Senin, 13 Mei 2013

Not alone but feel lonely



            Sebuah rumah kecil beralaskan semen, berdindingkan batako-batako berwarna putih yang belum dicat bahkan belum dipelur, tiang-tiang penyangga dinding yang terbuat dari besi tampak terlihat coklat berkarat di sudut-sudut dinding rumah itu. Meskipun dinding-dinding itu tampak rapuh berdiri namun jiwa keluarga yang berada di dalamnya merasa hangat berada di dalam. Seorang wanita paruh baya dengan empat orang anak menempati rumah yang tampak sederhana atau mungkin kumuh bagi beberapa orang yang dikatakan kaya secara materi.
            Wanita paruh baya itu tampak mengerang dalam kepedihan jiwanya, melihat dan merasakan betapa kerasnya hidup. Ia harus menghidupi kebutuhan buah hatinya dari yang duduk di bangku sekolah menengah atas, sekolah menengah pertama, dan juga sekolah dasar. Membanting tulang sendirian, tanpa lelah mencari sesuap nasi di antara tumpukan-tumpukan pekerjaan, ia tidak memandang pekerjaan hina kah itu atau pekerjaan rendahan kah itu, yang penting baginya adalah sang buah hati dapat makan dan terus hidup.
            Anak pertama wanita itu adalah seorang perempuan. Ia adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarga kecil itu. Ia sedang duduk di bangku menengah atas atau lebih tepatnya duduk di bangku sekolah menengah kejuruan. “Semoga kelak setelah lulus dari kejuruan, anak gadis ku dapat langsung bekerja dan meringankan beban biaya sekolah adik-adiknya.” Harapan wanita paruh baya itu dalam batinnya sewaktu memasukkan anak gadisnya ke sekolah kejuruan. Anak gadis wanita itu parasnya cantik, kulitnya sawo matang, rambutnya lurus terurai panjang, tubuhnya tidak terlalu tinggi, dan ia diberinama Easy.
            Setiap pagi wanita itu sudah terlebih dahulu bangun menyiapkan makanan dan tak jarang Easy membantunya di dapur. Ke tiga anak lelakinnya yang lain memang tak sulit untuk dibangunkan dari lelap tidur mereka, namun satu hal yang paling sulit ke tiga anak lelakinya itu langsung lakukan setelah bangun, yaitu mandi dan makan. Dibutuhkan tiga sampai lima kali wanita itu menyuruh mereka mandi dan makan, baru ke tiga anak laki-lakinya itu baru mau melakukannya. Hal ini disebabkan kebiasaan mereka untuk langsung bermain burung merpati di setiap pagi.
            Terkadang Easy anak gadinya itu membantunya memasak atau mengurus adik-adiknya, meskipun sulit dan tak jarang yang sering terjadi adalah pertengkara, namun wanita itu menyadari bahwa memang dibutuhkan upaya yang sangat banyak dan tidak mudah untuk mengurus ke empat anaknya tersebut yang masih kecil dan baru beranjak remaja.
            Setelah keempat anaknya itu siap dengan tas mereka dan seragam mereka wanita paruh baya itu ditinggalkan untuk sementara oleh ank-anaknya, mereka semua akan bersekolah sedangkan dirinya membanting tulang untuk mendapatkan sesuap nasi agar anak-anaknya dapat pulang dari sekolah mereka masing-masing tanpa kelaparan.
***
            Easy, anak gadis wanita itu pun berangkat ke sekolahnya pagi-pagi agar tidak terlambat. Ia harus berjalan dengan kendaraan umum dan berjalan kaki menuju sekolahnya yang berada cukup jauh dari rumahnya. Kerap kali waktunya hanya habis di jalan dan emosinya pun terkuras di jalan akibat jalan raya yang sering macet setiap paginya akibat bertumpuknya kendaraan baik para pekerja maupun anak sekolah atau para ibu rumah tangga yang akan membeli kebutuhan hidup mereka di pasar. Kemacetan yang dialaminya terkadang berlangsung selama hampir lima menit lebih dan hal ini dapat mengancam dirinya dikuncikan dari dalam pagar oleh satpam sekolahnya oleh karena itu tak jarang  ia terpaksa berjalan kaki untuk sampai ke sekolahnya. Perjalanan yang ia tempuh dengan berjalan kaki ke sekolah akan tek terasa jauhnya dengan mendengarkan sebuah lagu dari handphonenya yang meskipun jadul dan secound namun tak masalah baginya yang penting ia dapat mendengarkan lagu yang sedikitnya dapat memberikan semangat untuk menempuh jalan yang jaraknya cukup jauh.
            Untunglah hari ini ia tidak telat sampai ke sekolahnya dan tak ada guru yang memarahinya karena telat sampai ke sekolah. Murid-murid dari berbagai kelas dan jurusan membuat suara-suara gaduh di setiap paginya, baik suara teriakan, suara tertawa, atau suara sedih karena dikerjai oleh teman, melambung dari setiap sudut sekolah, dari kelas-kelas, kantin, lapangan, lapangan parkir, maupun kamar mandi. Easy berjalan di lorong sekolah tersebut agar dapat sampai ke kelasnya yang tak lama lagi akan dimulai pelajaran. Tak lama setelah ia sampai di tempat duduknya keadaan kelas yang sebelumnya dipenuhi oleh suara gaduh pun berhenti hening karena guru yang sudah datang dan duduk di tempatnya, di samping papan tulis.
            Detik, menit, dan jam terus berlalu dan membawa murid-murid yang sedang belajar di bangku kelas mereka masing-masing ke pada jam istirahat sekolah. Langkah kaki murid-murid sekolah itu langsung bergegas menuju kantin sekolah, bahkan tak jarang guru belum keluar dari kelas, murid-murid sudah duluan keluar dari kelasnya. Sekejap ruang kelas menjadi sedikit sepi hanya beberapa anak yang berada di dalamnya sedangkan kanti dengan sekejap penuh dengan murid-murid, suasana sesak pun terasa di sana.
“Ayo kita ke kantin Easy.” Ajak seorang gadis ke pada Easy yang sedang duduk di kursi tempatnya belajar di kelas.
“Ayo.” Easy menerima ajakan teman yang sedang menunggunya sambil berdiri di samping tepat duduknya.

           Easy dan temannya berjalan bersama-sama menuju kanti sekolahnya diiringi perbincangan berbagai topik, mulai dari tentang pelajaran, guru, acara televisi, atau tingkah laku teman-teman mereka. Sesampainya di kantin Easy bertemu dengan teman-temnya yang lain dari kelas lain atau satu kelas. Easy memang pandai bergaul, teman-temannya tidak hanya dari satu kelas, namun ada pula dari kelas atau jurusan lainnya namun entah mengapa ia merasa tetap saja ada yang kurang.
            Pertemanan Easy dengan teman-teman sekolahnya memang cukup akrab, tak jarang Easy bermain ke salah satu rumah temannya atau sebaliknya, teman Easy bermain ke rumah Easy. Topik perbincangan mereka selalu ada saja, dari hal yang tidak terlalu penting bahkan sampai ke permasalahan pribadi mereka. Teman-teman Easy memang menerima keadaan materi Easy yang mungkin sedikit atau bahkan lebih rendah dari mereka, sejauh ini pertemanan mereka tidak terpandang dari segi materi. Easy senang dengan teman-temannya yang tidak pernah mempersoalkan keadaan materi Easy, meskipun demikian entah mengapa Easy masih merasa ia kesepian.
            Baik Easy maupun teman-temannya tersebut sangat terbuka, mereka tak enggan membicarakan permasalahan pribadi mereka ke pada satu sama lain, tapi menurut Easy hanya mendengarkan saja permasalahannya hal itu tidak telalu banyak membantu. Saat ia mengutarakan permasalahannya ke pada teman-temannya tersebut mereka memang mau mendengar tapi tak ada satu saran pun yang ke luar dari mulut mereka masing-masing hanya kata-kata klise yang sering mereka keluarkan, “sabar ya.” Atau “semangat.” Easy merasa bukan hanya itu yang ia butuhkan tetapi juga solusi dari permasalahannya. Berbeda dengan teman-temannya yang hanya sering memberikan kata-kata klise itu, Easy kerap kali memberikan solusi dan dorongan moril ke pada teman-temannya tersebut, maka tak jarang ia merasa teman-temannya tidak adil ke pada dirinya. “Mereka semua diberikan solusi oleh ku, namun mengapa tak ada satu pun dari kalian yang memberikan solusi ke pada diri ku.” Tak jarang Easy mengerang seperti itu dalam batinnya.
            Maka pada saat keadaan seperti ini, saat ia sedang berbincang-bincang bersama-sama, bersendaugurau bersama-sama dengan mereka, teman-temannya, Easy tetap merasa sepi. Ia merasa bahwa tertawanya hari ini bersama teman-temannya tersebut dapat dengan sekejap hilang dangan berlalunya waktu. Mereka tertawa, Easy pun ikut tertawa, dan mereka menangis, Easy pun ikut menangis, namun tak ada satu pun yang berkesan dalam hatinnya karena itu semua hanya sekedar. Tak ada respek dari teman-temannya satu pun yang membuatnya terkesan dan merasa nyaman berada di antara mereka.
***
            Bel dari sekolah yang menandakan semua jam pelajara berakhir dan para murid di sekolah itu dapat pulang pun berbunyi. Tak jarang saat akan pulang ke rumah seperti sekarang ini perasaan Easy mengatakan malas untuk pulang, mungkin menyenangkan untuk pergi dahulu ke salah satu rumah temannya dan berbicang-bincang di sana di bandingkan pulang ke rumah dan bertemu dangan adik-adiknya atau ibunya yang haya akan membuatnya emosi karena di suruh atau adik-adik yang tingkah lakunya terkadang membuatnya jengkel.

“Easy mau main ke rumah ku dulu tak?” Ajak teman Easy, Risa, yang sedang berjalan bersama dengannya ke luar bersama-sama dari pintu gerbang sekolah.

            Rumah teman Easy tersebut memang tak jauh dari rumah Easy. Mereka menaiki angkot yang sama dan turun di gang yang sama, namun berbeda arah di pertigaan dari gang tersebut.

“Bagaimana Easy kau jadi ikut ke rumah ku tak?” Teman Easy menanyakan kembali kepastian Easy untuk datang ke rumahnya saat mereka telah sampai di pertigaan jalan antara jalan menuju rumahnya dan jalan menuju rumah temannya tersebut.
“Sudah ikut aja Easy. Kan hari ini tidak ada tugas. Lagi pula untuk apa kamu di rumah.” Ajak teman Easy yang lainnya.

            Ada beberapa teman Easy yang ikut ke ruma Risa. Awalnya mereka memang hanya ke luar berdua dari gerbang sekolah namun Risa mengajak teman-temannya yang lain untuk datang ke rumahnya sehingga sekarang ada lima orang teman Easy yang ikut bersama datang ke rumah Risa. Easy berfikir kembali, tampaknya seru bermain bersama mereka sepertinya akan ada hal-hal mengasyikan atau pembicaraan seru di sana. Semakin Easy memikirkannya dan semakin seringnya teman-temannya tersebut menggodannya untuk ikut ke rumah Risa, Easy pun akhirnya memutuskan untuk ikut bersama mereka pergi ke rumah Risa.

“Ok deh boleh. Tapi tak lama ya.”
***
            Rumah Risa memang lebih indah di pandang dibandingkan dengan rumah Easy. Dinding rumahnya dimarmer, rumahnya tinggi bertingkat, halamannya cukup luas, demikian pula dengan dapur, ruang keluarga, dan kamar Risa. Risa mengajak teman-temannya tersebut untuk masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua. Sebelum akhirnya mereka menaiki tangga ke kamar Risa, Risa terlebih dahulu memanggil seorang wanita paruh baya,

“Bibi.”
“Iya non.” Jawab wanita paruh baya itu sambil menghampiri Raisa yang berada di depan tangga dan siap-siap menaikinya.
 “Tolong bawakan minum ya ke kamar Risa. Teman Risa ada enam orang nih bi.” Pinta Risa.
“Baik non.”

            Wanita paru baya tersebut langsung pergi ke dapur setelah mendapatkan perintah dari majikan kecilnya. Raisa dan ke enam temannya pun menelusuri anak-anak tangga menuju kamar Risa. Kamar Risa jauh berbeda dengan kamar Easy, tempat tidurnya yang empuk dan nyaman serta besar, kamar yang tertata rapih dengan lemari pakaian yang besar, dan sebuah alat pendingin ruangan terdapat di atas dindingnya.
            Percakapan mereka memang telah dimulai sejak mereka keluar dari gerbang sekolah sehingga sampai di kamar Raisa mereka tinggal melanjutkan percakapan mereka sebelumnya. Saat mereka sedang bersendagurau di tempat tidur Raisa yang nyaman tiba-tiba ketukan dari luar pintu kamar Raisa menghentikan sejenak suara tertawa mereka.

“Iya masuk bi.” Perintah Raisa.
“Ini non minumnya.” Wanita paruh baya tersebut membawakan tujuh buah gelas berisi sirup warna kuning yang dinggin di atas sebuah nampan dan menaruhnya di meja tempat Risa biasanya bersolek.

            Wanita paruh baya itu langsung kembali lagi ke tempatnya di dapur setelah melaksanakan tugas yang diberikan majikan kecilnya dan meninggalkan majikannya bersama dengan teman-temannya di dalam kamar. Setelah wanita paruh baya itu pergi Easy langsung memulai percakapan baru.

“Mama mu mana Raisa?” Tanya Easy.
“Mama, papa kan bekerja setiap senin sampai jumat. Jadi aku sendirian sampai hari jumat di rumah.”
“Oh.. Terus gak merasa kesepian?” Tanya Easy kembali dengan rasa penasarannya.
“Ya enggak. Makanya akau ajak kalian ke rumah, jadinya kan gak kesepian.” Jawab Risa dengan santainya.
“Oh..” Hanya itu tanggapan yang ke luar dari mulut Easy.
“Wah, enak dunk. Kamu bisa ngapain aja di rumah tanpa ada orang tua yang memarahi kamu.” Celetuk teman Easy.
“Iya. Kalo lagi bosan ya tinggal ke luar rumah. Jalan-jalan, hang out bareng kalian. Ha.ha.ha.”
“Kamu gak pernah merasa kesepian Risa?” Easy masih penasaran dengan perasaan temannya itu sebenarnya.
“Hem.. yah terkadang. Tapi kan ada kalian aku jadi gak kesepian.”
“Hu.. Gombal.” Teman-teman lainnya menyoraki Raisa.
“Ha.ha.ha.” Mereka pun tertawa bersama-sama.

            Easy masih belum mempercayai perkataan Raisa. Ia tidak yakin bahwa temannya tersebut tidak mengalami kesepian yang melebihi kesepiannya saat ini. Meskipun Easy tertawa dengan lebarnya bersama-sama dengan mereka saat ini tetap saja ia merasa ada yang kurang, tertawaan ini bukan tertawa bahagia, ini hanya tertawa sementara dan hanya sekedar. Easy merasa bahwa dirinya yang memiliki orang tua yang selalu ada di rumah dan mengurusi kebutuhannya serta adik-adiknya saja merasa kespian terlebih lagi temannya itu, Risa, tidak mungkin ia tidak mengalami kesedihan yang melebihi dari apa yang ia rasakan saat ini.
***
            Waktu membawa sang surya tengelam, menuju pernaungannya. Awan kelabu mulai datang menggantikan awan putih di langit. Easy dan ke enam temannya yang lain memutuskan  untuk kembali ke pernaungan meraka layaknya sang surya yang sudah mulai kembali ke pernanungannya. Easy menelusuri jalan ke rumahnya dan akhirnya ia sampai. Easy memasuki rumahnya melalui pintu belakang.

“Easy, kamu kok baru pulang jam segini? Habis dari mana saja?” Tanya wanita paruh baya tersebut ke pada anak gadisnya yang baru saja didapatinya pulang.
“Habis main mah dari rumah teman. Abis bosen di rumah.” Jawab Easy.
“Loh? Kok kamu malah main ke rumah teman? Seharusnya kamu bantuin mama jaga adik, bersih-bersih rumah, bukannya main ke rumah teman.”
“Bosen ah ma, bersih-bersih rumah melulu. Emang kakak gak boleh main?!”
“Bukan begitu Easy,..”

            Belum sempat wanita paruh baya tersebut melanjutkan perkataannya Easy segera memotongnya.

“Udah ah mak, Easy bosen. Easy cape nih.” Easy segera berjalan menuju kamarnya.

            Wanita paruh baya tersebut hanya dapat mengelus dadanya mendapatkan perlakuan tersebut dari anak gadisnya sendiri.
***
            Sang pemimpin malam memancarkan cahayanya bersama dengan bala tentara langit lainnya. Angim malam semilir bermain-main di dedahanan pohon. Anak-anak wanita paruh baya tersebut mulai sibuk dengan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru mereka masing-masing dari sekolah. Wanita paruh baya itu sesekali membantu anak-anaknya mengerjakan tugas-tugas sekolah mereka terutama anak laki-lakinya yang sedang duduk di bangku sekolah dasar, terkadang wanita itu tidak mengerti akan soal-soal yang diberikan oleh guru mereka di sekolahnya namun ia tetap berusaha untuk mengetahuinya dan mencari jawabannya.
            Setelah anak-anak lelakinya itu dikalahkan oleh rasa mengantuk mereka, mereka diantarkan oleh wanita paruh baya itu ke kamar mereka untuk tidur. Mereka pun terlelap dalam mimpi mereka masing-masing, sedangkan anak gadisnya masih mengerjakan tugas sekolahnya dan mempelajarinya sedikit. Waktu terus berlalu, wanita paruh baya itu terduduk santai menunggu anak gadisnya menyelesaikan pekerjaannya, akhirnya anak gadisnya itu mulai memasukkan beberapa buku yang harus dibawanya untuk sekolah besok ke tasnya.
            Wanita itu mulai mendekati anak gadisnya itu di tempat duduknya dan memilai suatu percakapan.

“Kak, maaf ya tadi mama bikin kamu marah.”
“Iya ma. Maafin aku juga ya ma tadi suaranya tinggi.”
“Iya, tak papa. Bagaimana sekolah kamu tadi nak?”
“Ya, ga gemana-gemana ma seperti biasanya aja.”
“Oh, gak ada masalah?”

            Tiba-tiba suasana hening sejenak hanya suara jangkrik yang terdengar.

“Hem, sebenarnya dari dulu aku sudah punya masalah ma dengan teman-teman ku.”
“Masalah apa?”
“Entah mengapa aku merasa sepi meskipun memiliki banyak teman di sekolah yang baik dan tidak memandang rendah aku secara materi.”
“Kok bisa?”
“Iya, mereka gak ada yang kasih solusi ke aku jika aku punya masalah ma.”
“Oh, kenapa gak kasih tau ke mama aja kalo ada masalah. Segaknya mungkin mama bisa bantuin sedikit.”
“Aku takut mama nanti malah menyalahkan aku, buat aku jadi tambah frustasi dan sedih.”
“Oh, begitu ya. Iya, mama minta maaf ya kalo mama suka berbuat begitu sama kamu selama ini.”
“Ha.ha.ha. Iya ma.”
“Memang apa saja masalah kamu selama ini Easy, tolong cerita sama mama.”

            Easy pun mulai terbuka dengan wanita paruh baya itu yang adalah orang tuanya atau lebih tepatnya ibu yang melahirkannya. Percakapan mereka mulai berkembang, dan mereka mulai terbuka satu sama lain meskipun terkadang sedikit terjadi luapan emosi di antara mereka tapi emosi itu dapat terpadamkan secara perlahan dengan salah satu mereka ada yang mau mengalah meskipun seringkali yang mengalah adalah wanita paruh baya itu.
            Malam semakin larut, rasa mengantuk mulai menghampiri ke duanya oleh karena itu mereka memutuskan untuk tidur. Baik Easy maupun wanita paruh baya itu berharap dengan kejadian malam ini mereka memiliki hubungan yang baik kembali dan terus berjalan seperti ini. Kini Easy pun mengetahui bahwa yang dapat memberikan solusi bagi masalahnya adalah ibunya sendiri yang lebih berpengalaman dibandingkan dengan dirinya dan terutama kini rasa kesepiannya mulai sirna karena ibunya telah mulai membantunya mengatasinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
https://twitter.com/Sukoine