Rabu, 23 Oktober 2013

Lost Love, Never Mind



Seorang gadis muda berumur 19 tahun mengenakan celana jeans hitam, berjaskan warna putih, bertubuh tidak terlalu tinggi, warna kulit kuning langsat, rambutnya yang tidak terlalu panjang terkuncir kuda dengan wajah lelah dan letih menghempaskan dirinya ke lantai. Ia terlihat sangat lelah setelah keluar dari laboratorium yang terletak di lantai dua. Ia menghempaskan diri ke lantai untuk duduk beristirahat dari kelelahannya dan mulai membuka jas laboratorium yang ia kenakan. Setelah ia duduk, beberapa temannya menghampiri untuk beristirahat pula. Kampus tempatnya meraih ilmu dan mendapatkan peluang untuk dapat berkerja memang tidak terlalu besar, hanya berlantai dua dengan lorong yang cukup besar berada di antara beberapa kelas.
Di sekitar lorong kelas terdapat cukup banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas dengan laptop mereka, ada pula yang hanya mengunakan fasilitas wifi di kampus untuk hal-hal lain selain dari tugas, ada yang hanya duduk beristirahat atau menunggu untuk dapat masuk ke kelas yang masih diisi oleh kelas lain, hal ini lah yang membuat lorong tersebut semakin terlihat kecil, sempit, dan padat. aKetika sedang berbincang-bincang dan bersendagurau dengan teman-temannya untuk menunggu jam matakuliah berikutnya di mulai, handphone gadis muda tersebut berbunyi, ia segera merogoh tas gembloknya yang berwarna biru kehitaman untuk mengambil handphone, dan ternyata ada sebuah pesan singkat baru saja masuk ke handphonenya dari seseorang yang menempati posisi penting di hati nya.
“Siang dhek, hari ini ada acara makan-makan di rumah ku. Kamu bisa ikut?”
Ya, gadis muda ini bernama Kiran, ia mengambil jurusan kimia di sebuah perguruan tinggi negri yang terletak di sebuah kabupaten di jawa barat. Awalnya ia tidak terlalu memedulikan perkataan orang-orang yang mengkatakan bahwa tempat yang ia tinggali sementara tersebut kurang menarik sebagai tempat gaul, dan bahkan sekarang ketika ia mengenal pria itu, ia berani untuk mengatakan bahwa tempat yang ia tinggali sementara itu adalah tempat yang indah, dan cukup gaul meskipun tak segaul tempat rumahnya berdiri.  
Kiran mulai menggerakkan jari-jarinya untuk menjawab pesan itu,

 “jam berapa Mas?”
“Sore, sekitar jam 17.00. Bisa ikut?”
“Sepertinya bisa Mas.”
“Ok, sampai nanti ya.”

Mata kuliah yang cukup menguras otaknya akhirnya selesai sore ini, raut muka yang semakin lelah terpacar. Kiran dan beberapa temannya yang searah pulang, berjalan menuju kosan menelusuri jalan keluar dari kampus dan ke kosan mereka masing-masing. Dalam perjalanan pulang mereka selalu diiringi sendaugurau, tanpa terasa jalan akhirnya memisahkan mereka ke tempat kosan. Kiran kini berjalan sendiri menuju kosan. Berharap dapat beristirahat sejenak dari kelelahannya hari ini, Kiran memutuskan untuk tertidur sejenak di tempat tidur kamar kosannya yang kecil, lebarnya hanya dapat menampung tujuh buah keramik standar dan panjangnya menampung dua belas keramik standar meskipun terlihat tidak nyaman tetapi tidak masalah bagi Kiran, ia hanya membutuhkan tempat ini untuk istirahat dari kelelahan dan kepenatan. Saat ketika ia sedang tertidur selama beberapa menit suara handphone membangunkannya.

“Dhek, sudah dimana?” Demikian tulisan yang terbaca dari pesan tersebut.
“Wah, aku masih di kosan Mas. He.he.he. Sebentar lagi sepertinya aku akan berangkat ke sana.”
“Ok. Nanti kalo sudah sampai depan perumahan kasih tau Mas ya.”
“Ok.”

          Pesan ini membuat Kiran terpakasa terbangun dari istirahatnya dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah pria yang mengisi posisi yang penting dalam hatinya tersebut.
Dalam perjalanan menuju rumah pria tersebut, pikiran Kiran mulai melayang dan ia mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan pria tersebut dari ketidaksengajaan, pria itu dululah yang mengejarnya dan bagaimana ia akhirnya setuju untuk memiliki hubungan yang lebih akrab dengan pria itu. Pria tersebut mengawali pertemanannya dengan Kiran dengan mengirim pesan dari handphone seolah-olah sudah mengenal Kiran dari dulu tetapi Kiran tidak mengenal nama itu dengan menggunakan nama yang tidak ia kenal, Kiran sebenarnya sudah kenal pria ini dari perkenalannya di tempat makan bersama saudaranya, tapi menurutnya itu hanya perkenalan biasa, sampai akhirnya mereka sering bertatap muka dan bertemu di pertemuan-pertemuan.
Pria itu kemudian sering mengirimkan pesan berupa kata-kata lucu, atau bijak ke pada Kiran, Kiran sering menanggapi pesan tersebut karena jika tidak pria tersebut pasti mengirimkan pesan terus menerus ke padanya dan bertanya jika Kiran tidak membalas pesan-pesannya. Awal pendekatan pria itu hampir tiap saat mengirimkan pesan ke padanya, menanyakan sedang apa, di mana, atau bercerita tentang keadaannya. Pria tersebut selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian Kiran, mungkin hal itulah yang membuat Kiran akhirnya menerimanya meskipun pada saat itu ia masih memiliki perasaan suka dengan seorang pria yang tak pernah ia ketahui namanya ketika ia duduk di sekolah dasar. Ya, Kiran menyukai seorang yang suka berkerja keras. Kendaraan umum yang ditumpangi Kiran membawanya hampir sampai di perumahan menuju rumah pria itu, Kiran pun bersiap-siap untuk turun dari kendaraan umum tersebut.

 “Mas, aku sudah sampai di depan perumahan.”
“Sip. Tunggu di sana ya, aku akan jemput.”
“Baik, Mas. ^^..”

Kiran menyeberangi jalan yang cukup besar untuk sampai ke depan perumahan tempatnya ia akan menunggu pria tersebut. Berhenti sejenak dan berpikir sejenak di depan puri perumahan, Kiran berpikir mungkin lebih baik jika dirinya langsung saja jalan menuju rumah pria itu tanpa menunggu pria tersebut menjemputnya. Lampu-lampu jalan mulai bersinar menerangi jalan Kiran, matahari kembali ke pernaungannya, jalan perumahan yang sepi terasa sedikit mengerikan namun Kiran tetap berjalan menelusuri jalan perumahan menuju pria tersebut. Kiran berhenti sejenak di sebuah gang, berpikir sejenak, membelokkan kepalanya, memundurkan langkah kakinya, dan menghitung jumlah gang yang telah ia lewati. Kiran merasa sepertinya gang yang akan ia masuki berbeda bentuknya seperti biasanya ia datang ke rumah pria tersebut. Ya,
Kiran memang sudah sering mengunjungi rumah pria tersebut bahkan sampai menginap di rumahnya. Kiran tetap melanjutkan jalannya memasuki gang tersebut dengan asumsi dalam pikirannya bahwa banyak jalan menuju Roma, pasti jalan yang ia lalui ini akan membawanya pula menuju rumah pria tersebut. Semakin Kiran berjalan ke dalam gang tersebut sinar-sinar terang dari lampu-lampu jalan yang menemani Kiran semakin hilang. Hormon ardenalin Kiran tiba-tiba meninggi, ketakutan mulai menghampirinya, terpikir olehnya untuk mengirimkan pesan singkat ke pada pria tersebut namun Kiran tidak melakukannya karena ia tidak ingin membuat pria itu khawatir dengan dirinya. Tak dipungkiri dalam hati Kiran kini hanya berharap tiba-tiba pria tersebut datang dan menjemputnya di sini. Kepala menunduk, mata menatap jalan dengan tajam, Kira terus berjalan. Tiba-tiba terdengar olehnya bunyi motor, Kiran segera menaikkan kepalanya berharap pengendara motor itu adalah pria tersebut. Suara motor semakin mendekat, sesosok pria berbadan cukup besar, tidak memiliki rambut, menghampiri Kiran, Kiran terkaget.

“Mau kemana neng? Sini akang anterin.”

Kiran tidak mengenal pria tersebut. Ia terus berjalan menelusuri jalan dengan langkah yang mulai dipercepat tanpa menghiraukan perkataan pria itu. Langkah Kiran terhenti. Oh tidak, ternyata jalan itu buntu. Kiran semakin bingung, yang saat ini ada dipikirannya adalah keluar dari jalan itu dan segera bertemu dengan pria yang memiliki posisi penting di hatinya tersebut. Kiran mendengar suara motor itu kembali. Pesan dan menelepon, ya hanya itu yang dapat ia lakukan.

“Mas, aku tersesat. Bagaimana ini? Malah ada orang tak dikenal menghampiri tadi. Takut. :’( “
Tak beberapa lama balasan dari pria itu sampai di handphone Kiran.
“Kamu di mana dhek?”
“Aku tak tau di mana Mas.”
Handphone Kiran tiba-tiba berdering, pria tersebut meneleponnya.
“Kamu di mana dhek? Coba gambarin lokasi kamu sekarang dhek.”
“Aku gak tau Mas. Ada pohon pisang, terus jalannya buntu.”
“Coba kamu putar arah dhek.”
“Takut. Nanti orang itu datang lagi.”
“Tenang, bilang aja pacarnya Philip pasti dia takut. Ha.ha.ha.”

Perkataan pria tersebut menghibur jiwa Kiran yang sedang takut. Kiran menjadi tertawa mendengarnya.

“Aku jemput ke sana ya.”

Kiran pun berbalik arah dan kembali menuju gang awal ia masuk. Sewaktu ia hampir selangkah lagi menuju gang tersebut tiba-tiba sebuah motor menghampirinya, dengan seorang pria berambut hitam lurus pendek tertata rapih, berbaju kaos berwarna biru,

“Hey.” Sapa pria di atas motor tersebut.

Kepala Kiran segera mendonga ke arah pria tersebut. Melihat siapa yang datang menghampirinya rasa cemasnya Kiran hilang seketika berganti dengan senang dan matanya yang kering mulai sedikit berair. Ya, pria yang berada di atas motor tersebut adalah Philip.

“Ayo naik.” Pinta pria tersebut.

Kiran pun naik ke atas motor tersebut, dan berlajulah motor itu. Dalam perjalanan perkataan Philip memecah keheningan.

“Hayo bandelkan, disuruh nunggu tak mau menunggu.”
“He.he.he. Takut merepotkan.”
“Haduh, kamu ya sama pacar sendiri masa merepotkan. Itu memang sudah tugas ku sebagai pacar mu.”

Kiran hanya tersenyum malu mendengar perkataan pria itu. Perjalanan berlalu dengan cepat tanpa mereka sadari mereka telah berada di parkiran bawah apartmen. Philip memang tinggal di apartmen yang menjulang tinggi dan menyebut apartmen tersebut sebagai rumahnya. Ia tinggal bersama ke dua orang tuanya sedangkan kakaknya berada di pulau yang berbeda dengan tempat ia tinggal sekarang.

“Ayo kita naik.” Ajak Philip ke pada Kiran.

Sesampainya di depan apartmen Philip, Kiran sedikit engan untuk menginjakkan kaki ke dalam meskipun ia telah sering datang ke sana, oleh karena itu Kiran membuka sepatunya dengan sedikit lama.

“Ayo masuk.” Pinta Philip yang terlebih dahulu telah masuk ke dalam.

Sudah cukup banyak orang datang berada di rumah Philip, makanan kecil pun telah di hidangkan, bersama beberapa minuman rasa manis. Rasa enggan Kiran mulai surut karena beberapa teman yang ia kenal mulai menyapa dan mengajaknya berbicara demikian pula ke dua orang tua Philip yang berada di dalam menyambut Kiran. Acara yang berlangsung di sana tidak hanya acara makan-makan tetapi mereka juga melakukan games dan tak jarang disetiap kegiatan Philip mencuri pandangan Kiran. Bulan semakin menampakan sinarnya, mereka yang datang pun mulai berpamitan pulang demikian pula Kiran bersiap-siap untuk pulang.

“Kiran menginap saja.” Ajak ibu Philip.

Kiran yang sedang bersiap-siap untuk pulang tersentak kaget dan terpikir dalam benaknya ketidaknyamanan karena rasa canggung yang mungkin akan ia rasakan dalam dirinya.

“Hm..tidak usah taku merepotkan.” Dengan senyuman terpancar dari bibirnya.

Namun Philip dan Ayahnya juga memintanya untuk menginap sehingga Kiran tidak dapat berbuat apa-apa dan ia pun merelakan diri untuk melepaskan kembali sepatu yang telah ia kenakan. Malam pun larut, orang-orang di rumah itu mulai tidur demikian pula dengan Kiran yang cukup lelah dengan harinya. Dalam lelapnya malam dan pulasnya tidur Kiran merasakan sesuatu yang aneh namun ia tak tahu itu apa, mata Kiran mencoba terbuka untuk mengetahui apa yang aneh sesaat ia membuka mata ia melihat sosok pria di depannya, tersentak Kiran kaget namun dengan tubuh yang masih lelah sehingga ia hanya memberikan sedikit respon kaget.

“Hey, Mas. Belum tidur?” Tanya Kiran kepada Philip. Pria itu duduk di samping ranjang Kiran tidur.
“Ssstttt...” Pinta Philip untuk tidak terlalu keras berbicara dan ia hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertannyaan Kiran.
“Oh, kenapa? Tidak bisa tidur?” Tanya Kiran.

Tanpa menjawab pertanyaan Kiran tersebut Philip mencium kening Kiran dan tanpa Kiran sadari ia bibirnya mengulaskan senyuman lebar.

“Sudah bobo lagi. Mas mau ke kamar ya.”  

         Kata pria tersebut sambil mengangkat selimut yang sedang Kiran kenakan ke atas dada Kiran, lalu mengulas kepala Kiran dan melangkahkan kaki menuju pintu ke luar kamar tempat Kiran beristirahat sambil melambaikan tangan dan hilang dari balik pintu kamar yang mulai tertutup.
Sang Surya kembali bekerja memancarkan terangnya yang bercahaya hangat, burung-burung dengan riang menyambut bersama tiupan angin sejuk udara pagi. Suara kesibukan di dapur mulai terdengar dan Kiran pun terbangun dari mimpinya yang indah. Kiran menghampiri ibu Philip yang sedang sibuk dengan pekerjaan di dapurnya.

“Ada yang bisa saya bantu ibu?”
“Eh Kiran sudah bangun. Tidak perlu. Sudah siap-siap sana, hari ini kamu kuliah bukan?”

Kiran baru menyadari bahwa hari ini bukan hari libur dan kesibukakan kuliahnya akan tetap berjalan seperti biasanya. Tanpa disadarinya pemikirannya tentang kelelahan yang akan ia dapatkan hari ini membuatnya menghela napas panjang. Ibu Philip yang melihatnya hanya tersenyum dan berkata.

“Mau sarapan atau mandi dulu?”
“Sepertinya mandi dulu ibu.”
“Ya sudah ini handuknya.” Ibu Philip memberinya handuk berwarna putih bersih ke pada Kiran dari dalam lemari besar.
“Kiran ingin makan apa?” Tanya ibu Philip ke pada Kiran yang telah selesai mandi dan membereskan barang-barangnya.
“Hm, sepertinya ceplok telur saja bu.”
“Oh, ya sudah telurnya ada di dalam kulkas ya.”

Kiran segera mengambil sebuah telur dari dalam kulkas, mempersiapkan penggorengan, dan menaruh sedikit minyak di dalamnya.

“Sepertinya minyaknya terlalu sedikit Kiran.”
“Hm tidak terlalu suka banyak minyak ibu.”

Kiran mulai mengoreng telur tersebut dan mulai membaliknya, tanpa ia sadari Philip dan ibunya berada di belakangnya mengamati Kiran memasak.

“Yah.” Kata-kata itu meluncur dari mulut Kiran tanpa disadarinya sewaktu ia melihat telur yang di baliknya tidak membentuk telur mata sapi yang sempurna.
“Yah, penonton kecewa.” Celetuk Philip dari belakang.

Mereka bertiga pun tertawa melihat kesalahan Kiran dan hal ini lah yang tidak diinginkan Kiran. Ya, ia takut mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang tua Philip. Tanpa Kiran sadari mukanya memerah malu. Tanpa berharap akan di antara Kiran yang sudah bersiap-siap akan pulang sambil mengenakan sepatu terbingung melihat Philip yang sudah bersiap mengantarnya.

“Ayo.” Ajak Philip ke pada Kiran yang telah selesai mengenakan sepatu.

Kiran pun berpamitan pulang ke pada ke dua orang tua Philip dar dekat pintu keluar. Sewaktu mereka telah berada di motor yang melaju Kiran terheran dengan arah motor yang melaju mengelilingi apartmen tersebut sebanyak dua kali. Kiran yang bingung akhirnya bertanya kepada Philip yang sedang mengendarai motor yang berlaju.

“Kenapa kita mutar-mutar Mas?”
“Sengaja.”
“Loh kok  sengaja?”
“Iya, supaya bisa berlama-lama dengan kamu.”

Kiran yang mendengar hal itu tertawa, senyuman lebar pun keluar dari bibirnya, dan mukanya memerah malu.

Bulan-bulan berlalu masa dan musim pun berganti. Hubungan Kiran dan Philip terlihat baik-baik saja demikian pula dengan hubungan Kiran dengan sahabat-sahabatnya. Kiran merasa senang karena sahabat-sahabatnya tidak pernah merasa mengeluh ke padanya karena dirinya yang sedang berpacaran. Ya, sahabat-sahabat Kiran terkadang mengeluhkan jika ada salah satu sahabatnya yang lebih mementingkan bersama pacarnya sampai tidak mempedulikan sahabat-sahabatnya namun Kiran tidak pernaha mendapatkan keluhan tersebut. Mereka masih sering bersendagurau bersama, mengerjakan tugas bersama, makan bersama, dan berpergian ke suatu tempat bersama.
Pria itu memang tidak mengekang Kiran untuk melakukan apa yang Kiran suakai, demikian pula dengan Kiran namun karena Philip adalah pria pertama yang memiliki hubungan serius dengannya Kiran mungkin terlihat begitu mengekang pria itu. Tak jarang Kiran merasa iri jika pria itu lebih memilih bersama temannya dibandingkan dengan dirinya. Terkadang Kiran merasa kasihan dan sedih dengan pria itu karena ia memiliki gadis yang terlalu manja, terlalu mengekangnya, cepat marah, dan memiliki sikap yang cepat berubah. Ia terkadang berfikir mungkin lebih baik ia putus agar pria itu bahagia, tetapi hal itu tidak dapat ia lakukakan, hatinya masih sangat terpaut erat dengan hati pria tersebut. Ya, ia terlalu mencintai pria itu dan ia berharap agar pria itu juga selalu mencintainya sampai akhir hayatnya nanti, tetapi sepertinya keinginannya tersebut tidak dapat tercapai.
Senja begitu indah, angin berhembus dengan sejuk, mahasiswa-mahasiswi berlalu-lalang dari kampus menuju kosan, tempat makan, tempat fotokopi, warung, warnet, dan lainnya. Tampak di sisi jalan enam orang mahasiswi sambil bersendaugurau berjalan menuju sebuah rumah berpagar putih besar tinggi, bercat merah muda, dengan pintu kayu berwarna coklat kecil namun tinggi. Mereka masuk ke dalam rumah tersebut dan mengalarahkan langkah ke ruang televisi yang berbentuk lorong panjang dengan beberapa kamar berada di sebrang ruang televisi tersebut. Ruang itu memang terlihat sempit namun tidak gelap karena beratapkan genteng transparan meskipun hanya di salah satu sisi saja sehingga cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan itu terlihat sedikit padat di sisi dekat tembok karena terdapat televisi, mesin cuci, wastafel, rak piring berdekatan dengan wastafel, meja kecil beratapkan kaca, dan kulkas. Empat orang  dari mahasiswi tersebut membuka kamar-kamar yang berada di sebrang ruang televisi tersebut sedangkan dua orang lainnya duduk di lantai ruang televisi tersebut.

“Kiran aku pinjam piring ya?” Pinta Lia teman Kiran yang berbadan tinggi dan badan yang cukup berisi.
“Iya ambil saja Lia.” Kata Kiran dari balik kamarnya yang sedang meletakkan tasnya dan mengganti bajunya dengan pakaian rumah. 

          Kiran sudah cukup lama pindah di kosan tersebut karena memang sudah saatnya ia pindah ke kampus baru. Kamar kosan barunya tersebut lebih luas dibandingkan dengan kamar kosannya dahulu terlebih lagi di kamar kosannya sekarang ia tidak perlu keluar kamar untuk pergi menuju kamar mandi. Kamar kosan Kiran sekarang terdapat kamar mandi di dalamnya.
Nado, Dian, dan Chia teman satu kosan Kiran yang pulang bersamaan dengannya tadi datang menghampiri Kiran dari kamar kosan mereka masing-masing di mana Kiran yang telah keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah kantong pelastik yang berisi makan siang mereka, pada saat itu Kiran sedang duduk menonton televisi bersama Lia dan Cinta sambil menyantap makan siang yang telah mereka beli sebelumnya di salah satu tempat makan dekat kampus mereka. Sendagurau terus mengalir dari bibir mereka sambil menonton dan menyantap makan siang. Tiba-tiba sebuah deringan handphone  Kiran memecahkan sendagurau tersebut.

“Hey dhek, hari ini sibuk?”

       Raut muka Kiran berubah seketika melihat pesan yang tertera di handphonenya tersebut, sebuah senyuman pun mengembang dari bibirnya tanpa ia sadari.

“Hayo, pasti dari Philip.” Celetuk Cinta
“Cie..cie..cie..” Lia mengompori membuat muka Kiran semakin merah malu.
“Tidak Mas. Dhek-dhek sudah tidak ada matakuliah lagi, ini baru saja pulang dari kampus.” Balas Kiran ke pada pesan trsebut.
 “Ok. Mas ke sana sekarang ya.”

Membaca pesan tersebut Kiran menjadi sangat senang dan ledekan dari sahabat-sahabat Kiran pun semakin menjadi-jadi melihat raut muka gembira dari muka Kiran. Sendagurau mereka pun berlanjut dari celotehan mereka tentang tugas yang sulit, keanehan dari tingkah laku mereka masing-masing di kampus dan kelas, bercerita tentang matakuliah yang sulit bagi mereka masing-masing dan tak lepas pula dari celotehan tersebut ada mengenai dosen dan teman-teman lainnya di kelas mereka atau kampus mereka. Pembicaraan mereka begitu asik sampai-sampai waktu terlupakan oleh mereka dan Kiran lupa bahwa pria yang penting dalam hatinya itu akan datang.

“Dhek, Mas sudah di depan kosan kamu.” Pesan dari Philip kepada Kiran. Melihat pesan tersebut Kiran segera terburu-buru untuk berganti pakainan dan dadanan menyambut sang pujaan hati datang.
“Cie sang pangeran kuda datang.” Celetuk Cinta disusul dengan celetukan Lia, Dian dan Nado ke pada Kiran yang sedang sibuk bersiap-siap dari balik kamarnya. Mendengar hal itu Kiran hanya dapat tertawa dan tersenyum senang. Kiran terburu-buru menutup pintu kamarnya dan meningalkan sahabat-sahabatnya yang masih duduk di lantai menonton sambil bersendagurau lalu berkata ke pada mereka,
“Aku berangkat ya.”
“Iya.” Serempak sahabat-sahabat Kiran tersebut menjawab perkataan Kiran.

Kiran melewati pintu dan gerbang kosan tersebut dengan cepat, lalu ia menyebrangi jalan dan menghampiri seorang pria yang sedang menunggu sambil duduk di atas motor.  Setelah menyapa pria tersebut Kiran pun pergi bersama pria itu dengan mengendarai motor menuju sebuah taman yang penuh dengan pohon, beberapa tanaman kecil, dan ilalang. Kiran sangat menyukai tempat itu karena ia dapat melihat matahari yang kembali ke pernaungannya, dan menikmati udara sore yang cukup hangat. Kiran dan Philip duduk di taman tersebut ditemani rumput-rumput kecil dengan hembusan angin hangat menerpa tubuh mereka berdua.
Kiran sangat menikmati suasana tersebut namun tiba-tiba suasana yang Kiran sukai tersebut berubah menjadi suasana yang suram. Angin hangat yang berhembus dengan pelan menjadi terasa menusuk Kiran, matahari menjadi kelam, raut muka Kiran yang gembira berubah, dan dada Kiran menjadi terasa sangat sesak sampai-sampai sepertinya sulit baginya untuk mengambil napas saat pria yang penting dalam hatinya tersebut tiba-tiba berkata dengan nada serius dan hening.

“Dhek, kita putus saja ya.” Mata Kiran mendadak menjadi penuh bulat mendengar perkataan Philip tersebut sambil menatap muka pria itu dengan penuh tanya terlihat dalam raut mukanya.
“Mungkin ini yang terbaik terlebih lagi kamu harus fokus dengan kuliahmu.” Lanjut perkataan pria tersebut seolah-olah mengetahui bahwa Kiran meminta alasan atas keputusan pria tersebut.
“Tapi aku bisa mengatur jadwalku dengan baik kok Mas.” Mata Kiran mulai berair sambil mengatakan hal tersebut, dadanya terasa menjadi semakin sesak.
“Tidak. Mas tidak mau menyusahkan kamu untuk belajar karena hubungan kita, Mas juga mau fokus dengan pekerjaan Mas terlebih dahulu.”
“Oh, ya sudah.” Hanya perkataan itu yang dapat keluar dari mulut Kiran mendengar alasan ke dua dari mulut Philip tersebut bahwa hal itu juga bertujuan baik untuk Philip.

Kiran masih merasa pria itu adalah pria yang penting dalam hatinya, ia juga menyukainya, dan menyayanginya, ia tidak ingin membuat pria itu sulit oleh karena itu ia memutuskan untuk menyetujui keputusan tersebut. Air mata Kiran masih tertahan di kelopak matanya, entah mengapa air mata itu tidak dapat mengalir saat itu. Melihat raut muka Kiran yang sangat sedih Philip memeluk Kiran dan seketika itu juga tangisan Kiran meledak tanpa ia dapat kendalikan.

“Maaf aku gagal menepati janjiku. Aku tidak ingin menyakiti seorang gadis pun terutama gadis yang ku sukai. Maaf aku gagal.”

Mendengar perkataan itu dari mulut Philip, Kiran hanya dapat mengelengkan kepalanya sambil menangis.

Bulan berlalu demikian pula dengan tahun. Tak terasa sudah satu tahun lebih belalu semenjak Kiran berpisah dengan Philip namun perasaan dalam hati Kiran belum dapat berganti. Tak jarang pada saat ia telah berpisah dengan pria tersebut ia sering melamu, entah apa yang ia pikirkan ia pun bingung. Tempat ini yang tadinya Kiran rasa menjadi indah meskipun tidak terlalu gaul di bandingkan dengan tempat kelahirannya berubah menjadi kelam akibat perpisahannya dengan pria tersebut. Pada awal-awal perpisahannya dengan pria tersebut komunikasi yang baik masih terjalin, namun setelah pria itu mengatakan bahwa ia menyukai gadis lain dan bertujuan untuk menikahi gadis itu komunikasi yang baik dengan pria itu perlahan-lahan mulai sirna.
Awalnya Kiran bermaksud untuk tetap menjalin persahabatan yang baik dengan pria itu namun sepertinya tidak dapat, jika berkomunikasi dengan pria itu Kiran masih belum dapat menyadari bahwa dirinya bukan lagi gadis yang spesial di hati pria itu, posisi Kiran dalam hati pria itu telah tergantikan oleh gadis lain oleh karena itu Kiran memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengan pria itu dan mencoba mengikhlaskan pria itu dengan gadis lain dan Kiran yakin bahwa gadis yang pria itu sukai pasti lebih baik dibandingkan dirinya.
Tidak mudah bagi Kiran untuk melupakan pria itu meskipun ia sudah berusaha menjadi orang yang paling sibuk namun sasaat apabila ia sejenak saja melamun, pikirannya segera membawanya untuk memikirkan pria itu kembali dan air matanya pun terjatuh tanpa ia sadari. Saat-saat seperti itu lah dukungan sahabat-sahabatnya sangat berarti baginya. Meskipun terlihat sedikit kejam namun Kiran tahu bahwa sahabat-sahabatnya tersebut memiliki niat baik untuk membantu Kiran keluar dari kekelaman hidupnya yang terpuruk akibat perpisahannya dengan Philip. Jika tiba-tiba Kiran teringat dengan pria itu sahabat-sahabatnya segera memarahinya dengan berkata,

“Kiran jangan pikirkan pria itu terus! Dia juga tidak memikirkan mu.”
“Kiran lupakan dia! Move one!”
“Kiran sudah ah. Bosen kamu ngomongin pria itu terus. Move one!”
“Kiran masih banyak ikan di laut.”

Mengingat perkataan-perkataan tersebut membuat Kiran menjadi sedikit lega, dan memiliki semangat untuk melanjutkan kehidupannya. Memikirkan kebaikan yang telah mereka lakukan dan ia dapatkan Kiran sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka dan terutama ia bersyukur ke pada Tuhan yang Maha Esa karena masih memperhatikannya sampai saat ini dengan memberikan orang-orang baik di sekitarnya. Tidak ada kata-kata indah yang mungkin bisa ia ucapkan mengingat itu semua.
Agar sahabat-sahabatnya tidak menjadi terlalu dipusingkan oleh tingkah laku Kiran yang terus-menerus terlihat murung dan melamun Kiran memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan bekerja paruh waktu dan menyibukkan diri dengan aktifitas-aktifitas mengerjakan tugas lainnya. Kiran membuat target-target yang tampaknya tidak mungkin dan berusaha untuk terus hidup dengan sebaik mungkin tanpa memikirkan pria itu. Dalam hati Kiran yang terpikirkan saat ini adalah bahwa pria itu pasti akan bahagia dengan gadis itu dan ia harus terus melanjutkan hidupnya untuk mendapatkan target-target yang ia buat setelah ia pisah dengan pria itu.
Saat ini matahari memancarkan sinarnya dengan sangat hangat, angin yang dihembuskan terasa sedikit sejuk, dan suara burung bernyanyi terdengar dari gedung tempat wisuda. Tempat wisada itu di penuhi dengan mobil, mahasiswa-mahasiswi yang baru saja datang dengan ke dua orang tua mereka, dan beberapa penjual makanan kecil beserta penjual rangkaian bunga di lapangan parkirnya. Mahasiswa-mahasiswi ada yang telah mengenakan baju kebesaran mereka yaitu toga namun ada pula mahasiswi yang masih mengenakan pakaian kebaya sedangkan mahasiswa ada yang masih mengenakan jas dan mengenakan toga setelah sampai di gedung wisuda tersebut. Seorang gadis bersama ke dua orang tuanya keluar dari dalam mobil berwarna hitam besar mengenakan toga lalu berjalan menuju gedung wisuda di sambut oleh teman-temannya yang telah terlebih dahulu sampai di gedung tersebut.
Matahari semakin memancarkan sinar panasnya, para wisudawan keluar dari gedung wisuda menandakan acara wisuda itu telah selesai. Mahasiswa-mahasiswi yang telah memiliki gelar itu terlihat berfoto-foto dengan orang tua mereka atau pun teman-teman terdekat mereka dan juga dengan adik tingkat yang mereka kenal dan akrab. Senyuman lebar terpancar dengan sangat lebar pada muka setiap mahasiswa-mahasiswi yang telah diwisuda tersebut. Terlihat di dekat gedung wisuda tersebut terdapat sekumpulan mahasiswi yang telah di wisuda berfoto-foto dengan baju kebesaran mereka. Meraka adalah Kiran, Lia, Dian, Cinta, Nado, Manda, Shela, Chia dan Rahmi. Ya, mereka semua adalah sahabat-sahabat sekaligus teman satu kosan dengan Kiran sewaktu berada di tempat ini. Acara pemotretan bersama-sama pun selesai, mereka mulai bubar untuk pulang ke asal mereka masing-masing dan meninggalkan tempat mereka mencari ilmu ini. Pada saat berjalan ke kendaraan mereka masing-masing Cinta yang satu arah parkiran dengan Kiran bertanya,

“Kamu jadi meraih taget mu berikutnya Kiran?”
“Hm.. Sepertinya jadi.”
“Kapan akan berangkat?”
“Sepertinya bulan desember tahun ini.”
“Wi.. Keren-keren. Kalo pulang nanti bawa oleh-oleh ya dari negri sakura.”
“Hm..Sepertinya diri ku juga sudah menjadi oleh-oleh yang paling baik Cinta. Ha.ha.ha.”

Mendengar perkataan itu Cinta hanya bisa menyingungkan senyuman lebar dan tertawa melihat Kiran tertawa. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kendaraan mereka masing-masing dan kembali pulang ke tempat asal mereka nan jauh di sana. Dalam perjalanan pulang Kiran terbawa oleh pikirannya mengingat masa lalu apa saja yang telah ia lalui di tempat ini, tempat ia mencari ilmu dan dalam pikirannya ia tetap terus bertekad untuk berusaha meraih cita-cita, target yang telah ia buat setelah berpisah dengan pria itu, pria yang akan selalu ada dalam hatinya dan tidak ada yang dapat mengubah posisi pria itu dalam hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
https://twitter.com/Sukoine