Seorang
gadis muda berumur 19 tahun mengenakan celana jeans hitam, berjaskan warna putih, bertubuh tidak terlalu tinggi,
warna kulit kuning langsat, rambutnya yang tidak terlalu panjang terkuncir kuda
dengan wajah lelah dan letih menghempaskan dirinya ke lantai. Ia terlihat
sangat lelah setelah keluar dari laboratorium yang terletak di lantai dua. Ia menghempaskan
diri ke lantai untuk duduk beristirahat dari kelelahannya dan mulai membuka jas
laboratorium yang ia kenakan. Setelah ia duduk, beberapa temannya menghampiri
untuk beristirahat pula. Kampus tempatnya meraih ilmu dan mendapatkan peluang
untuk dapat berkerja memang tidak terlalu besar, hanya berlantai dua dengan
lorong yang cukup besar berada di antara beberapa kelas.
Di
sekitar lorong kelas terdapat cukup banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas
dengan laptop mereka, ada pula yang hanya mengunakan fasilitas wifi di kampus
untuk hal-hal lain selain dari tugas, ada yang hanya duduk beristirahat atau
menunggu untuk dapat masuk ke kelas yang masih diisi oleh kelas lain, hal ini
lah yang membuat lorong tersebut semakin terlihat kecil, sempit, dan padat. aKetika
sedang berbincang-bincang dan bersendagurau dengan teman-temannya untuk
menunggu jam matakuliah berikutnya di mulai, handphone gadis muda tersebut berbunyi, ia segera merogoh tas
gembloknya yang berwarna biru kehitaman untuk mengambil handphone, dan ternyata ada sebuah
pesan singkat baru saja masuk ke handphonenya
dari seseorang yang menempati posisi penting di hati nya.
“Siang dhek, hari ini ada acara
makan-makan di rumah ku. Kamu bisa ikut?”
Ya,
gadis muda ini bernama Kiran, ia mengambil jurusan kimia di sebuah perguruan
tinggi negri yang terletak di sebuah kabupaten di jawa barat. Awalnya ia tidak
terlalu memedulikan perkataan orang-orang yang mengkatakan bahwa tempat yang ia
tinggali sementara tersebut kurang menarik sebagai tempat gaul, dan bahkan sekarang ketika ia mengenal pria itu, ia berani
untuk mengatakan bahwa tempat yang ia tinggali sementara itu adalah tempat yang
indah, dan cukup gaul meskipun tak segaul tempat rumahnya berdiri.
Kiran mulai menggerakkan
jari-jarinya untuk menjawab pesan itu,
“jam berapa Mas?”
“Sore, sekitar jam 17.00. Bisa
ikut?”
“Sepertinya bisa Mas.”
“Ok, sampai nanti ya.”
Mata
kuliah yang cukup menguras otaknya akhirnya selesai sore ini, raut muka yang
semakin lelah terpacar. Kiran dan beberapa temannya yang searah pulang,
berjalan menuju kosan menelusuri jalan keluar dari kampus dan ke kosan mereka
masing-masing. Dalam perjalanan pulang mereka selalu diiringi sendaugurau,
tanpa terasa jalan akhirnya memisahkan mereka ke tempat kosan. Kiran kini
berjalan sendiri menuju kosan. Berharap dapat beristirahat sejenak dari
kelelahannya hari ini, Kiran memutuskan untuk tertidur sejenak di tempat tidur
kamar kosannya yang kecil, lebarnya hanya dapat menampung tujuh buah keramik
standar dan panjangnya menampung dua belas keramik standar meskipun terlihat
tidak nyaman tetapi tidak masalah bagi Kiran, ia hanya membutuhkan tempat ini untuk
istirahat dari kelelahan dan kepenatan. Saat ketika ia sedang tertidur selama
beberapa menit suara handphone
membangunkannya.
“Dhek, sudah dimana?” Demikian
tulisan yang terbaca dari pesan tersebut.
“Wah, aku masih di kosan Mas.
He.he.he. Sebentar lagi sepertinya aku akan berangkat ke sana.”
“Ok. Nanti kalo sudah sampai depan
perumahan kasih tau Mas ya.”
“Ok.”
Pesan ini membuat Kiran terpakasa
terbangun dari istirahatnya dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah pria yang
mengisi posisi yang penting dalam hatinya tersebut.
Dalam
perjalanan menuju rumah pria tersebut, pikiran Kiran mulai melayang dan ia mengingat
bagaimana pertama kali ia bertemu dengan pria tersebut dari ketidaksengajaan,
pria itu dululah yang mengejarnya
dan bagaimana ia akhirnya setuju untuk memiliki hubungan yang lebih akrab
dengan pria itu. Pria
tersebut mengawali pertemanannya dengan Kiran dengan mengirim pesan dari handphone seolah-olah sudah mengenal
Kiran dari dulu tetapi Kiran tidak mengenal nama itu dengan menggunakan nama
yang tidak ia kenal, Kiran sebenarnya sudah kenal pria ini dari perkenalannya
di tempat makan bersama saudaranya, tapi menurutnya itu hanya perkenalan biasa,
sampai akhirnya mereka sering bertatap muka dan bertemu di pertemuan-pertemuan.
Pria itu kemudian sering mengirimkan pesan
berupa kata-kata lucu, atau bijak ke pada Kiran, Kiran sering menanggapi pesan
tersebut karena jika tidak pria tersebut pasti mengirimkan pesan terus menerus
ke padanya dan bertanya jika Kiran tidak membalas pesan-pesannya. Awal
pendekatan pria itu hampir tiap saat mengirimkan pesan ke padanya, menanyakan
sedang apa, di mana, atau bercerita tentang keadaannya. Pria tersebut selalu
berusaha untuk mendapatkan perhatian Kiran, mungkin hal itulah yang membuat
Kiran akhirnya menerimanya meskipun pada saat itu ia masih memiliki perasaan
suka dengan seorang pria yang tak pernah ia ketahui namanya ketika ia duduk di
sekolah dasar. Ya, Kiran menyukai seorang yang suka berkerja keras. Kendaraan
umum yang ditumpangi Kiran membawanya hampir sampai di perumahan menuju rumah
pria itu, Kiran pun bersiap-siap untuk turun dari kendaraan umum tersebut.
“Mas, aku sudah sampai di depan perumahan.”
“Sip. Tunggu di sana ya, aku akan
jemput.”
“Baik, Mas. ^^..”
Kiran menyeberangi jalan yang cukup besar
untuk sampai ke depan perumahan tempatnya ia akan menunggu pria tersebut. Berhenti
sejenak dan berpikir sejenak di depan puri perumahan, Kiran berpikir mungkin
lebih baik jika dirinya langsung saja jalan menuju rumah pria itu tanpa
menunggu pria tersebut menjemputnya. Lampu-lampu jalan mulai bersinar menerangi
jalan Kiran, matahari kembali ke pernaungannya, jalan perumahan yang sepi
terasa sedikit mengerikan namun Kiran tetap berjalan menelusuri jalan perumahan
menuju pria tersebut. Kiran berhenti sejenak di sebuah gang, berpikir sejenak,
membelokkan kepalanya, memundurkan langkah kakinya, dan menghitung jumlah gang
yang telah ia lewati. Kiran merasa sepertinya gang yang akan ia masuki berbeda
bentuknya seperti biasanya ia datang ke rumah pria tersebut. Ya,
Kiran memang sudah sering mengunjungi rumah
pria tersebut bahkan sampai menginap di rumahnya. Kiran tetap melanjutkan
jalannya memasuki gang tersebut dengan asumsi dalam pikirannya bahwa banyak
jalan menuju Roma, pasti jalan yang ia lalui ini akan membawanya pula menuju
rumah pria tersebut. Semakin Kiran berjalan ke dalam gang tersebut sinar-sinar
terang dari lampu-lampu jalan yang menemani Kiran semakin hilang. Hormon ardenalin Kiran tiba-tiba meninggi,
ketakutan mulai menghampirinya, terpikir olehnya untuk mengirimkan pesan
singkat ke pada pria tersebut namun Kiran tidak melakukannya karena ia tidak
ingin membuat pria itu khawatir dengan dirinya. Tak dipungkiri dalam hati Kiran
kini hanya berharap tiba-tiba pria tersebut datang dan menjemputnya di sini.
Kepala menunduk, mata menatap jalan dengan tajam, Kira terus berjalan.
Tiba-tiba terdengar olehnya bunyi motor, Kiran segera menaikkan kepalanya
berharap pengendara motor itu adalah pria tersebut. Suara motor semakin
mendekat, sesosok pria berbadan cukup besar, tidak memiliki rambut, menghampiri
Kiran, Kiran terkaget.
“Mau
kemana neng? Sini akang anterin.”
Kiran tidak mengenal pria tersebut. Ia terus
berjalan menelusuri jalan dengan langkah yang mulai dipercepat tanpa
menghiraukan perkataan pria itu. Langkah Kiran terhenti. Oh tidak, ternyata
jalan itu buntu. Kiran semakin bingung, yang saat ini ada dipikirannya adalah
keluar dari jalan itu dan segera bertemu dengan pria yang memiliki posisi
penting di hatinya tersebut. Kiran mendengar suara motor itu kembali. Pesan dan
menelepon, ya hanya itu yang dapat ia lakukan.
“Mas,
aku tersesat. Bagaimana ini? Malah ada orang tak dikenal menghampiri tadi.
Takut. :’( “
Tak
beberapa lama balasan dari pria itu sampai di handphone Kiran.
“Kamu
di mana dhek?”
“Aku
tak tau di mana Mas.”
Handphone Kiran tiba-tiba berdering, pria tersebut meneleponnya.
“Kamu
di mana dhek? Coba gambarin lokasi kamu sekarang dhek.”
“Aku
gak tau Mas. Ada pohon pisang, terus jalannya buntu.”
“Coba
kamu putar arah dhek.”
“Takut.
Nanti orang itu datang lagi.”
“Tenang,
bilang aja pacarnya Philip pasti dia takut. Ha.ha.ha.”
Perkataan pria tersebut menghibur jiwa Kiran
yang sedang takut. Kiran menjadi tertawa mendengarnya.
“Aku
jemput ke sana ya.”
Kiran pun berbalik arah dan kembali menuju
gang awal ia masuk. Sewaktu ia hampir selangkah lagi menuju gang tersebut
tiba-tiba sebuah motor menghampirinya, dengan seorang pria berambut hitam lurus
pendek tertata rapih, berbaju kaos berwarna biru,
“Hey.”
Sapa pria di atas motor tersebut.
Kepala Kiran segera mendonga ke arah pria
tersebut. Melihat siapa yang datang menghampirinya rasa cemasnya Kiran hilang
seketika berganti dengan senang dan matanya yang kering mulai sedikit berair.
Ya, pria yang berada di atas motor tersebut adalah Philip.
“Ayo
naik.” Pinta pria tersebut.
Kiran pun naik ke atas motor tersebut, dan
berlajulah motor itu. Dalam perjalanan perkataan Philip memecah keheningan.
“Hayo
bandelkan, disuruh nunggu tak mau menunggu.”
“He.he.he.
Takut merepotkan.”
“Haduh,
kamu ya sama pacar sendiri masa merepotkan. Itu memang sudah tugas ku sebagai
pacar mu.”
Kiran hanya tersenyum malu mendengar perkataan
pria itu. Perjalanan berlalu dengan cepat tanpa mereka sadari mereka telah
berada di parkiran bawah apartmen. Philip memang tinggal di apartmen yang
menjulang tinggi dan menyebut apartmen tersebut sebagai rumahnya. Ia tinggal
bersama ke dua orang tuanya sedangkan kakaknya berada di pulau yang berbeda
dengan tempat ia tinggal sekarang.
“Ayo
kita naik.” Ajak Philip ke pada Kiran.
Sesampainya di depan apartmen Philip, Kiran
sedikit engan untuk menginjakkan kaki ke dalam meskipun ia telah sering datang
ke sana, oleh karena itu Kiran membuka sepatunya dengan sedikit lama.
“Ayo
masuk.” Pinta Philip yang terlebih dahulu telah masuk ke dalam.
Sudah cukup banyak orang datang berada di
rumah Philip, makanan kecil pun telah di hidangkan, bersama beberapa minuman
rasa manis. Rasa enggan Kiran mulai surut karena beberapa teman yang ia kenal
mulai menyapa dan mengajaknya berbicara demikian pula ke dua orang tua Philip
yang berada di dalam menyambut Kiran. Acara yang berlangsung di sana tidak
hanya acara makan-makan tetapi mereka juga melakukan games dan tak jarang
disetiap kegiatan Philip mencuri pandangan Kiran. Bulan semakin menampakan
sinarnya, mereka yang datang pun mulai berpamitan pulang demikian pula Kiran
bersiap-siap untuk pulang.
“Kiran
menginap saja.” Ajak ibu Philip.
Kiran yang sedang bersiap-siap untuk pulang
tersentak kaget dan terpikir dalam benaknya ketidaknyamanan karena rasa
canggung yang mungkin akan ia rasakan dalam dirinya.
“Hm..tidak
usah taku merepotkan.” Dengan senyuman terpancar dari bibirnya.
Namun Philip dan Ayahnya juga memintanya untuk
menginap sehingga Kiran tidak dapat berbuat apa-apa dan ia pun merelakan diri
untuk melepaskan kembali sepatu yang telah ia kenakan. Malam pun larut,
orang-orang di rumah itu mulai tidur demikian pula dengan Kiran yang cukup
lelah dengan harinya. Dalam lelapnya malam dan pulasnya tidur Kiran merasakan
sesuatu yang aneh namun ia tak tahu itu apa, mata Kiran mencoba terbuka untuk
mengetahui apa yang aneh sesaat ia membuka mata ia melihat sosok pria di
depannya, tersentak Kiran kaget namun dengan tubuh yang masih lelah sehingga ia
hanya memberikan sedikit respon kaget.
“Hey,
Mas. Belum tidur?” Tanya Kiran kepada Philip. Pria itu duduk di samping ranjang
Kiran tidur.
“Ssstttt...”
Pinta Philip untuk tidak terlalu keras berbicara dan ia hanya menggelengkan
kepalanya menjawab pertannyaan Kiran.
“Oh,
kenapa? Tidak bisa tidur?” Tanya Kiran.
Tanpa menjawab pertanyaan Kiran tersebut
Philip mencium kening Kiran dan tanpa Kiran sadari ia bibirnya mengulaskan
senyuman lebar.
“Sudah
bobo lagi. Mas mau ke kamar ya.”
Kata
pria tersebut sambil mengangkat selimut yang sedang Kiran kenakan ke atas dada
Kiran, lalu mengulas kepala Kiran dan melangkahkan kaki menuju pintu ke luar
kamar tempat Kiran beristirahat sambil melambaikan tangan dan hilang dari balik
pintu kamar yang mulai tertutup.
Sang Surya kembali bekerja memancarkan
terangnya yang bercahaya hangat, burung-burung dengan riang menyambut bersama
tiupan angin sejuk udara pagi. Suara kesibukan di dapur mulai terdengar dan
Kiran pun terbangun dari mimpinya yang indah. Kiran menghampiri ibu Philip yang
sedang sibuk dengan pekerjaan di dapurnya.
“Ada
yang bisa saya bantu ibu?”
“Eh
Kiran sudah bangun. Tidak perlu. Sudah siap-siap sana, hari ini kamu kuliah
bukan?”
Kiran baru menyadari bahwa hari ini bukan hari
libur dan kesibukakan kuliahnya akan tetap berjalan seperti biasanya. Tanpa
disadarinya pemikirannya tentang kelelahan yang akan ia dapatkan hari ini
membuatnya menghela napas panjang. Ibu Philip yang melihatnya hanya tersenyum
dan berkata.
“Mau
sarapan atau mandi dulu?”
“Sepertinya
mandi dulu ibu.”
“Ya
sudah ini handuknya.” Ibu Philip memberinya handuk berwarna putih bersih ke
pada Kiran dari dalam lemari besar.
“Kiran
ingin makan apa?” Tanya ibu Philip ke pada Kiran yang telah selesai mandi dan
membereskan barang-barangnya.
“Hm,
sepertinya ceplok telur saja bu.”
“Oh,
ya sudah telurnya ada di dalam kulkas ya.”
Kiran segera mengambil sebuah telur dari dalam
kulkas, mempersiapkan penggorengan, dan menaruh sedikit minyak di dalamnya.
“Sepertinya
minyaknya terlalu sedikit Kiran.”
“Hm
tidak terlalu suka banyak minyak ibu.”
Kiran mulai mengoreng telur tersebut dan mulai
membaliknya, tanpa ia sadari Philip dan ibunya berada di belakangnya mengamati
Kiran memasak.
“Yah.”
Kata-kata itu meluncur dari mulut Kiran tanpa disadarinya sewaktu ia melihat
telur yang di baliknya tidak membentuk telur mata sapi yang sempurna.
“Yah,
penonton kecewa.” Celetuk Philip dari belakang.
Mereka bertiga pun tertawa melihat kesalahan
Kiran dan hal ini lah yang tidak diinginkan Kiran. Ya, ia takut mempermalukan
dirinya sendiri di hadapan orang tua Philip. Tanpa Kiran sadari mukanya memerah
malu. Tanpa berharap akan di antara Kiran yang sudah bersiap-siap akan pulang
sambil mengenakan sepatu terbingung melihat Philip yang sudah bersiap
mengantarnya.
“Ayo.”
Ajak Philip ke pada Kiran yang telah selesai mengenakan sepatu.
Kiran pun berpamitan pulang ke pada ke dua
orang tua Philip dar dekat pintu keluar. Sewaktu mereka telah berada di motor
yang melaju Kiran terheran dengan arah motor yang melaju mengelilingi apartmen
tersebut sebanyak dua kali. Kiran yang bingung akhirnya bertanya kepada Philip
yang sedang mengendarai motor yang berlaju.
“Kenapa
kita mutar-mutar Mas?”
“Sengaja.”
“Loh
kok sengaja?”
“Iya,
supaya bisa berlama-lama dengan kamu.”
Kiran yang mendengar hal itu tertawa, senyuman
lebar pun keluar dari bibirnya, dan mukanya memerah malu.
Bulan-bulan berlalu masa dan musim pun
berganti. Hubungan Kiran dan Philip terlihat baik-baik saja demikian pula
dengan hubungan Kiran dengan sahabat-sahabatnya. Kiran merasa senang karena
sahabat-sahabatnya tidak pernah merasa mengeluh ke padanya karena dirinya yang
sedang berpacaran. Ya, sahabat-sahabat Kiran terkadang mengeluhkan jika ada
salah satu sahabatnya yang lebih mementingkan bersama pacarnya sampai tidak
mempedulikan sahabat-sahabatnya namun Kiran tidak pernaha mendapatkan keluhan
tersebut. Mereka masih sering bersendagurau bersama, mengerjakan tugas bersama,
makan bersama, dan berpergian ke suatu tempat bersama.
Pria itu memang tidak mengekang Kiran untuk
melakukan apa yang Kiran suakai, demikian pula dengan Kiran namun karena Philip
adalah pria pertama yang memiliki hubungan serius dengannya Kiran mungkin
terlihat begitu mengekang pria itu. Tak jarang Kiran merasa iri jika pria itu
lebih memilih bersama temannya dibandingkan dengan dirinya. Terkadang Kiran
merasa kasihan dan sedih dengan pria itu karena ia memiliki gadis yang terlalu
manja, terlalu mengekangnya, cepat marah, dan memiliki sikap yang cepat
berubah. Ia terkadang berfikir mungkin lebih baik ia putus agar pria itu
bahagia, tetapi hal itu tidak dapat ia lakukakan, hatinya masih sangat terpaut
erat dengan hati pria tersebut. Ya, ia terlalu mencintai pria itu dan ia
berharap agar pria itu juga selalu mencintainya sampai akhir hayatnya nanti,
tetapi sepertinya keinginannya tersebut tidak dapat tercapai.
Senja begitu indah, angin berhembus dengan
sejuk, mahasiswa-mahasiswi berlalu-lalang dari kampus menuju kosan, tempat
makan, tempat fotokopi, warung, warnet, dan lainnya. Tampak di sisi jalan enam
orang mahasiswi sambil bersendaugurau berjalan menuju sebuah rumah berpagar
putih besar tinggi, bercat merah muda, dengan pintu kayu berwarna coklat kecil
namun tinggi. Mereka masuk ke dalam rumah tersebut dan mengalarahkan langkah ke
ruang televisi yang berbentuk lorong panjang dengan beberapa kamar berada di
sebrang ruang televisi tersebut. Ruang itu memang terlihat sempit namun tidak
gelap karena beratapkan genteng transparan meskipun hanya di salah satu sisi
saja sehingga cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan
itu terlihat sedikit padat di sisi dekat tembok karena terdapat televisi, mesin
cuci, wastafel, rak piring berdekatan
dengan wastafel, meja kecil beratapkan
kaca, dan kulkas. Empat orang dari mahasiswi
tersebut membuka kamar-kamar yang berada di sebrang ruang televisi tersebut
sedangkan dua orang lainnya duduk di lantai ruang televisi tersebut.
“Kiran
aku pinjam piring ya?” Pinta Lia teman Kiran yang berbadan tinggi dan badan
yang cukup berisi.
“Iya
ambil saja Lia.” Kata Kiran dari balik kamarnya yang sedang meletakkan tasnya
dan mengganti bajunya dengan pakaian rumah.
Kiran sudah cukup lama pindah di
kosan tersebut karena memang sudah saatnya ia pindah ke kampus baru. Kamar
kosan barunya tersebut lebih luas dibandingkan dengan kamar kosannya dahulu
terlebih lagi di kamar kosannya sekarang ia tidak perlu keluar kamar untuk
pergi menuju kamar mandi. Kamar kosan Kiran sekarang terdapat kamar mandi di
dalamnya.
Nado, Dian, dan Chia teman satu kosan Kiran
yang pulang bersamaan dengannya tadi datang menghampiri Kiran dari kamar kosan
mereka masing-masing di mana Kiran yang telah keluar dari kamarnya dengan
membawa sebuah kantong pelastik yang berisi makan siang mereka, pada saat itu
Kiran sedang duduk menonton televisi bersama Lia dan Cinta sambil menyantap
makan siang yang telah mereka beli sebelumnya di salah satu tempat makan dekat
kampus mereka. Sendagurau terus mengalir dari bibir mereka sambil menonton dan
menyantap makan siang. Tiba-tiba sebuah deringan handphone Kiran memecahkan
sendagurau tersebut.
“Hey
dhek, hari ini sibuk?”
Raut
muka Kiran berubah seketika melihat pesan yang tertera di handphonenya tersebut, sebuah senyuman pun mengembang dari bibirnya
tanpa ia sadari.
“Hayo,
pasti dari Philip.” Celetuk Cinta
“Cie..cie..cie..”
Lia mengompori membuat muka Kiran semakin merah malu.
“Tidak
Mas. Dhek-dhek sudah tidak ada matakuliah lagi, ini baru saja pulang dari
kampus.” Balas Kiran ke pada pesan trsebut.
“Ok. Mas ke sana sekarang ya.”
Membaca pesan tersebut Kiran menjadi sangat
senang dan ledekan dari sahabat-sahabat Kiran pun semakin menjadi-jadi melihat
raut muka gembira dari muka Kiran. Sendagurau mereka pun berlanjut dari
celotehan mereka tentang tugas yang sulit, keanehan dari tingkah laku mereka
masing-masing di kampus dan kelas, bercerita tentang matakuliah yang sulit bagi
mereka masing-masing dan tak lepas pula dari celotehan tersebut ada mengenai
dosen dan teman-teman lainnya di kelas mereka atau kampus mereka. Pembicaraan
mereka begitu asik sampai-sampai waktu terlupakan oleh mereka dan Kiran lupa
bahwa pria yang penting dalam hatinya itu akan datang.
“Dhek,
Mas sudah di depan kosan kamu.” Pesan dari Philip kepada Kiran. Melihat pesan
tersebut Kiran segera terburu-buru untuk berganti pakainan dan dadanan menyambut
sang pujaan hati datang.
“Cie
sang pangeran kuda datang.” Celetuk Cinta disusul dengan celetukan Lia, Dian
dan Nado ke pada Kiran yang sedang sibuk bersiap-siap dari balik kamarnya.
Mendengar hal itu Kiran hanya dapat tertawa dan tersenyum senang. Kiran
terburu-buru menutup pintu kamarnya dan meningalkan sahabat-sahabatnya yang
masih duduk di lantai menonton sambil bersendagurau lalu berkata ke pada
mereka,
“Aku
berangkat ya.”
“Iya.”
Serempak sahabat-sahabat Kiran tersebut menjawab perkataan Kiran.
Kiran melewati pintu dan gerbang kosan
tersebut dengan cepat, lalu ia menyebrangi jalan dan menghampiri seorang pria yang
sedang menunggu sambil duduk di atas motor. Setelah menyapa pria tersebut Kiran pun pergi
bersama pria itu dengan mengendarai motor menuju sebuah taman yang penuh dengan
pohon, beberapa tanaman kecil, dan ilalang. Kiran sangat menyukai tempat itu
karena ia dapat melihat matahari yang kembali ke pernaungannya, dan menikmati
udara sore yang cukup hangat. Kiran dan Philip duduk di taman tersebut ditemani
rumput-rumput kecil dengan hembusan angin hangat menerpa tubuh mereka berdua.
Kiran sangat menikmati suasana tersebut namun
tiba-tiba suasana yang Kiran sukai tersebut berubah menjadi suasana yang suram.
Angin hangat yang berhembus dengan pelan menjadi terasa menusuk Kiran, matahari
menjadi kelam, raut muka Kiran yang gembira berubah, dan dada Kiran menjadi
terasa sangat sesak sampai-sampai sepertinya sulit baginya untuk mengambil
napas saat pria yang penting dalam hatinya tersebut tiba-tiba berkata dengan
nada serius dan hening.
“Dhek,
kita putus saja ya.” Mata Kiran mendadak menjadi penuh bulat mendengar
perkataan Philip tersebut sambil menatap muka pria itu dengan penuh tanya
terlihat dalam raut mukanya.
“Mungkin
ini yang terbaik terlebih lagi kamu harus fokus dengan kuliahmu.” Lanjut
perkataan pria tersebut seolah-olah mengetahui bahwa Kiran meminta alasan atas
keputusan pria tersebut.
“Tapi
aku bisa mengatur jadwalku dengan baik kok Mas.” Mata Kiran mulai berair sambil
mengatakan hal tersebut, dadanya terasa menjadi semakin sesak.
“Tidak.
Mas tidak mau menyusahkan kamu untuk belajar karena hubungan kita, Mas juga mau
fokus dengan pekerjaan Mas terlebih dahulu.”
“Oh,
ya sudah.” Hanya perkataan itu yang dapat keluar dari mulut Kiran mendengar
alasan ke dua dari mulut Philip tersebut bahwa hal itu juga bertujuan baik
untuk Philip.
Kiran masih merasa pria itu adalah pria yang
penting dalam hatinya, ia juga menyukainya, dan menyayanginya, ia tidak ingin
membuat pria itu sulit oleh karena itu ia memutuskan untuk menyetujui keputusan
tersebut. Air mata Kiran masih tertahan di kelopak matanya, entah mengapa air
mata itu tidak dapat mengalir saat itu. Melihat raut muka Kiran yang sangat
sedih Philip memeluk Kiran dan seketika itu juga tangisan Kiran meledak tanpa
ia dapat kendalikan.
“Maaf
aku gagal menepati janjiku. Aku tidak ingin menyakiti seorang gadis pun
terutama gadis yang ku sukai. Maaf aku gagal.”
Mendengar perkataan itu dari mulut Philip,
Kiran hanya dapat mengelengkan kepalanya sambil menangis.
Bulan berlalu demikian pula dengan tahun. Tak
terasa sudah satu tahun lebih belalu semenjak Kiran berpisah dengan Philip
namun perasaan dalam hati Kiran belum dapat berganti. Tak jarang pada saat ia
telah berpisah dengan pria tersebut ia sering melamu, entah apa yang ia
pikirkan ia pun bingung. Tempat ini yang tadinya Kiran rasa menjadi indah
meskipun tidak terlalu gaul di
bandingkan dengan tempat kelahirannya berubah menjadi kelam akibat
perpisahannya dengan pria tersebut. Pada awal-awal perpisahannya dengan pria
tersebut komunikasi yang baik masih terjalin, namun setelah pria itu mengatakan
bahwa ia menyukai gadis lain dan bertujuan untuk menikahi gadis itu komunikasi
yang baik dengan pria itu perlahan-lahan mulai sirna.
Awalnya Kiran bermaksud untuk tetap menjalin
persahabatan yang baik dengan pria itu namun sepertinya tidak dapat, jika
berkomunikasi dengan pria itu Kiran masih belum dapat menyadari bahwa dirinya
bukan lagi gadis yang spesial di hati pria itu, posisi Kiran dalam hati pria
itu telah tergantikan oleh gadis lain oleh karena itu Kiran memutuskan untuk
tidak lagi berkomunikasi dengan pria itu dan mencoba mengikhlaskan pria itu
dengan gadis lain dan Kiran yakin bahwa gadis yang pria itu sukai pasti lebih
baik dibandingkan dirinya.
Tidak mudah bagi Kiran untuk melupakan pria
itu meskipun ia sudah berusaha menjadi orang yang paling sibuk namun sasaat
apabila ia sejenak saja melamun, pikirannya segera membawanya untuk memikirkan
pria itu kembali dan air matanya pun terjatuh tanpa ia sadari. Saat-saat
seperti itu lah dukungan sahabat-sahabatnya sangat berarti baginya. Meskipun
terlihat sedikit kejam namun Kiran tahu bahwa sahabat-sahabatnya tersebut
memiliki niat baik untuk membantu Kiran keluar dari kekelaman hidupnya yang
terpuruk akibat perpisahannya dengan Philip. Jika tiba-tiba Kiran teringat
dengan pria itu sahabat-sahabatnya segera memarahinya dengan berkata,
“Kiran
jangan pikirkan pria itu terus! Dia juga tidak memikirkan mu.”
“Kiran
lupakan dia! Move one!”
“Kiran
sudah ah. Bosen kamu ngomongin pria itu terus. Move one!”
“Kiran
masih banyak ikan di laut.”
Mengingat perkataan-perkataan tersebut membuat
Kiran menjadi sedikit lega, dan memiliki semangat untuk melanjutkan
kehidupannya. Memikirkan kebaikan yang telah mereka lakukan dan ia dapatkan
Kiran sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka dan terutama ia
bersyukur ke pada Tuhan yang Maha Esa karena masih memperhatikannya sampai saat
ini dengan memberikan orang-orang baik di sekitarnya. Tidak ada kata-kata indah
yang mungkin bisa ia ucapkan mengingat itu semua.
Agar sahabat-sahabatnya tidak menjadi terlalu
dipusingkan oleh tingkah laku Kiran yang terus-menerus terlihat murung dan
melamun Kiran memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan bekerja paruh waktu
dan menyibukkan diri dengan aktifitas-aktifitas mengerjakan tugas lainnya.
Kiran membuat target-target yang tampaknya tidak mungkin dan berusaha untuk
terus hidup dengan sebaik mungkin tanpa memikirkan pria itu. Dalam hati Kiran
yang terpikirkan saat ini adalah bahwa pria itu pasti akan bahagia dengan gadis
itu dan ia harus terus melanjutkan hidupnya untuk mendapatkan target-target
yang ia buat setelah ia pisah dengan pria itu.
Saat ini matahari memancarkan sinarnya dengan
sangat hangat, angin yang dihembuskan terasa sedikit sejuk, dan suara burung
bernyanyi terdengar dari gedung tempat wisuda. Tempat wisada itu di penuhi
dengan mobil, mahasiswa-mahasiswi yang baru saja datang dengan ke dua orang tua
mereka, dan beberapa penjual makanan kecil beserta penjual rangkaian bunga di
lapangan parkirnya. Mahasiswa-mahasiswi ada yang telah mengenakan baju
kebesaran mereka yaitu toga namun ada pula mahasiswi yang masih mengenakan pakaian
kebaya sedangkan mahasiswa ada yang masih mengenakan jas dan mengenakan toga
setelah sampai di gedung wisuda tersebut. Seorang gadis bersama ke dua orang
tuanya keluar dari dalam mobil berwarna hitam besar mengenakan toga lalu
berjalan menuju gedung wisuda di sambut oleh teman-temannya yang telah terlebih
dahulu sampai di gedung tersebut.
Matahari semakin memancarkan sinar panasnya,
para wisudawan keluar dari gedung wisuda menandakan acara wisuda itu telah
selesai. Mahasiswa-mahasiswi yang telah memiliki gelar itu terlihat
berfoto-foto dengan orang tua mereka atau pun teman-teman terdekat mereka dan
juga dengan adik tingkat yang mereka kenal dan akrab. Senyuman lebar terpancar
dengan sangat lebar pada muka setiap mahasiswa-mahasiswi yang telah diwisuda
tersebut. Terlihat di dekat gedung wisuda tersebut terdapat sekumpulan
mahasiswi yang telah di wisuda berfoto-foto dengan baju kebesaran mereka.
Meraka adalah Kiran, Lia, Dian, Cinta, Nado, Manda, Shela, Chia dan Rahmi. Ya,
mereka semua adalah sahabat-sahabat sekaligus teman satu kosan dengan Kiran
sewaktu berada di tempat ini. Acara pemotretan bersama-sama pun selesai, mereka
mulai bubar untuk pulang ke asal mereka masing-masing dan meninggalkan tempat
mereka mencari ilmu ini. Pada saat berjalan ke kendaraan mereka masing-masing
Cinta yang satu arah parkiran dengan Kiran bertanya,
“Kamu
jadi meraih taget mu berikutnya Kiran?”
“Hm..
Sepertinya jadi.”
“Kapan
akan berangkat?”
“Sepertinya
bulan desember tahun ini.”
“Wi..
Keren-keren. Kalo pulang nanti bawa oleh-oleh ya dari negri sakura.”
“Hm..Sepertinya
diri ku juga sudah menjadi oleh-oleh yang paling baik Cinta. Ha.ha.ha.”
Mendengar perkataan itu Cinta hanya bisa
menyingungkan senyuman lebar dan tertawa melihat Kiran tertawa. Mereka pun
melanjutkan perjalanan menuju kendaraan mereka masing-masing dan kembali pulang
ke tempat asal mereka nan jauh di sana. Dalam perjalanan pulang Kiran terbawa
oleh pikirannya mengingat masa lalu apa saja yang telah ia lalui di tempat ini,
tempat ia mencari ilmu dan dalam pikirannya ia tetap terus bertekad untuk berusaha
meraih cita-cita, target yang telah ia buat setelah berpisah dengan pria itu,
pria yang akan selalu ada dalam hatinya dan tidak ada yang dapat mengubah
posisi pria itu dalam hatinya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar