abu. Ke dua gadis tersebut duduk di samping Kiran.
“Ha.ha.ha. Maaf Yoshida. Aku tidak bermaksud untuk tidak menyapa mu.”
“Hah, awas jika lain kali kau tak sapa diri ku lagi.” Ancam Yoshida sambil mengulurkan jari telunjuknya ke arah Kiran
“Ok.” Jawab Kiran dengan tangan ke atas dan jari ibu serta jari telunjuk bersatu membentuk lingkaran.
Pelayan mendekati tempat Kiran, Tomoko, dan Yoshida duduk. Setelah
memberikan daftar menu dan memesannya pelayan pun pergi. Saat menunggu
pesanan mereka datang, mereka berbincang-bincang dan bersendaugurau.
“Oya, minggu depan ada acara pameran fotografer loh?!” Ajak Yoshida.
“Hah,
kau ini sudah ku duga kau akan berkata seperti itu. Bagi dirri mu tak
ada yang lebih menarik dibandingkan dengan fotografer. Aku yakin di tas
mu yang kecil itu pasti berisi kameran ya kan?” Sahut Tomoko.
“Tentu
saja. Fotografer itu sangat keren, dan aku tidak ingin melewatkan
moment indah bersama kalian oleh karena itu aku selalu membawa kamera.”
“Hey
apa kau tak tau, teman mu yang satu ini kan tidak suka dan tidak tahu
apa-apa mengenai fotografer.” Tomoko mengarahkan jari telunjuknya ke
arah Kiran yang sedang meminum secangkir coklat hangat. Mendengar hal
itu Kiran hanya menolehkan matanya ke arah Tomoko dan Yoshida,
menganggukkan kepala dengan memegang cangkir yang masih berada di
mulutnya. Ketika mereka masih berbincang-bincang datanglah pelayan
membawakan pesanan mereka.
“Oya, bukan kah kau bilang kau
tidak ingin melewatkan moment indah bersama kita? Bagaimana kalau kau
mengambil kamera mu dan kita foto?” Ajak Tomoko.
“Ok.” Yoshida pun mengeluarkan kamera dari tas kecilnya dan meminta pelayan untuk memotret mereka bertiga.
**************************************************************************************
Matahari masih enggan memancarkan sinar tubuhnya, kabut menghiasi sudut
kota, hembusan angin terasa sangat menusuk, burung-burung masih enggan
keluar dari pernaungannya untuk bernyanyi. Deringan
handphone
di atas sebuah meja kecil dengan lampu tidur berbentuk lumba-lumba
berwarna biru yang masih menyala berada di sampingnya membangunkan Kiran
dari ranjangnya yang nyaman dan hangat. Rasa kantuk yang sangat kuat
membuat tubuh Kiran enggan melakukan apa pun dari atas ranjangnya, namun
karena deringan
hendpone yang semakin keras Kiran terpaksa menggerakkan tangannya untuk menghampri
handpone tersebut dengan posisi tidur yang tidak berubah.
Brukk.... apa daya tangan Kiran tak sampai menggapai
handphone tersebut , namun yang terjadi adalah
handphone itu terjatuh dan Kiran pun ikut terjatuh karena berusaha menggapai
handphone
tersebut. Mata bundar Kiran masih sulit untuk terbuka sehingga hanya
segaris bentuk mata yang terbentuk dari mata Kiran. Kiran berusaha
mencari tombol berwarna hijau dengan gambar telepon. Akhirnya Kiran
menemukan tombol tersebut dan menekannya. Terdengarlah suara riang
seorang gadis dari balik
handphone tersebut .
“Kiran!! Apa kau sudah bangun?”
Otak Kiran masih memproses data mengenai suara yang keluar dari
handphone tersebut, berpikir siapa pemilik suara tersebut dengan posisi kaki di atas ranjang sedangkan kepalanya berada di lantai.
“Hm..Oh, Yoshida.” Kata Kiran sambil memperbaiki posisinya dan duduk di atas lantai
“Hah,
jelas saja aku sudah terbangun. Aku terbangun itu juga karena suara mu
yang begitu keras dan deringan dari telepon mu.” Lanjut Kiran dengan
suara kesal karena mimpinya yang indah seketika berakhir oleh deringan
telepon dari Yoshida.
“Ha.ha.ha. Ayo bangun. Kau harus cepat bersiap-siap.”
“Hah? Bersiap ke mana?” Tanya Kiran dengan muka bingung dan tangannya sebelah menggaruk kepalanya.
“Hey, kau lupa? Hari ini kita akan pergi ke pameran fotografi di Shibuya.”
Tampaknya otak Kiran masih belum penuh saat ini, otaknya sedang
berusaha menyambung memori-memori yang telah tersimpan dan menggali
ulang.
“Hm....Oh, iya benar. Aku lupa.”
“Hah
kau ini, meskipun kau tidak menyukai fotografi seharusnya kau tidak
bersikap sseperti itu. Kau harus mendukung hoby teman mu ini.”
“Baiklah, maaf kan aku. Aku lupa.”
“Ok ku maaf kan. Cepat siap-siap. Kau tau dari apartement mu itu menuju Shibuya butuh waktu yang cukup lama.”
“Iya
baik. Tapi kau terlalu pagi menelepon ku. Bahkan burung pun belum
terbangun dari pernaungannya.” Kata Kiran membela diri dengan tubuh yang
bangkit dari lantai menuju jendela besar dan membuka gorden berwarna
putih bersih.
“Ha.ha.ha. Maaf maaf. Engkau tau kan bagaimana temanmu ini terhadap acara-acara berbau fotografi?”
“Iya, tak boleh satu pun ditinggalkan atau pun terlewatkan bukan?”
“Ya betul.”
“Baik lah, tunggu aku di sana.”
Sang surya mulai memancarkan terang dan hangat tubuhnya, burung pun
bernyanyi menyambut sinarnya, terpaan angin lembut tak membuat
orang-orang enggan untuk beraktifitas. Gedung-gedung pencakar langit di
sisi jalan mulai menunjukkan aktivitasnya, toko-toko bertuliskan
sale
mulai didatangi pengunjung, tak banyak mesin berroda empat maupun dua
memadati jalan namun hanya pejalan kaki yang memadati tepi jalan
terutama mereka yang di sebut kaum muda dengan mengenakan pakaian yang
mungkin menurut banyak orang aneh dan seronok. Mereka mengatakan pakaian
tersebut dengan nama
gothic atau harajuku .
Shibuya begitu lah nama kota ini, kota yang paling disukai kaum muda terutama mereka yang menyukai
gothic atau harajuku. Di
tengah-tengah kerumunan orang berjalan kaki terlihat seorang gadis
mengenakan mantel coklat muda dengan rambut coklat terurai berjalan
cukup cepat menuju sebuah tempat yang dipenuhi kaum muda pencinta
fotografi. Gadis itu menghampiri dua orang gadis yang tampak sudah cukup
lelah menantinya yang berada di samping pintu masuk menuju tempat
karya-karya fotografer terbaik dipajang.
'' Haduh, Kiran kau lama sekali.'' Sahut Yoshida dengan muka kesal.
''Haah,
maaf Yoshida.'' Pinta Kiran dengan muka melas, nafas yang masih
tersendat-sendat karena lelah, dan telapak tangan kanan serta kirinya
menyatu seperti memohon.
''Ya sudah ayo kita masuk.''
Sahut Tomoko untuk mencairkan suasana melihat muka Yoshida yang tampak
tidak senang. Ia segera menarik tangan mereka berdua dan melangkah kaki
masuk ke pameran.
Begitu mereka tiba dalam ruangan
pameran dan menitipkan mantel mereka masing-masing, Kiran, Yoshida, dan
Tomoko memandang sekeliling. Ruang pameran itu terihat cukup ramai,
banyak orang yang menikmati hasil karya dari beberapa fotografer terbaik
yang berbeda-beda. Tampaknya pameran fotografi ini merupakan pameran
resmi karena terlihat beberapa wartawan tabloid datang ke pameran
tersebut. Tentu saja Yoshida pasti segera menikmati suasana pameran
tersebut dan decakan kagum tak henti-hentinya keluar dari bibirnya.
Tiba-tiba saat mereka bertiga sedang asik melihat karya seni fotografi
tersebut dua orang pria dan wanita menghampri Yoshida.
Yoshida memang memiliki banyak teman dan kenalan di tempat ini, karena
mereka memiliki hoby yang sama dan berada dalam satu komunitas yang
sama. Yoshida sudah lama tergabung dalam komunitas fotografi ini dan tak
jarang Tomoko hadir menemani Yoshida di setiap acara fotografi yang
berlangsung, hal ini lah yang menyebabkan Tomoko juga memngenal beberapa
kenalan Yoshida dari komunitas fotografi ini. Kiran tidak begitu
memahami hal apa yang sedang diperbincangkan oleh Yoshida, Tomoko dan ke
dua orang kenalan Yoshida yang baru saja datang tadi oleh karena itu ia
memutuskan untuk berjalan melihat-lihat sendiri karya seni – karya seni
fotografi yang tergantung di dinding.
Kiran terus
berjalan dari satu foto ke foto lainnya dan berhenti disetiap foto untuk
memandanginya namun tiba-tiba sebuah foto menarik perhatian Kiran.
Tanpa Kiran sadari bahasa tubuhnya menyatakan kekagumannya dengan foto
tersebut, ia mengerjapkan mata dan menahan napasnya. Foto yang terpajang
di depan matanya tersebut adalah foto seorang gadis mengenakan mantel
coklat muda yang duduk di sebuah kafe. Gadis yang menjadi objek utama
dalam foto itu terdiam memandang cangkir di mejanya dengan raut muka
lelah. Selain warna coklat muda dari mantel dan wajah gadis itu, segala
sesuatu disekitarnya termasuk meja berserta orang-orang di kafe itu
dibuat berwarna hitam-putih dan terlihat kabur, seolah-olah dunia di
sekeliling gadis itu memudar di mata sang fotografer.
“Hey Kiran,” Suara Yoshida terdengar dari balik badan Kiran. Kiran segera berputar menuju arah suara.
“Iya.”
“Perkenalkan
ini Hiro teman ku satu komunitas.” Yoshida mengenalkan Kiran dengan
seorang pria berambut pendek lurus tertatarapih, mengenakan kemeja
berwarna putih bergaris hitam, kulit putih, berhidung mancung, berbibir
tipis , bertubuh tegap tinggi, dengan sebuah kamera
SLR di
tangan dan tali kamera tersebut melilit lehernya. Namun ada sesuatu
dalam tubuh pria tersebut yang membuat Kiran tanpa tersadar begitu lama
memandang pria itu. Mata pria itu, ya mata pria itu begitu indah di mata
Kiran. Mata pria itu memang sipit tetapi bola mata pria itu bulat penuh
sehingga mata pria itu terlihat tidak terlalu sipit. Mata pria itu
berbeda dengan mata Yoshida dan mata Tomoko yang sipit melancip ke atas.
Tanpa Kiran sadari pria itu telah menunduk menyampaikan salam
perkenalan segera Kiran tersadar dari kekagumannya melihat mata pria
tersebut dan langsung membalas salam perkenalan dari pria itu.
“Dia
juga adalah fotografer Kiran, namun ia lebih suka memajangkan hasil
karyanya di galeri rumahnya sendiri Kiran atau mungkin di
blognya.” Yoshida memberikan keterangan lebih lanjut mengenai diri pria tersebut.
“Oh..” Hanya kata-kata itu yang dapat muncul dari bibir Kiran.
Akibat dari perkenalan tersebut Kiran, Yoshida, Tomoko, dan Hiro
akhirnya berjalan menikmati hasil karya fotografer tersebut bersama-sama
dihiasi dengan perbincangan dan sedikit sendagurau.
******************************************************************************************
Musim berganti, masa pun ikut berlalu bersamanya, hubungan Kiran dengan
Hiro menjadi akrab. Hiro sering mengajak Kiran bersama dengan Yoshida
dan Tomoko untuk memotret beberapa gambar pemandangan alam yang indah di
tempat-tempat yang tampaknya biasa saja namun tempat itu menjadi
berubah sangat indah setelah Hiro memotretnya. Hiro tampak begitu ahli
dalam bidang fotografer namun mengapa ia tidak memamerkan hasil karyanya
untuk diperjual belikan? Mengapa ia hanya menikmati karya seninya
sendirian? Pertanyaan seperti itulah tampaknya yang sedang ada dibenak
Kiran ke pada pria tersebut.
Hari cukup cerah,
orang-orang pun melakukan aktivitas mereka di pagi hari namun tidak
demikian halnya dengan Kiran. Kiran begitu malas untuk melakukan
aktivitasnya di pagi hari yang cerah ini, ia hanya terus menutupi
tubuhnya dengan selimut dan menikmati nyamannya ranjang. Alasan Kiran
begitu malas melakukan apa pun hari ini adalah hari libur, ia merasa
bahwa pantas bagi tubuhnya untuk menerima istirahat panjang dari
kelelahan aktivitasnya selama ini. Namun rencana Kiran untuk
bermalas-malasan pagi hari ini gagal, deringan
handphone membangunkannya.
Mata Kiran masih enggan untuk terbuka, tubuhnya masih terasa berat
untuk melakukan apa pun. Kiran tetap membiarkan deringan
handphonenya semakin keras dan dengan sendirinya deringan
handphone itu berhenti.
''Kiran
aku sekarang ada di depan kamar apartementmu.'' Suara itu berasal dari
balik pintu kamar apartement Kiran melalui sebuah kotak kecil di dekat
pintu yang bernama
interphone. Kiran terkaget mendengar suara pria lah yang keluar dari
interphone
tersebut, karena tidak pernah ada satu pria pun mengetahui
apartementnya kecuali ayahnya sendiri, hanya Yoshida dan Tomoko lah yang
sering datang ke apartementnya. Kiran segera bangkit dari ranjangnya
yang nyaman dan melangkahkan kaki menuju pintu kamar apartementnya.
Hiro? Pria itulah yang terlihat dari
interphone
tersebut. Pikiran Kiran bertanya-tanya bagaimana pria itu dapat
mengetahui kamar apartementnya? Pertanyaan itu pun segera terjawab
sewaktu Kiran membuka pintu kamar apartementnya.
''Hey
Kiran, kau pasti baru bangun.'' Yoshida segera masuk ke kamar apartement
Kiran menuju ruang televisi yang berada di depan pintu masuk.
Apartement Kiran memang tidak terlalu besar, pintu masuk berhadapan
langsung dengan ruang televisi, ruang televisi berhadapan dengan ruang
dapur beserta ruang makan, jika mengarahkan langkah ke sebelah kanan
dari ruang televisi tersebut terdapat kamar tamu sedangkan jika
mengarahkan langkah ke sebelah kiri dari ruang televisi mengarah ke
kamar mandi, semua ruangan itu terhubung tanpa sekat atau pun tembok.
Disusul oleh Tomoko dan Hiro masuk ke ruang televisi tersebut.
''Ini
beberapa makanan kecil untuk mu. Ku yakin kau belum sarapan pagi hari
ini.'' Hiro memberikan sebuah kantung plastik berwarna putih ke pada
Kiran yang berisi sandwich, susu, dan buah apel. Dalam hati Kiran
berkata, Hah yang benar saja aku memang baru bangun tidur pantas lah
jika belum ada makanan apa pun yang masuk dalam tubuhku tapi benar juga
tubuhku mulai menunjukkan gejolak-gejolak kelaparan. Raut muka Kiran
terlihat bingung sewaktu ia datang menghampiri ke tiga orang itu yang
sudah berada di ruang tamu dan duduk di sofa yang berhadapan langsung
dengan televisi. Seulas senyuman dan tertawa kecil terlihat dari raut
muka Hiro melihat kebingungan dalam raut muka Kiran.
''Kiran
cepat makan dan ganti pakaianmu sekarang. Kita hari ini akan pergi ke
Hayama.”Perintah Yoshida ke pada Kiran yang semakin bingung. Mendengar
perintah itu Kiran mengerjapkan matanya dan mengerutkan keningnya.
Melihat raut muka Kiran yang semakin bingung seolah-olah berkata, untuk
apa pergi ke sana? Tomoko memberikan penjelasan lebih lanjut sambil
berdiri menghampiri Kiran yang berada di samping televisi.
“Ha.ha.ha.
Haduh Kiran kau tidak mengerti juga? Jika Yoshida sudah mengetakan hal
itu berati hari ini kita akan melalukan pemotretan di sekitar sana.”
Tomoko segera memegang pundak Kiran dan mendorongnya ke ruang makan,
menarik sebuah bangku lalu menyuruh Kiran untuk duduk dan mengeluarkan
semua isi kantung plastik dari Hiro ke atas meja makan seakan-akan
memaksa Kiran untuk cepat makan dan bersiap-siap.
Hayama merupakan sebuah kota kecil di tepi Selat Miura, sebelah selatan
Tokyo dan merupakan kota yang indah. Udara di Hayama sangat segar,
semilir angin pantai yang khas, hijaunya perbukitan, dan keindahan
panorama alam di sana seolah-olah menyambut kedatangan Kiran, Hiro,
Yoshida, dan Tomoko. Kota ini memang sangat cocok bagi orang-orang yang
senang memotret pemandangan alam. Dari Kota ini dapat terlihat dengan
jelas gunung fuji yang berwarna biru muda di balut salju putih di
atasnya.
Hiro memarkirkan mobilnya di sebuah jalan
yang langsung mengarah ke laut dan dari tempat mobil itu diparkir dapat
terlihat dengan jelas laut yang biru,
torii *, menara suar,
tebing-tebing batu dekat pantai dan beberapa rumah nelayan. Angin
semilir hangat menerpa tubuh mereka bertiga begitu mereka keluar dari
mobil. Hiro pun segera mengambil ancang-ancang, mengambil kamera
SLRnya,
mengalungkan tali kamera tersebut ke lehernya, melihat sekelilingnya
mencari inspirasi dan sesekali ia membidik lalu memotret objek-objek
yang dianggapnya menarik demikian pula halnya dengan Yoshida.
Sesekali Yoshida memperlihatkan hasil pemotretannya ke pada Hiro
demikian pula dengan Hiro. Ya, mereka berdua seperti tengelam dalam
asiknya melakukan fotografi, sedangkan Kiran dan Tomoko segera mengambil
posisi yang nyama duduk di jalan tak jauh dari mobil Hiro diparkirkan
dengan air laut tepat berada di bawah kaki mereka. Mereka sangat merasa
nyaman dengan terpaan angin hangat yang berhembus membelai tubuh mereka
dan membuat rambut mereka yang terutai terbang. Tanpa Kiran sadari
sewaktu ia sedang memejamkan mata menikmati angin yang berhebus dan
seulas senyuman terpancar dari bibirnya Hiro memotretnya. Tak hanya saat
itu saja Hiro memotretnya, ketika Kiran bersendaugurau dengan Tomoko
dan terkadang Yoshida pun ikut dalam sendagurau tersebut Hiro
memotretnya pula, demikian pula saat rasa bosan mulai terpancar dalam
raut muka Kiran yang sering menguap entah berapa banyak.
*
torii
adalah sebuah tiang berwarna merah yang menurut kepercayaan shinto
sebagai pemisah antara daerah suci atau kuil dengan tempat tinggal
manusia biasa.
Matahari semakin terik, rasa lapar pun
mulai terasa, Kiran, Hiro, Yoshida, dan Tomoko memutuskan untuk
beristirahat sejenak dan pergi ke salah satu tempat makan sederhana di
sekitar sana. Hiro dan Yoshida tampak seperti tidak ingin lepas dari
kameranya masing-masing, mereka selalu membawanya dan menaruh kemera itu
tepat di samping meja makan mereka, bahkan setelah mereka selesai
tertebih dahulu makan dibandingkan dengan Kiran dan Tomoko mereka segera
menaruh kamera itu kembali diposisi awal yaitu di dada mereka dengan
mengalungkan tali kamera tersebut. Ketika Tomoko sibuk menghabiskan
makanannya, Yoshida sibuk melihat hasil pemotretannya di kamera, Hiro
kembali lagi mencuri foto Kiran yang juga sedang sibuk menghabiskan
makannya.
Jekrek....
“Hey, kau memotret ku?” Tanya Kiran.
Hiro terkaget menyadari bahwa gadis itu mengetahui apa yang baru saja ia lakukan. Segera Hiro mengelengkan kepalanya.
“Hey,
jangan bohong. Tadi aku melihat sendiri kau memotret ku.” Mata Kiran
menyipit dengan sumpit di tangannya mengarah ke pada Hiro. Ia tidak
percaya ke pada pria itu.
“Ayo berikan ke pada ku kamera mu sini.” Kiran memaksa Hiro memberikan kamera
SLRnya dengan telapak tangan sebelah kanan tempat sumpitnya dipegang mengarah ke atas dan sesekali digoyangkan ke atas.
“Ayo berikan ke pada ku.” Kiran semakin memaksa.
“Hah, kau ini tidak percaya sekali pada ku. Sini ku perlihatkan isi foto kamera ku.”
Kiran pun mendekatkan dirinya ke Hiro dan melihat foto-foto di kamera
Hiro hasil pemotretannya. Hembusan napas pendek keluar dari mulut Kiran
setelah melihat foto-foto dikamera Hiro. Ternyata kamera tersebut memang
tidak berisi foto Kiran.
''Ada?'' Tanya Hiro dengan alis matanya terangkat.
Kiran menjawab pertanyaan tersebut dengan menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
''Jadi, apa yang perlu kau katakan setelah memfitnah ku?''
Mendengarkan perkataan itu Kiran segera mengangkat kepalanya,
menyipitkan matanya, membuat pipinya bergelembung lalu keluar kata-kata
ini dari mulutnya,''Aku tidak memfitnah mu.''
''Tadi yang mengira ku memotret mu siapa?''
''Aku.'' Kiran menjawab sambil menunjuk dirinya sendiri dan rautnya muka polos.
''Jadi
siapa yang memfitnah ku?'' Pandangan Hiro ke arah Kiran begitu tajam,
muka mereka pun sangat dekat sekali sewaktu Hiro menanyakan hal itu.
''Tapi
aku tidak memfitnah mu. Aku kan hanya bertanya.'' Kiran membenarkan
dirinya, raut mukanya seperti anak kecil yang membenarkan dirinya
sewaktu dikoreksi oleh orangtuanya.
''Tapi kau sudah salah mendugakan?''
Kiran hanya mengangukkan kepalanya.
''Lantas apa yang harus kau katakan karena sudah salah menduga?''
''Baik
lah aku minta maaf. Tapi ingat, aku TIDAK MEMFITNAH MU.'' Kiran
menandaskan perkataannya itu sambil mengayunkan sumpit di tangannya.
''Jadi tolong diralat perkataan mu itu sebelumnya.'' Kiran melanjutkan perkataannya.
Hiro memalingkan mukanya ke samping dengan cepat sambil berkata,''He'h
tak mau.'' Seperti anak kecil yang sedang mengambek ke pada orangtuanya.
Melihat tingkah Hiro seperti itu Kiran hanya dapat menunjukkan ekspresi
muka tidak terima. Kiran menyipitkan matanya sambil memandang Hiro dan
menggelembungkan pipinya.
''Ha.ha.ha'' Hiro tertawa
melihat raut muka Kiran tersebut lalu mengacak-acak rambut gadis itu.
Diperlakukan seperti itu Kiran hanya bisa terdiam dengan mata menyipit
dan mulut tertekuk seperti cemberut.
Surya akan
kembali ke pernaungannya di balik Gunung Fuji. Pemandangan yang begitu
indah dan tak boleh terlewatkan bagi seorang fotografer. Hiro segera
membidik pemandangan tersebut dari belakang tubuh Kiran yang sedang
mengangkat ke dua tangannya seperti seseorang yang sedang terbebas
melepaskan masalahnya. Bidikan-bidikan pemandangan yang indah terus Hiro
dan Yoshida lakukan. Pemandangan sore hari memang begitu indah di
tempat ini. Namun saat sedang membidik beberapa pemandangan-pemandangan
indah Hiro beberapa kali mengucak-ucak matanya, dan mengutak-atik kamera
SLRnya.
''Yoshida, coba tolong aku.'' Hiro meminta Yoshida yang sedang sibuk memotret untuk membantunya.
Yoshida pun menghampiri Hiro dan segera memegang kamera Hiro untuk
melihat apakah kamera itu sudah fokus atau belum sambil mencoba-coba
membidik suatu pemandangan yang indah.
''Tampaknya tak ada yang salah Hiro.''
''Fokus kamera ini kau setel masih bagus. Masih terfokus dengan baik.''
''Oh
aneh sekali, tadi ku rasa sangat kabur.'' Hiro berkata dengan muka
menyamping dan terlihat bingung dan kedua tangannya memegang kamera
SLRnya itu.
''Ayo kita pergi ke Yokohama sekarang.'' Yoshida mengajak sambil melangkahkan kaki menuju mobil Hiro.
''Hah? Untuk apa lagi kita ke sana?'' Tanya Kiran bingung dan ikut melangkahkan kaki pula menuju mobil Hiro.
''Kita akan mengambil suasana gemerlap di sana Kiran.'' Tomoko menjelaskan.
''Heh?
Apa? Kalian tidak salah? Kenapa tidak lain hari saja kita ke sana lagi?
Apakah kalian tidak lelah? Haduh, aku tak habis pikir dengan kalian.''
Kiran protes.
''Sudah ayo masuk.'' Hiro memegang pundak Kiran, membuka pintu mobil, dan memaksa Kiran duduk.
Yokohama adalah kota yang paling indah dengan suasana malam. Gemerlap
lampu dari gedung-gedung tinggi sangat indah terlihat di tempat ini
ditambah dengan arsitektur gedung pencakar langit yang indah dan unik
menambahkan keindahan kota Yokohama.
Yoshida dan
Hiro lagi-lagi seperti orang yang tidak sadar akan sekitarnya jika telah
memang kamera dan melihat pemandangan yang indah. Lagi-lagi Hiro
mengucak matanya dan minta Yoshida untuk membenarkan fokus kamera itu
namun lagi-lagi Yoshida berkata bahwa fokus kamera itu sudah tepat. Hiro
tampak lelah dan ia memutuskan untuk duduk berdekatan dengan Kiran.
''Wah, akhirnya kau bisa lelah juga ya.'' Kiran meledak Hiro.
Hiro tertawa kecil dan berkata,''Hey, kau kira seorang fotografer seperti ku tidak boleh lelah?''
''Ya mungkin saja kau punya kekuatan ekstra.''
''Memangnya aku seorang super Hiro.''
''Kau kan memang Hiro.''
''Oh, iya ya. Aku kan memang Hiro.'' Kata Hiro sambil memang dagunya seperti berfikir dan mengangukkan kepala.
Tiba-tiba rasa ingin tahu Kiran muncul, ia pun mengambil kamera
SLR yang
Hiro letakkan di tengah-tengah tempat mereka duduk. Kiran mencoba-coba
menggunakannya, melihat apa yang sedang Kiran lakukan Hiro berinisiatif
untuk mengajarkan Kiran cara memotret dengan kamera tersebut. Sesekali
Hiro memperagakan cara menggunakannya, mengatur fokusnya, dan
mengajarkan cara melihat objek yang tampak biasa menjadi luar biasa
indah. Kiran tampak menikmati pengajaran yang Hiro berikan.
''Ayo kita pulang sekarang. Tampaknya hari semakin larut.''
Kata-kata Yoshida itu membuat acara ajar-mengajar Hiro berhenti dan Kiran segera memberikan kamera
SLR ke pada Hiro, namun saat Kiran memberikannya tangan Hiro seperti kurang tanggap meraihnya.
BRUK... Kamera itu pun terjatuh di depan mata Kiran dan Hiro. Kiran
merasa sangat bersalah ia pun segera meminta maaf dengan mengemis-ngemis
ke pada Hiro. Seperti sedang memikirkan sesuatu Hiro tidak langsung
menjawab permohanan maaf Kiran.
''Ah? Iya tidak apa-apa Kiran. Jangan khawatir kameranya akan baik-baik saja. Ha.ha.ha''
Kiran masih merasa bersalah ke pada Hiro, ia terus memohon dan matanya pun mulai mendung.
''Sudah tidak papa.'' Hiro mencoba meredakan kepanikan dan rasa bersalah Kiran sambil mengusap kepala Kiran.
''Ayo kita pulang.'' Hiro pun meraih tangan Kiran mengajaknya masuk ke mobil.
Dalam perjalanan pulang Hiro mematung, ia hanya menjawab
pertanyaan-pertanyaan dengan kata-kata singkat atau mengangukkan kepala,
atau mengulaskan senyum singkat, seperti ada sesuatu yang Hiro pikiran.
Melihat tingkah laku Hiro seperti itu Kiran merasa semakin tidak enak
dengan apa yang baru saja ia lakukan. Kiran mendapatkan urutan paling
terakhir diantar ke rumah, sewaktu mobil yang dikendarai Hiro sampai
tepat di gedung apartement Kiran meledak lah tangisan Kiran dari dalam
mobil. Kiran yang duduk tepat di samping pengemudi tidak sanggup menahan
air matanya yang terus mengalir karena perasaan bersalahnya ke pada
Hiro. Hiro yang duduk di tempat duduk pengemudi membelokkan tubuhnya
menatap Kiran.
''Sudah jangan dipikirkan lagi. Tidak papa.'' Hiro mengelus kepala Kiran.
''Tapi kau memikirkannya.'' Kiran berkata diiringi isakkan tangisnya.
''Aku tidak memikirkannya.''
''Lantas mengapa kau bersikap aneh dari tadi?''
''Karena ada hal lain yang sedang ku pikiran.''
''Apa?''
''Dirimu.''
Kiran segera mengangkat kepalanya, menatap Hiro dengan raut muka bingung.
''Ha.ha.ha.
Sudah ayo turun, sudah malam.'' Hiro keluar dari dalam mobilnya dan
membukakan pintu mobil untuk Kiran. Kiran pun menghapus air matanya dan
segera keluar dari dalam mobil.
Kiran melangkahkan
kakinya menaiki anak-anak tangga yang menuju pintu masuk gedung
apartementnya dan memutar tubuhnya ke belakang, ke arah Hiro yang tidak
beranjak dari posisinya membuka pintu mobil untuk Kiran tadi. Kiran pun
melambaikan tangannya, namun Hiro tidak beranjak untuk masuk ke dalam
mobilnya. Kiran terbingung lalu Hiro mengangkat tangannya mengisyaratkan
agar Kiran masuk terlebih dahulu ke dalam gedung apartementnya. Kiran
pun mengangukkan kepalanya dan melangkahkan kaki ke dalam gedung
tersebut. Segera setelah tubuh Kiran menjauh dan menghilang, Hiro masuk
ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya.
''Hey Kiran!''
Yoshida membangunkan Kiran dari lamunannya. Kiran pun tersadar bahwa ia
telah cukup lama terdiam memikirkan seseorang yang telah lama tak
terlihat.
''Kau masih memikirkan kejadian waktu itu?''
Tomoko bertanya ke pada Kiran yang sedang mengaduk-aduk secangkir coklat
hangat di meja tempat ia duduk, ia tampak lesu, mukanya selalu tertekuk
akhir-akhir ini. Kiran hanya mengangukkan kepalanya menjawab pertanyaan
Tomoko.
''Hah, sudah ku duga. Pria itu juga sudah jarang terlihat dalam acara-acara
getring fotografi semenjak kejadian itu.'' Yoshida menambahkan informasi.
Mendengarkan informasi yang Yoshida berikan Kiran semakin memikirkan
pria itu. Ya, pria itu adalah Hiro. Hiro sudah tidak pernah terlihat
semenjak kejadian itu sewaktu kamera
SLR miliknya terjatuh dari tangan Kiran yang ingin mengembalikannya.
''Kau sudah pernah menghubunginya?'' Tanya Tomoko. Kiran mengangukkan kepalanya lagi.
''Ada balasan?'' Yoshida penasaran. Kiran hanya menggelengkan kepalanya.
Serentak Yoshida dan Tomoko menghela napas panjang melihat Kiran yang
dari tadi tidak berkata satu kata pun. Tiba-tiba keheningan Kiran pecah.
''Sepertinya aku ingin pulang ke apartement sekarang.''
''Baik lah biar kita yang mengantar mu Kiran.'' Kata Tomoko sambil mengajak Yoshida, Yoshida pun mengangukkan kepalanya.
Sambil senyum kecil Kiran berkata, ''Tidak perlu.''
''Sudah
biar kita antar, nanti kau mencoba bunuh diri lagi. Ha.ha.ha'' Yoshida
berkata. Kiran hanya membalas dengan tertawa kecil.
Kiran menghempaskan dirinya ke sofa ruang televisi apartementnya dan menyalakan televisi. Mengontak-ganti
chanel
televisi di depannya namun sepertinya tidak ada satu pun dari acara
televisi yang ia lihat dapat mengusir rasa sedihnya dan pikirannya
tentang Hiro yang sudah tidak pernah terlihat. Sesat sedang terlamun
dalam pikirannya tentang Hiro deringan
handphone dalam tas Kiran membuatnya tersadar dan Kiran pun segera mengambil
handphone tersebut. Kiran terkaget melihat siapa pengirim pesan dari handphonenya tersebut, Hiro.
''Kiran aku menunggu mu di depan gedung apartementmu sekarang. ''
Melihat pesan itu Kiran segera terburu-buru mematikan televisi,
mengambil tasnya di sofa, mengunci kamar apartementnya dan keluar dengan
langkah cepat menuju pintu masuk gedung apartementnya tersebut.
Kiran
tercengang, mata bulatnya memenuh melihat pria yang sedang berdiri dari
samping mobil di depan pintu masuk gedung apartementnya.
''Hiro?'' Tanya Kiran ke pada dirinya sendiri.
''HIRO!!''
Kiran berteriak setelah menyadari bahwa pria yang di depannya memang
benar Hiro dan segera menuruni anak tangga menghampiri pria itu lalu
menarik ke dua pipi Hiro menggunakan ke dua tangannya.
Hiro memegang telapak tangan Kiran yang berada di pipinya dengan ke dua
tangannya lalu menariknya ke bawah tersenyum. Tanpa berkata apapun Hiro
segera membukakan pintu mobilnya yang berada di samping pengemudi
dengan tangan sebelahnya sedangkan tangannya sebelah lagi masih memegang
tangan Kiran untuk menyuruh Kiran masuk dalam mobil. Kiran bingung
melihat reaksi Hiro yang tiba-tiba menyuruhnya untuk masuk mobil. Hiro
menyalakan mesin mobilnya dan siap-siap melaju.
''Kita
akan ke mana?'' Dengan muka bingung Kiran bertanya. Mukanya memiring
menghadap Hiro yang sedang menyetir dan mata belonya membesar.
Sambil menyetir Hiro tersenyum dan berkata,''Ke tempat yang indah.''
''Oh..'' Kiran mengangukkan kepala.
''Wah tempatnya indah sekali!'' Kiran berseru melihat tempat yang berada di depan matanya.
Tempat itu begitu indah, terdapat pohon sakura berjejer rapih di sisi
jalan aspal sebelah kanan dan kiri jalan aspal tersebut, di antara pohon
sakura satu dan pohon sakura lainnya terdapat kursi panjang terbuat
dari besi berwarna putih setiap selang tiga pohon sakura.
''Indah bukan?'' Tanya Hiro.
Kiran mengangukkan kepala berkata setuju.
''Ayo
kita duduk di sana.'' Tunjuk Hiro ke suatu bangku panjang dengan
sebelah tangan lainnya memegang sebuah kantong plastik berwarna putih
dan sebuah tas gitar terdapat di bahunya.
''HUA...Bunga
sakuranya indah sekali.'' Kiran menatap ke dahan-dahan pohon sakura yang
dari sanalah bunga-bunga sakura berjatuhan. Ini adalah musim semi cukup
banyak orang datang ke tempat ini, namun di sekitar tempat Hiro dan
Kiran duduk tidak begitu banyak orang.
Hiro menaruh gitar di samping kursi itu, dan membuka kantong plastik putih yang di bawanya tadi sambil berkata,
''Ku tahu kau pasti belum makan siangan.''
Ya, Hiro benar. Kiran belum sempat makan siang hari ini, ketika di kafe
tadi bersama Yoshida dan Tomoko ia hanya meminum secangkir coklat
panas.
''Ini masakan buatan mu sendiri?'' Tanya Kiran heran.
''Ya ini buatan ku. Coba lah.''
''Aku tak tahu kau bisa masak.''
Saat Kiran akan menyantapnya ia melihat salah satu makan yang bukan makan khas jepang dari dua buah tempat makan yang Hiro bawa.
''Ini bukankah
bimbimbap*?''
''Iya. Kau tahu.''
''Kau bisa masakan korea?''
''Iya. Ibuku yang mengajarkannya.''
''Oh..''
''Bagaimana rasanya?''
''Hm..Enak Sekali..'' Kiran menjawab dengan mulut yang masih berisi penuh makan.
Tempat makan pun dirapihkan, dan Kiran kemudian meminum segelas air
putih dari tempat minum yang Hiro bawa berbentuk lensa kamra
SLR. Saat Kiran sedang melakukan hal itu Hiro mengambil tas gitarnya, membukanya dan mengambil gitar yang berada di dalamnya.
*
bimbimbap adalah masakan khas korea atau biasa disebut nasi campur yang terdiri dari beberapa warna.
''Kau bisa bermain gitar?''
''Iya.''
''Ku
kira kau tak bisa. Selama ini yang ku tahu kau hanya seorang pria yang
berkutat pada kamera.. saja, ternyata ada banyak hal dalam dirimu yang
tidak ku ketahui. Apa lagi yang ku tak tahu dari dirimu?''
Hiro tertawa dan berkata, ''Nanti juga kau mengetahuinya.''
Hiro mulai memainkan gitar di tangannya, tangga-tangga melodi muncul
dari gitar tersebut yang membentuk suatu irama dari sebuah lagu yang
berjudul
if tomorrow never comes dengan penyanyi aslinya adalah
Ronan Keating.
Hiro membawakan lagu itu dengan lembut dan indah, Kiran terpesona
melihatnya. Kiran sangat menikmati dendangan lagu itu. Pada saat
kata-kata terakhir dari lagu itu Hiro nyanyikan, tiba-tiba tubuh Hiro
semakin mendekat ke Kiran. Kiran terdiam entah mengapa tubuhnya
tiba-tiba terasa kaku. Semakin Hiro mendekat semakin cepat jantung Kiran
berdetak. Kecupan hangat tiba-tiba terasa di kening Kiran. Ya, Hiro
mencium kening Kiran. Sesat setelah Hiro melakukan itu Kiran masih
terdiam dan saat ia tersadar ia mengerjapkan matanya dengan pandangan
kosong dan bola hitam matanya terlihat penuh. Kiran kemudian mengalihkan
mukanya ke Hiro, melihat muka Kiran yang polos Hiro tertawa kecil lalu
mengelus kepala Kiran.
Hiro segera membuat topik
pembicaraan, di tengah-tengah pembicaraan dan sendagurau mereka Kiran
bertanya,''Kau hari ini tampak berbeda?''
''Apa yang membuat ku berbeda?''
''Pacar mu tak ada di samping mu.''
''Siapa?''
''Kamera SLRmu. Bukan karena aku merusaknya kan sehingga dia tidak ada di sini?''
Hiro tertawa mendengarnya lalu berkata, ''Bukan. Tapi hari ini memang aku ingin berdua dengan dirimu saja.''
''Kenapa?'' Tanya Kiran dengan polosnya.
''Karena kau adalah gadis yang ku cintai.''
Tanpa Kiran sadari sewaktu Hiro mengatakan hal itu jantungnya berhenti
berdetak sejenak dan tubuhnya terdiam. Hiro tertawa dengan bahagianya
melihat Kiran. Melihat Hiro yang begitu bahagia Kiran menyipitkan
matanya menjulurkan mukanya ke depan Hiro dan berkata, ''Kau berbohong
ya? Kau senang sekali mempermainkan orang lain. Hu..''
''Ha.ha.ha. Ayo kita pulang sudah terlalu sore.''
Kiran sampai di apartementnya dan langsung membersihkan tubuhnya. Keluarnya ia dari kamar mandi suara keras dari
handphonenya memaksanya harus segera mengangkat telepon tersebut.
''Halo Yoshida ada apa?''
''Kiran cepat ke rumah sakit. Hiro sedang di UGD.''
Tanpa berlambat-lambat Kiran segera menuju rumah sakit dengan
taxi. Dalam perjalanan yang ia pikiran hanya ada apa dengan Hiro? Tadi sore ia masih baik-baik saja. Ada apa dengannya?
Kiran
berlari dengan cepatnya menuju UGD tempat Hiro dirawat. Sesampainya di
sana ia melihat ke dua orangtua Hiro, paman Hiro, Tomoko dan Yoshida.
''Ada apa dengan Hiro? Ia baik-baik saja?'' Kiran yang sampai sangat panik dan segera dihampir oleh Yoshida dan Tomoko.
Yoshida dan Tomoko menenangkan Kiran dari kepanikannya dan menyuruhnya
untuk duduk di kursi rumah sakit yang panjang berwarna coklat tepat di
depan ruang UGD. Yoshida dan Tomoko pun menjelaskan bahwa selama ini
Hiro mengidap penyakit dan dia tidak pernah menceritakannya ke pada
mereka bertiga penyakitnya kecuali keluarganya. Pada saat suasana hati
Kiran puas dengan informasi yang di berikan oleh Yoshida dan Tomoko
suasana anatara mereka pun hening dan terdengar percakapan anatara ibu
Hiro dengan paman Hiro, bahasa yang digunakan terdengar asing.
Mereka berbicara dengan dialek bukan jepang namun dari asia utara lain.
Korea, Kiran langsung menduganya. Kiran sedikit mengetahui bahasa itu
karena temen-temennya satu kosan dahulu di Indonesia suka sekali dengan
Korean Pop atau biasa di sebut Kpop dan bahkan mereka dapat mengerti
serta berbicara sedikit bahasa korea. Kiran teringat akan kata-kata pria
itu bahwa ia dapat memasak masakan korea dari ibunya. Kiran menyadari
bahwa Hiro adalah putra dari orangtua yang berlatarbelakang berbeda,
ayahnya orang Jepang sedangkan ibunya orang Korea. Hal ini lah yang
membuat mata Hiro terlihat berbeda dari mata orang Jepang lainnya dan
indah di mata Kiran.
Akhirnya setelah menunggu
beberapa jam dokter keluar dari dalam ruang UGD dan langsung dihampri
oleh keluarga Hiro. Raut muka dokter menunjukkan firasat buruk, seketika
itu juga ledakan tangisan pecah dari depan kamar ruang UGD ketika tubuh
Hiro dibawa keluar bertutupkan kain putih. Melihat hal itu tak ada satu
pun keluarga Hiro, Kiran, Yoshida, dan Tomoko di tempat itu yang kuat
menahan tangisnya. Dada Kiran begitu sesak melihatnya, sulit baginya
untuk bernapas, air matanya terus mengalir, bahkan ia tidak sanggup
untuk menopang tubuhnya sendiri. Kiran yang berada tepat di samping
ranjang Hiro yang terbujur kaku tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya tepat di
tubuh Hiro.
“Kenapa kau tidak pernah bercerita? Mengeapa
kau baru mengatakan hal itu tadi? Kenapa kau mengambil keputusan dengan
sepihak? Kau tau aku juga memiliki perasaan itu.”
Kiran tidak sanggup untuk menopang tubuhnya lagi ia pun terjatuh ke
lantai dengan posis terduduk dan air mata yang terus membanjiri pipinya.
Perawat segera membawa tubuh Hiro ke ruang mayat dan keluarganya
mengikuti dari belakang. Tomoko dan Yoshida tetap di sana bersama Kiran
yang tak sanggup menahan tumpahan air matanya.
******************************************************************************************
Seminggu telah berlalu semenjak meninggalnya Hiro, namun bagi Kiran
rasanya baru kemari ia bertemu pria itu, mengenalnya, menyukainya, dan
sampai akhirnya ia meninggal. Kiran mencoba menghibur dirinya dengan
membuka situs jejaring sosial, mungkin ada beberapa status dari
teman-temannya yang dapat membuatnya tertawa.
Ia memencet-mencet tobol
laptopnya yang berada di atas meja belajar kamar tidurnya. Tak beberapa lama setelah situs itu terbuka dan masuk ke dalam
profil accoutnya Kiran melihat sesuatu di dinding
profilnya, foto-foto indah dirinya dengan
pose
yang berbeda-beda dan tempat yang berbeda. Melihat siapa yang
memberikannya membuat Kiran tercengang, Hiro. Ya, pria itu mengirimkan
foto-foto Kiran yang selama ini ia ambil secara diam-diam ke dinding
profil gadis itu. Kiran semakin terkaget melihat waktu pria itu mengirimkan ke dinding
profilnya yaitu beberapa menit setelah Kiran sampai di rumah dan beberapa jam sebelum kematiannya.
Kiran tak sanggup menahan luapan air matanya yang sudah berada di
pelupuk mata dan siap mengalir dengan derasnya. Kiran pun tersadar akan
apa yang pria itu katakan sewaktu mereka berada di bangku panjang
berhiaskan pohon sakura yang berguguran, ''Ku kira kau tak bisa. Selama
ini yang ku tahu kau hanya seorang pria yang berkutat pada kamera..
saja, ternyata ada banyak hal dalam dirimu yang tidak ku ketahui. Apa
lagi yang ku tak tahu dari dirimu?'' Tanya Kiran saat itu ke pada Hiro
yang akan memainkan gitar. Saat itu Hiro hanya tertawa dan berkata,
''Nanti juga kau mengetahuinya.'' Inilah jawaban dari pertannyaan Kiran,
hal lain yang tidak ia ketahui dari pria itu adalah bahwa pria itu
selama ini begitu memperhatikan Kiran bahkan sebelum awal perkenalannya
dengan pria itu.
Kiran tak sanggup mengetahui hal
itu, pria itu begitu menyukai Kiran dari dahulu. Mengetahui hal itu
membuat dada Kiran semakin sesak, air matanya terus menderas, tubuhnya
menjadi bergetar, dan ledakan suara tangis pun keluar dari mulutnya.
Kiran menyesali kepolosannya selama ini yang tidak mengetahui seberapa
besarnya pria itu menyukainya, seberapa lamanya pria itu menanti
berkenalan dengan dirinya, dan bahakan seberapa besar pria itu mencari
tahu tentang dirinya. Pada foto paling terakhir dimasukkan ke dalam
dinding Kiran terdapat tulisan di atas foto itu, tulisan itu adalah
'Coba
lihat foto siapa ini? Ini adalah gadis yang paling ku cintai. Dia
selalu terlihat bahagia dan dapat membuat ku bahagia. Senang rasanya
jika dapat terus bersamanya. Andaikan penyakit kejam ini tidak muncul
pasti hal itu bisa terjadi. Tapi apa daya kita tidak bisa semaunya
bukan? Situasi tidak dapat kita ubah, namun pikiran kita lah yang dapat
kita ubah. Kiran, engkau boleh terus memikirkan ku namun jangan hal itu
membuat kebahagian mu hilang. Terus lanjutkan kehidupan mu dan tunggu
aku di suatu hari nanti, ku akan menanti mu di sana. Di taman yang
indah. Terus Semangat Kiran......Ku Sayang. ^^/..'
Kelegaan sedikit terpancarkan setelah Kiran membaca kata-kata itu, namun air mata Kiran belum dapat terhenti.
Bulan-bulan
telah berlalu semjak meninggalnya Hiro, Kiran terus melanjutkan
hidupnya dengan bantuan sahabat-sahabatnya Yoshida dan Tomoko, namun
pikiran akan pria itu masih terus melekat dalam pikiran Kiran, baginya
belum ada pria satu pun yang dapat mengantikan posisi pria itu. Meskipun
tetap memikirkan pria itu, Kiran tetap tertawa dan melakukan kegiatan
lainnya seperti biasanya walaupun ia tetap merasa ada sesuatu yang
hilang dalam kehidupannya namun kata-kata Hiro yang ia baca waktu itu
membuatnya terus berjuang.